Home Artikel Bedah Buku terbaru Prof Dr Syed Muhammad Naquib al-Attas berjudul “Historical Fact...

Bedah Buku terbaru Prof Dr Syed Muhammad Naquib al-Attas berjudul “Historical Fact and Fiction” (UTM, 2011).

416
0

Hari/Tanggal: Sabtu/17 September 2011
Waktu: 10.00-12.00
Tempat: Kantor Insists, Jln Kalibata Utara II/84, Jaksel.
Tema: Bedah Buku terbaru Prof Dr Syed Muhammad Naquib al-Attas berjudul “Historical Fact and Fiction” (UTM, 2011).
Pembedah: Dr. Adian Husaini (peneliti INSISTS).

Sinopsis:

Selama puluhan tahun, Prof S.M.N. al-Attas sudah dikenal sebagai salah satu pendekar dalam sejarah Melayu. Sejak tahun 1980-an, bukunya, Islam and Secularism, sudah diterjemahkan dalam puluhan bahasa. Buku ini sudah menjelaskan proses Islamisasi di wilayah Nusantara. Bukunya yang lain, Islam dalam Sejarah Kebudayaan Melayu,  (Bandung: Mizan, 1990, cet. Ke-4). Kedua buku ini sudah mengklarifikasi dan mengkritik sejumlah pendapat para orientalis tentang perkembangan Islam di Nusantara.

Kini, diusianya yang hampir menginjak 80 tahun, Prof al-Attas menerbitkan sebuah buku yang sangat penting tentang Islam dan Sejarah Melayu. Buku ini berjudul Historical Fact and Fiction. Buku ini sungguh luar biasa. Bisa dikatakan, Prof al-Attas membalik berbagai pandangan umum tentang sejarah Islam dan Melayu yang sudah dianggap mapan, sebagaimana yang selama ini diteorikan oleh sejarawan Barat dan lainnya. Bahkan, mungkin inilah satu bentuk interpretasi sejarah yang belum pernah dikenal sebelumnya.

Dalam pengantarnya, Prof. al-Attas menyatakan: “My interpretation differs fundamentally from that which is generally accepted by historians of the Malay world. It is perhaps the first time that such an interpretation has ever been attempted.” (hal.xi).

Al-Attas, misalnya, berpendapat:  “The spread of the new and vibrant Malay language and literature as a vehicle of Islam and knowledge presently used by more than two hundred million people in the Malay Archipelago is one of the most important factors in the creation of nationhood, the other factor being the religion of Islam itself.. Historians of the Archipelago have never considered language  as an important source material for the study of history.” (hal. xvi).

Sebuah analisis menarik dilakukan al-Attas terhadap munculnya kata “kafur” dalam bahasa Arab dan “kapur” dalam bahasa Melayu. Ditambah dengan fakta-fakta sejarah di sekitar era Nabi Muhammad saw, serta cerita Hikayat Raja Pasai, al-Attas berpendapat, bahwa Islamisasi di wilayah Indonesia (diawali dari Pulau Sumatra) sudah langsung diperintahkan oleh Nabi Muhammad saw. Hikayat Raja Pasai memang menyebutkan adanya perintah Nabi saw kepada sahabat-sahabat beliau, agar mereka menyebarkan Islam ke suatu tempat bernama “Samudra”.

Kata al-Attas: “The prophet was also a statesman and his knowledge of the region obtained from Arab seafarers who had been there would surely have been sufficiently obvious for him to urge the sending of missionaries there to convert the peoples of the region to Islam in order to secure Muslim economic domination as a world power. Unlike European powers that came much later for the same reason, the Muslim did not colonize, but convert. It is known in the Tang period (671) that Arab settlements ruled by an Arab King or prince (malik) already existed in Sumatra on the western coast of the island. The first proper Muslim kingdom in Sumatra was founded probably during the 8th and 9th centuries…” (hal. 3-4).

Banyak temuan-temuan dan analisis al-Attas dalam buku ini yang membalik pendapat para sejarawan Barat selama ini tentang sejarah perkembangan Islam di wilayah Melayu  Nusantara.  Dengan referensi yang kaya dan ketajaman analisisnya, pakar pemikiran Islam, saat peluncuran buku ini di UTM, 9 Setember 2011 lalu, Prof Wan Mohd Nor Wan Daud menilai, bahwa dalam dunia Islam kontemporer, hanya dua orang sarjana yang benar-benar dapat dimartabatkan sebagai ahli Falsafah Sejarah. Pertama adalah Almarhum Malek Bennabi dari Algeria (meninggal 1973) dan kedua dalah Syed Muhamad Naquib al-Attas.

Karena pentingnya buku ini, maka alangkah baiknya, kita diskusikan buku terbaru Prof Naquib a-Attas ini dalam diskusi Sabuan kita di INSISTS, pada 17 September 2011. (Adian Husaini).

Leave a Reply