Home Artikel Pemikiran Ibn Jauzi Tentang Pendidikan Jiwa (1)

Pemikiran Ibn Jauzi Tentang Pendidikan Jiwa (1)

3729
0

Dr. Ahmad Alim (Pengasuh PP Ulil Albab, Bogor)

       A.     Pendahuluan

Victor Frankl, seorang neurolog dan psikiater Austria serta  salah satu tokoh psikologi eksistensial terkemuka, mengatakan bahwa manusia modern mengalami masalah frustrasi eksistensial  dan kehampaan eksistensial yang semakin meluas. Menurutnya, individu masyarakat modern dilanda keraguan atas makna kehidupan yang mereka jalani. Hilangya tradisi dan nilai-nilai sebagai salah satu sumber utama kemunculan frustrasi eksistensial dan kehampaan eksistensial. Akibat dari hal itu, individu melakukan kompensasi-kompensasi melalui berbagai aktivitas seperti memembenamkan diri dalam pekerjaan, berjudi, alkoholisme, obat bius,dan seks.[1]

Daniel Goleman menyebutkan, bahwa tahun-tahun terakhir millenium ini memperkenalkan “zaman kemurungan“ (age of melancholy), seperti halnya abad XXI menjadi “ abad kecemasan “  the age of anxiety). Data internasional memperlihatkan apa yang  tampaknya merupakan wabah depresi modern, wabah yang meluas seiring diterimanya gaya hidup modern di seluruh dunia.[2] Fritjof Capra berpendapat sama,  bahwa berbagai krisis tersebut, termasuk krisis spiritual (spiritual crisis), belum pernah terjadi sebelumnya dalam catatan sejarah umat manusia.[3]

Dalam konteks semacam ini, keberadaan pendidikan jiwa  menjadi penting bagi kehidupan manusia untuk mulai dilihat kembali sebagai bagian integral dari kehidupannya. Diantara pemikir besar Islam yang telah memberikan perhatian besar dalam masalah pendidikan kejiwaan ini adalah Ibn Jauzi (510-597 H), seorang ulama yang sangat produktif dan  berjasa besar dalam perkembangan  pendidikan jiwa dalam sejarah Islam. Indikatornya adalah sebagian besar karya-karyanya berbicara tentang masalah nafs, seperti Al-Tabshirah, Al-Mudhis, Al-Muntakhab, Al-Jalis Al-Shalih Al-Khafi, Al-Adzkiya’, Al-Thibb Al-Ruhani, Shifat Al-Shaffah, Bahr Al-Dumu’, Al-khis ‘Ala Talab Al-Ilm, A’mar Al-A’yan, Shaid Al-Khathir. [4]

 

B.     Konsep Manusia Menurut Ibn Jauzi

Pandangan Ibn Jauzi tentang manusia tidak beda jauh dengan pandangan para ulama  dan para filosof  yang lainnya.  Menurutnya manusia  terdiri dari dua unsur, yaitu unsur yang terdiri dari jasad dan ruh, sehingga manusia merupakan makhluk  jasadiyah dan ruhiyah sekaligus.  hubungan keduanya bagaikan hubungan antara seorang nahkoda dengan sebuah perahu, dimana nahkoda berfungsi sebagai pengatur dan pengarah tujuan  jalannya perahu, dan menenangkan arus air yang membawa perahu tersebut serta menjaganya di tengah-tengah hembusan gelombang.[5]

Realitas yang mendasari  dan prinsip yang menyatukan apa yang kemudian dikenal sebagai manusia bukanlah perubahan jasadnya, melainkan keruhaniannya. Hal itu dikarenakan manusia pada hakikatnya adalah makhluk ruhani, yang esensinya bukanlah fisiknya dan bukan pula fungsi fisik, melainkan jiwa (nafs) adalah identitas esensial manusia  yang tetap. Ibn Jauzi melihat jiwa sebagai esensi manusia,[6] berkiblat pada hadist Nabi saw yang menegaskankan bahwa:

 

 عن ابى هريرة رضى الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم  : ان الله لاينظر الى أجسامكم ولا الى صوركم ولكن ينظر الى قلوبكم (وأعمالكم)  .  رواه مسلم

 

Dari Abi Hurairah, r.a. Rasulallah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat jasad kalian, dan tidak pula bentuk kalian, akan  tetapi Allah melihat hati kalian dan amal kalian. (HR.Muslim).

