Home Artikel Peneliti Perempuan Insists Terima Gelar Doktor ‘Cumlaude’

Peneliti Perempuan Insists Terima Gelar Doktor ‘Cumlaude’

33
0

Peneliti Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS), Dinar Dewi Kania menerima gelar Doktor pertamanya dari Universitas Ibnu Khaldun (UIKA), Bogor, setelah selesai melakukan sidang promosi Selasa lalu (30/10/2012).

Dengan mengambil disertasi berjudul “Studi Komparatif Epistemologi Frithjof Schuon dan Syed Muhammad Naquib al-Attas”, wanita penyuka fotografi ini berhasil mempertahankan disertasinya dan lulus dengan predikat cum laude.

Bertindak sebagai promotor adalah Prof. Dr. Ahmad Tafsir (UIN Bandung) dan Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.Phil (ISID Gontor). Sedangkan Prof. Dr. Didin Hafidhudin (UIKA) Prof. Dr. Abuddin Nata (UIN Jakarta), dan Irfan Syauqi Beikk, M.Sc, PhD (IPB) bertindak sebagai tim penguji dengan ketua sidang Dr. Ending Baharuddin (UIKA).

Dinar sendiri termasuk yang cepat menyelesaikan studi doktoralnya, sekitar tiga setengah tahun. Menurut Dosen Trisakti ini, mahasiswa-mahasiswa program Doktoral di UIKA diberikan kesempatan menyelesaikan pendidikannya lima sampai tujuh tahun karena penelitian yang tidak main-main.

Dalam disertasinya, Dinar mengangkat permasalahan epistemologi dari tokoh-tokoh Islam baik klasik maupun kontemporer. Baginya, sangat penting membandingkan epistemologi Schuon dan al-Attas karena keduanya sama-sama mengkritik filsafat dan sains modern yang sekuler dan menawarkan paradigma alternatif untuk menjawab kerusakan ilmu tersebut.

Dr. Adian Husaini, Ketua Program Studi Pendidikan Islam, UIKA menyatakan: “Ini salah satu tahap penting peningkatan kualitas intelektual dan keilmuan. Sebab disertasi diuji secara terbuka di depan sejumlah pakar. Mudah-mudahan ini tahap awal untuk terus mengembangkan ilmu dan kepribadian, sebab umat perlu banyak sosok-sosok intelektual wanita yang punya komitmen tinggi terhadap perjuangan Islam”, ungkapnya pada hidayatullah.com, Rabu (31/10/2012).

Dinar berkeinginan, setelah kelulusannya ini, ke depan umat Islam memiliki Research Center dan mampu memproduksi jurnal ilmiah yang dikelola secara profesional serta dapat  bersaing d itingkat nasional bahkan internasional, namun tetap isinya tidak menyimpang dari worldview of Islam.* (Sarah C).

 

Leave a Reply