Home Artikel Generasi Baru

Generasi Baru

6380
0

Oleh: Mohammad Syam’un Salim

Ada sebuah ungkapan Bung Karno yang diucapkan berulang-ulang “Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”. Ungkapan Bung Karno ini mengisyaratkan sebuah keyakinan besar, bahwa kemajuan, kesejahteraan dan kebahagiaan sebuah negara (bahkan mungkin peradaban) ada dalam diri pemudanya: para generasi baru.

Bukti sahihnya, kita bisa lihat bersama-sama. Ada nama Zaid bin Tsabit; sahabat nabi yang diusia masih amat muda sudah dipercaya sebagai penulis al-Qur’an oleh Rasulullah Saw. Atau nama Muhammad al-Fatih, yang mampu menggerakkan dan menaklukkan Konstantinopel di usia yang amat muda. di Indonesia, kita mengenal Kyai Imam Zarkasyi; yang di usia belianya mampu merumuskan pendidikan pesantren KMI “Kulliyatul mu’allimin al-Islamiah” di Gontor, hingga melahirkan banyak tokoh bangsa, dst.

Namun rumusan dari pemuda yang sepertia apa? perlu untuk dijabarkan secara terang benderang. Jawabannya mungkin bisa didapat dari konsepsi Iqbal soal “Jail Jadid” generasi baru. Iqbal merumuskan sebuah kategorisasi yang menarik untuk diperhatikan, atau barangkali patut untuk kita jadikan bahan renungan bersama. jail jadid adalah sebuah konsepsi Iqbal akan generasi yang ideal dalam rangka bangun peradaban Islam. generasi unggulan yang kokoh. bagaimana generasi baru terlahir. apa saja karakteristiknya.

Jail Jadid atau generasi baru menurut Iqbal diawali dan ditandai oleh karakter yang “mu’minuna billah” keberimanan yang kokoh kepada Allah; dalam bahasa Pancasila dikenal dengan ketuhanan Yang Maha Esa. Ciri pertama ini merupakan basis dari ketiga ciri yang lain setelahnya. tanpa keberimanan; berketuhanan, ciri yang lain hanya akan berjalan tanpa makna dan nilai. tidak ada pakem. Semua bebas arah. tidak ada tujuan. Karena tidak ada arah, maka kepentingan pribadi ataupun kelompok menjadi yang utama.

Thomas F Wall dalam “Thinking Critically about Philosophical Problem” misalnya mengisyaratkan bahwa Tuhan punya tempat paling puncak untuk menopang konsepsi lain. Ini berarti, konsepsi juga keberimanan kepada Tuhan punya nilai yang universal. ia menjadi basis; ada konsekuensi. Istilah serupa disebut oleh Imre Lakatos sebagai metaphysical belief. Bahwa kepercayaan metafisik merupakan basis “hard core” dari paradigma yang lahir setelahnya.

Barangkali, generasi-generasi yang tidak memiliki—dalam bahasa Lakatos—hard core (berupa kepercayaan metafisik) akan mudah terombang-ambing oleh ombak zaman. Hidup menjadi nir tujuan, mudah tergoda oleh viralitas (akal sekumpul); tanpa prinsip dan idealisme yang jelas. Hidup hanya berputar pada satu syahwat kepada syahwat yang lain.

Selain itu, keberimanan ini punya efek bola salju yang menggelinding. Dalam tradisi Islam hal ini dilanjutkan dengan kepercayaan terhadap Nabi, dan lebih dari itu percaya akan hal-hal yang metafisik atau di luar yang tampak oleh indera. Ini yang oleh para sufi dijelaskan lewat tanazzul: kemenurunan wujud. Kepercayaan terhadap alam indrawi adalah hasil dari, kepercayaan terhadap wujud Tuhan terlebih dahulu; baik asma’ dan sifatNya, berikut utusan juga kitab-kitabnya.

Keyakinan ini penting untuk disadari. sebab, pembatasan apa yang riil, hendaknya melampaui spektrum indrawi. Sebagaimana yang disebut oleh Imam al-Ghazali dalam al-Munqidz min al-dhalal: bahwa pembatasan realitas pada perkara indrawi, merupakan bentuk dari pembatasan rahmat Allah yang begitu luas. Jadi pembatasaan itu pada akhirnya merupakan bentuk penghinaan, terhadap potensi manusia yang sebetulnya.