 

Lebih lanjut Ibn Jauzi melihat bahwa jiwa sebagai esensi manusia terbagi dalam tiga unsur penting yang saling mempengaruhi antara satu dengan yang lainnya. Ketiga unsur tersebut adalah unsur akal (juz aqli), unsur amarah (juz ghadhabi), dan unsur hawa nafsu (juz syahwani).[7] Unsur akal memiliki dua sisi, yaitu sisi keutamaan yang berupa  ilmu, dan sisi keburukan yang berupa kebodohan. Sementara unsur amarah juga memiliki dua sisi keutamaan dan keburukan, keutamaannya adalah ketegasan, dan keburukannya adalah kepengecutan. Sedangkan unsur hawa nafsu juga memiliki dua sisi keutamaan  dan keburukan, keutamaannya adalah menjaga diri dari sesuatu yang tidak baik, sedangkan sisi keburukannya adalah tidak terkendalinya dari keinginan-keinginan syahwat.[8] Lebih jelasnya Ibn Jauzi berkata sebagai berikut:

 

واعلم أن النفس منها : جزء عقلي ، فضيلته الحكمة ، ورذيلته الجهل ، وجزء غضبي ، فضيلته الحدة ، ورذيله الجبن ، وجزء شهواني ، فضيلته العفة، ورذيلته اطلاق الهوى.

 

“Ketahuilah bahwa jiwa diantaranya ada unsur akal, keutamaanya adalah hikmah, dan keburukannya adalah kebodohan, dan unsur amarah, keutamaannya adalah pemberani, keburukannya adalah penakut, dan unsur syahwat, keutamaannya adalah ‘iffah, keburukannya adalah mengumbar  hawa nafsu.”[9]

 

Ketiga komponen jiwa tersebut  bukanlah dipandang sebagai unsur-unsur yang berdiri sendiri dalam pembentukan kepribadian. Tetapi semua itu, merupakan satu kesatuan yang utuh, yang Interaksi ketiga sistem nafsani tersebut  berjalan menurut alternative teori yang mengatakan bahwa  interaksi daya-daya jiwa (akal/nathiqah, ghadhab, syahwat) berjalan menurut   hukum harmonisasi (tanasuq) antara berbagai sistem yang berpusat pada fakultas berfikir (nafs nathiqah). Artinya , masing-masing daya jiwa memiliki potensi baik yang apabila interaksi secara harmonis maka masing-masing daya itu melahirkan keutamaan. Keutamaan ‘Fakultas Fikir’ adalah kearifan, keutamaan Fakultas Ghadhab adalah keberanian dan keutamaan ‘Fakultas Syahwat’ adalah iffah. Dengan demikian, ghadab dan syahwat bukanlah potensi yang buruk. Baik buruknya sangat tergantung interaksi yang harmonis dengan ‘Fakultas Fikir’. [10] 

Apabila dikaitkan dengan tiga daya nafsani diatas (kalbu, akal, dan hawa nafsu), maka teori ini  menunjukkan bahwa daya kalbu bukan berarti daya yang terbaik, dan daya akal serta daya hawa nafsu bukan berarti daya yang terburuk. Baik buruknya sangat tergantung dengan harmonisasi interaksinya yang berpusat pada kalbu. Keutamaan daya kalbu akan melahirkan kearifan; keutamaan daya hawa nafsu ghadhabi akan melahirkan keberanian; dan keutamaan daya nafsu syahwati akan melahirkan iffah.[11] Lebih jelasnya,  tiga daya tersebut  bisa diilustrasikan dengan gula, garam, dan bumbu penyedap dalam suatu masakan. Ketiga unsur  bumbu masak ini tidak ada yang disebut bumbu yang lezat atau tidak. Ketiganya memiliki peluang yang sama tentang lezat dan tidaknya. Lezat tidaknya masakan tergantung pada keharmonisan racikannya, yang mana antara yang satu dengan yang lain saling mendukung, dan masing-masing sesuai dengan takaran dan fungsinya.[12] 