Karakteristik pertama ini tentu berefek tidak sederhana. Karena ketika bukti-bukti fisik menjadi ‘satu-satu’nya realitas yang faktual, segala macam bukti, di luar itu dianggap bohong belaka (alias tidak ilmiah dan saintifik). Akibatnya, segala fakta realitas menjadi sempit. Realitas, belum sempat diverifikasi namun sudah ditolak dulu, belum sempat diuji sudah (disebut) tidak lulus.

Ciri Kedua, Iqbal menyebutnya dengan Yusiku ‘ala nafsih. Yaitu sebuah perangai untuk senantiasa berpegang kepada kaki sendiri. Sebuah keyakinan bahwa kita semua (muslim) adalah emas, sedang yang lain adalah kerikil. Meyakini dirinya sendiri sebagai entitas unggul, ini juga penting. Sebab seringkali manusia mudah terhasut dan diperdaya karena sikap inferior; minder dengan jasad juga nilai-nilai yang dibawa bangsa lain.

Menghilangkan sikap inferior sembari berbangga pada identitas ini (lagi-lagi) juga amat penting. Karena hanya pribadi-pribadi ‘gumunan’ saja yang mudah ditipu dan diperdaya. melihat A takjub lalu mengikuti. Melihat B kagum, lalu menuduh selainnya salah; tidak sedikit pula yang menyebut menebar kebencian. Maka martabat juga prinsip itu mahal harganya. Seperti kata Dr. Don Shirley dalam film Green Book kepada Tony Lip “dignity always win“.

Ciri ketiga, I’timadu ala sahsiyatihi wa ala sahsiyati islam. ciri ketiga ini sebetulnya identik; boleh disebut pula berkelindan dengan yang kedua. tapi di sini Iqbal memberi penekanan terhadap figur apa yang perlu menjadi sumber pegangan. Figur itu adalah Islam. berpegangan kepada Islam ini sejatinya punya konsekuensi yang amat panjang.

Sebab, Islam bukan hanya dipandang sebagai agama semata. Tetapi masuk juga di dalamnya cara pandang (worldview), mekanisme berpikir, cara hidup, gaya hidup, juga peradaban. Bersandar kepada sahsiyah Islam, bermakna bersandar kepada segala macam yang dilahirkan dari rahim Islam, yang secara tradisi telah lengkap dan cukup dari awal mulanya.

Dalam tradisi filsafat Islam misalnya, ada epistemologi Islam yang memaparkan rangka bangun, juga mekanisme berpikir yang runut. Bagaimana sebuah realitas bisa dijustifikasi menjadi benar, apa neracanya, bagaimana metodologinya; ada tasawur, tasdiq, muncul dari itu ilmu husuliknowledge by presence” juga wusulirepresentasional knowledge” dst. Hal serupa bisa diketemukan di dalam tradisi fiqih juga ushul fiqh; ada mekanisme penentuan hukum yang juga canggih; ada amm-khas, ada nasikh-manshukh, dan disipin ilmu lainnya.

Di sini, Iqbal seolah ingin mengatakan bahwa, cara paling tepat untuk menangkis segala macam syubhat duniawi adalah kembali kepada tradisi Islam yang sejak awal yang telah komplit dengan segala macam perangkatnya. Di zaman yang tekenal dengan sebutan pasca kebenaran, potensi ini mestinya tidak dijadikan pilihan lagi melainkan menjadi jalan satu-satunya jalan bagi seorang muslim untuk terhindar dari ‘fitnah akhir zaman’.

Sedang yang terakhir adalah kafirun bi madatil gharbi, Ikhlas wa zuhud. Menutup diri dari pelbagai macam nilai meterialisme Barat, di saat yang bersamaan menanamkan sikap ikhlas lagi zuhud.

Ciri khas terakhir Jail Jadid dalam keranga Iqbal ini, semakin mengokohkan kembali bahwa identitas itu penting, tidak inferior kepada nilai-nilai materialisme Barat lebih penting lagi. Di lain itu generasi baru perlu mengisi relung hatinya untuk senantiasa ikhlas juga zuhud: seperti yang disabdakan oleh Nabi; tidak takut pada kematian, kemudian mengambil dunia secukupnya.

Leave a Reply