Lebih lanjut Ibn Jauzi menolak pendapat yang mengatakan bahwa nafs  diidentikkan sebagai sumber segala keburukan, sehingga nafs  dipahami sebagai sesuatu yang  melahirkan sifat tercela,  syahwat,  makar, keangkuhan,  kesombongan, cenderung pada kelezatan, dan  memiliki sifat berat dalam melaksanakan perintah serta membenci  persoalan yang rumit.[13] Ibn Jauzi beralasan, pendapat tersebut tergolong  dalam kubu ektrim, baik ektrim ifradh maupun tafridh. Padahal  jalan tengah adalah jalan yang adil dan sebaik-baiknya jalan (afdhal al-umur ausathuha).[14]

 Sepertinya,  pendapat tengah yang diajukan oleh Ibn Jauzi  sesuai dengan teori tanasuq[15]  Ibn Miskawih, [16] yang mengambil posisi jalan tengah antara dua kutub  ekstrim, baik dari ektrim berlebihan dan ektrim kekurangan masing-masing jiwa manusia. Jiwa al-bahimiyah posisi tengahnya adalah al-iffah yaitu menjaga diri dari perbuatan dosa dan maksiat seperti zina, sementara posisi tengah jiwa  al-ghadhabiyah adalah al-syaja’ah atau perwira, yaitu keberaniaan yang diperhitungkan dengan masak untung-ruginya. Sedangkan posisi tengah dari jiwa al-nathiqah adalah al-hikmah, yaitu kebijaksanaan. Adapun perpaduan dari ketiga posisi tengah tersebut adalah keadilan atau keseimbangan.[17]

 

Tabel Jiwa dan Potensi-Potensinya Menurut Ibn Jauzi

No

Diri Manusia

Daya Baik

 (fadha’il)

Daya buruk

(Radza’il)

1

Akal

Ilmu dan hikmah

Kebodohan

2

Ghadhab

Syaja’ah yaitu Keberanian dan ketegasan

Takut dan pengecut

3

Syahwat

Al-iffah yaitu menjaga diri dari perbuatan dosa dan maksiat

menuruti hawa nafsu

 

 

C.      Makna dan Tujuan Pendidikan Jiwa

Jiwa bagi Ibn jauzi memiliki peran yang sangat penting bagi kehidupan  manusia, karena ia adalah inti dari manusia.  Oleh karenanya,  diperlukan pendidikan untuk mendidiknya menuju kesempurnaan. Menurut Ibn Jauzi, kesejahteraan hanya dimiliki bagi   orang yang jiwanya terdidik, dalam arti  terbebas dari hawa nafsu, dan kehinaannya.[18] Pendidikan tidak cukup hanya sebatas olah jasmani, akan tetapi harus diiringi dengan pendidikan ruhani. Lebih lanjut Ibn Jauzi menegaskan, pendidikan jasmani[19] akan membawa kepada kemaslahatan badan, sementara pendidikan ruhani[20] akan membawa kemaslahatan jiwa. Jiwa lebih utama dari pada raga, karena jiwa lebih dicintai oleh Allah, dan sarana untuk menggapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.[21]

Menurut Ibn Jauzi, pendidikan jiwa pada hakikatnya adalah untuk membersihkan jiwa dari segala hal yang mengotorinya, sehingga jiwa tersebut menjadi suci ( nafs thahirah ).  [22]   Lebih jelasnya Ibn Jauzi berkata :

 

..….تظهير القلب عن أخلاق المذمومة من الحرص والحقد والحسد والكبر وغير ذلك.

 

“Pendidikan jiwa bertujuan untuk membersihkan hati dari akhlak yang tercela, seperti sifat rakus, iri hati, dengki, sombong, dan penyakit hati yang lainnya.[23]

 

Kemudian untuk memperkuat pendapatnya, Ibn Jauzi berargumentasi dengan firman Allah dalam al-Quran surat Al-Syams ayat 7-10 :“Demi jiwa dan penyempurnaannya, maka Ia mengilhaminya dengan keburukan (fujur) dan kebaikan (taqwa), sungguh sangat beruntung orang yang membersihkannya, dan sangat rugi orang yang mengotorinya.”  (QS. Al-Syams: 7-10)

 

Dari  empat ayat tersebut di atas, Ibn jauzi menafsirkan bahwa jiwa memiliki potensi baik dan buruk. Ia berpotensi taqwa (baik)  jika  selalu mensucikannya dari segala hal yang mengotorinya, yaitu dengan memperbanyak ketaatan kepada Allah, dan beramal shaleh, serta menjauhkannya dari segala dosa dan maksiat. Sebaliknya, jiwa juga  berpotensi fujur (buruk), jika tidak dijaga dari segala hal yang akan mengotorinya, yaitu berupa perbuatan kekufuran dan kemaksiatan.[24]

 

D.     Landasan Teologis Pendidikan Jiwa Ibn Jauzi

Landasan teologis pendidikan jiwa menurut Ibn Jauzi, tidak jauh dari sumber  Islam itu sendiri. Esensi Islam dengan berbagai aspek ajarannya adalah tauhid.  Atas dasar itu, maka Ibn Jauzi  meyakini pendidikan jiwa  harus dibangun diatas  Al-Qur’an dan  Al-Sunah. Pemahaman atas kedua tidak akan sempurna, jika  tidak dilandaskan atas pemahaman generasi salafushalih. Ibn jauzi berkata :

 

Ketahuilah bahwa Islam adalah iman dan amal, yang berdiri diatas landasan yang kuat, yaitu Al-Qur’an dan Al-Sunah. Al-Sunah merupakan penjelas dari uraian Al-qur’an yang mujmal dan sebagai aplikasi operasional dari kandungannya.[25] Kemudian  tempuhlah jalan Salafusshalih, karena sesungguhnya mereka  akan melapangkanmu dari apa yang mereka lapang.[26]

 

Ketiga landasan ini saling keterkaitan, yang tidak boleh dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Al-Qur’an memerlukan penjelasan as-Sunah, kemudian  Al-Qur’an dan Sunah dijelaskan lagi sesuai dengan pemahaman ulama salaf.[27] Yang dimaksud ulama salaf[28] di sini adalah   generasi pertama dan terbaik dari ummat (Islam) ini, yang terdiri dari para Shahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in dan para Imam pembawa petunjuk pada tiga kurun (generasi/masa) pertama yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

خير القرون قرني ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم

“Sebaik-baik manusia adalah pada masaku ini (yaitu masa para Shahabat), kemudian yang sesudahnya (masa Tabi’in), kemudian yang sesudahnya (masa Tabi’ut Tabi’in).[29]

 

            Ibn Jauzi menetapkan pemahaman ulama salaf sebagai manhaj dalam penafsiran, adalah dikarenakan adanya jaminan kesahihan pemahaman mereka terhadap agama ini, sebagaimana yang disebutkan dalam hadist di atas yang menunjukkan bahwa salaf adalah generasi terbaik yang di miliki umat ini. Lebih lanjut Ibn Jauzi menambahkan hujjahnya dengan perkataan Al-Auza’i berikut ini :

 

اِصْبِرْ نَفْسَكَ عَلَى السُّنَّةِ , وَقِفْ حَيْثُ وَقَفَ الْقَوْمُ , وَقُلْ بِمَا قَالُوْا وَكُفَّ عَمَّا كَفُّوْا عَنْهُ , وَاسْلُكْ سَبِيْلَ سَلَفِكَ الصَالِحِ فَإِنَّهُ يَسَعُكَ مَا وَسَعَهُمْ.

Sabarkanlah dirimu (berada) di atas Sunnah. Berhentilah di tempat orang-orang itu (Ahlus Sunnah, Salafush Shalih) berhenti. Katakanlah apa yang mereka katakan. Diamlah apa yang mereka diam. Dan tempuhlah jalan Salaf (para pendahulu)mu yang shalih, karena sesungguhnya ia akan melapangkanmu dari apa yang mereka lapang.[30]

 

            Singkatnya, salafusshalih adalah contoh terbaik setelah peninggalan Nabi saw. Mereka adalah generasi yang istimewa yang banyak memiliki kelebihan, mereka teladan dalam pemahaman, perkataan, serta pengamalan dalam beragama. Lebih lanjut Ibn Jauzi berkata :

وقد كان السلف الصالح -رحمهم الله- يحبون جمع كل فضيلة، ويبكون على فوات واحدة منها.

Dan sungguh para salafusshalih senantiasa mencintai dalam setiap keutamaan, dan apabila hilang darinya satu saja dari  keutamaan tersebut, maka ia akan  menangisinya.[31]


[1] – Achmad R Sudirjo, Manusia Modern, http://www.pitoyo.com, 22 April 2009

[2] – Daniel Goleman, Emotional Intelligence : why It Can Matter More Than IQ ?,  (London : Bloomsbury, 1995 ), hlm. 334.

[3] – Fritjof Capra,  The Turning Point : Scince, Society, And The Rising Culture,  (New York : Bantam, 1984) , hlm. 21.

[4] – Ibn Jauzi, Al-Khis ‘Ala Thalab Al-Ilm, (Iskandariyyah : Muassasah Syabab Al-Jami’ah : 1993), hlm. 18

[5] – Ibn Jauzi, Al-Thibb Al-Ruhi, tahqiq Abdul Aziz Izzuddin Al-Sairawani,  (Damaskus : Dar Al-Anwar, 1993,hlm. 35-36, lihat juga Hasan Ibrahim Abdul Ali, Al-Fikr Al-Tarbawi I’nda Imam Abi Faraj Ibn Jauzi, hlm.  104, lihat juga Laila Abdurrasyid Al-Athar, Ara’ Ibn Jauzi Al-Tarbawiyyah, hlm. 109.

[6] Ibn Jauzi, Al-Thib Al-Ruhani, Kairo : Maktabah Al-Tsaqafah, 1986 , hlm.15

[7] – Pandangan Ibn Jauzi tentang pembagian nafs yang terdiri dari tiga unsur tersebut, semisal dengan pendapat Al-Ghazali. Hanya saja Al-Ghazali menambahkan al-i’tidal sebagai penyeimbang dari ketiga unsur tersebut. Dengan demikian, Itidal sebagai standar untuk membedakan antara jiwa yang sehat dan jiwa yang sakit. Lebih lanjut Ia berkata :Seimbang dalam berperilaku merupakan tanda berjiwa sehat, sementara menyimpang dari keseimbangan dalam berperilaku berarti suatu ganngguan dan penyakit dalam jiwa. Sebagaimana keseimbangan dalam tubuh  berfungsi  sebagai faktor yang menyehatkan. Sebaliknya , kondisi tubuh yang menyimpan dari keseimbangan adalah mendatangkan sakit. Al-hikamah  menurut Al-Ghazali adalah keseimbangan yang  berada diantara al-khabb yang merupakan pengetahuan yang digunakan untuk menipu atau membinasakan yang berada disudut ifradh (berlebihan) dan  al-jahl (kebodohan) yang berada di sudut tafridh (kekurangan). Al-Syaja’ah (keberanian)  merupakan keseimbangan antara dua keburukan al-ghadhab, yaitu al-tahawur (gegabah) dan al-jubn (pengecut). Demikian juga al-iffah , yang merupakan keseimbangan antara dua keburukan al-syahwat, yaitu al-syarah yang berati keserakahan dan al-khamud yakni keadaan lemah keinginan. (Al-Ghazali, Ihya’ Ulum Al-Din, Beirut : Maktabah Al-Ashriyah, 2003, vol.III, hlm. 79, lihat juga Al-Ghazali, Ma’arij Al-quds, hlm.92).

[8] – Ibn Jauzi, Al-Thibb Al-Ruhi, tahqiq Abdul Aziz Izzuddin Al-Sairawani,  Damaskus : Dar Al-Anwar, 1993,hlm. 35-36

[9] – Ibid

[10] – Ibn Jauzi, Al-Thibb Al-Ruhi, tahqiq Abdul Aziz Izzuddin Al-Sairawani,  (Damaskus : Dar Al-Anwar, 1993), hlm. 35-36

 

[11] – Ibid

[12] – Abdul Mujib, Ibid 144

[13] – Ibn Jauzi, Talbis Iblis, hlm. 348

[14] – Ibn Jauzi, Shaid Al-Khathir, hlm.77

[15] – Teori Tanatsuq Ibn Miskawih mengatakan, bahwa jiwa terdiri dari tiga fakultas, yaitu nathiqah (akal), ghadhab (emosi), syahwat. Interaksi ketiga fakultas tersebut berjalan dengan harmonisasi  harmonisasi yang berpusat pada fakultas akal. Masing-masing daya jiwa memiliki potensi, yang apabila berjalan secara harmonis maka akan melahirkan keutamaan. Dengan demikian, syahwat dan ghadhab bukan berpotensi buruk. Tetapi, baik buruknya tergantung interaksi yang harmonis dengan fakultas akal. (Ibn Miskawih, Tahdzib Al-Akhlaq, terj. Menuju Kesempurnaan Akhlak, (Bandung : Mizan, 1994), hlm.43)

[16] – lihat Ibn Miskawaih, Tahdzib Al-Akhlaq, (Beirut : Dar Maktabah Al-Hayat, 1398 H), hlm. 62

[17] – Ibn Miskawaih, Tahdzib Al-Akhlaq, (Beirut : Dar Maktabah Al-Hayat, 1398 H), hlm. 38,62 dan 111, lihat juga Abudin Nata, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam, hlm 8

[18] – Ibn Jauzi, Ruh Al-Arwah, (Beirut : Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah, 1990), hlm. 11

[19] – Dalam konsep pendidikan jasmani Ibn Jauzi secara khusus menulis kitab yang berjudul “Luqath Al-Manafi’ “.

[20] – Dalam konsep pendidikan ruhani i Ibn Jauzi secara khusus menulis kitab yang berjudul  “ Al-Thib Al-Ruhani” .

[21] – Ibn Jauzi, Al-Thib Al-Ruhani, Kairo : Maktabah Al-Tsaqafah, 1986 , hlm.15

[22] – Ibid

[23] – Ibid, hlm. 592

[24] – Ibid

[25] – Ibn Jauzi, Al-Maudhu’at, vol.1, hlm.2

[26] – Ibn Jauzi, Talbis Iblis, hlm.24

[27] – lihat Ibn Jauzi, Talbis Iblis, hlm.22-26

[28] – Secara bahasa  Salaf artinya ‘nenek moyang’ yang lebih tua dan lebih utama. Salaf  juga berarti para pendahulu. Jika dikatakan “salafu ar-rojuli” sama dengan  salaf seseorang, maksudnya kedua orang tua yang telah mendahuluinya. Adapun menurut istilah sebagaimana dikatakan oleh  al-Qalsyani, bahwa Salafush Shalih ialah generasi pertama dari ummat ini yang pemahaman ilmunya sangat dalam, yang mengikuti petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, menjaga sunnahnya, Allah pilih mereka untuk menemani Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan untuk menegakkan agama-Nya.( Muhammad bin ‘Abdirrahman al-Maghraawi, Al-Mufassiruun baina Ta’wiil wal Itsbaat fii Ayati Al- Shifaat , Saudi Arabia : Mu-assasah ar-Risalah,  1420 H, hlm.11-14 )

[29] – HR.Muttafaq ‘alaih. HR. Al-Bukhary (no. 2652) dan Muslim (no. 2533 (211)) dari Shahabat Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu

[30] – Ibn Jauzi, Talbis Iblis, hlm.24

[31] – Ibn Jauzi, Luftah Al-Kabid, 504

Leave a Reply