Home Artikel Amerika dan Benih Islamopobia di Tanah Air—Catatan INSISTS Saturday Forum 5/6/2021

Amerika dan Benih Islamopobia di Tanah Air—Catatan INSISTS Saturday Forum 5/6/2021

422
0

Diskusi sabtuan bertajuk INSISTS Saturday Forum pekan ini 5/6/2021 menyisakan sebuah kesimpulan menarik, bahwa isu-isu yang dibawa oleh Amerika, jika dibaca secara seksama membantu kita melihat apa yang akan menjadi isu sentral di negri sendiri.

Dalam uraian yang cukup panjang, Dr Dinar menekankan bahwa penting bagi muslim seperti kita untuk menguasai global isu. Lebih-lebih isu yang dibawa oleh Amerika. Tetapi, pada lanjutannya penguasaan pada global isu hendaknya didasari oleh penguasaan yang dalam pula pada dasar filosofis atau root cause. Tanpa itu, kita hanya akan menjadi pengumpul isu tanpa memahami duduk perkara secara adil dan mendalam.

Dari itu, pemahaman pada basis filsafat menjadi penting. Di sinilah penguasaan pada gagasan Syed Muhammad Naquib al-Attas pada persoalan metafisika misalnya, menjadi penting dan relevan. Dr. Dinar menambahkan, bahwa segala lingkup diskursus hubungan internasional sampai saat ini masih sepi dan didominasi oleh cara pandang “worldview” Barat. Sudah seharusnya diskursus hubungan internasional diperkaya oleh cara pandang Islam.

Lebih jauh, jika dipetakan kepada beberapa isu sentral, apa yang dialami oleh muslim Amerika terbagi kepada empat hal mendasar; (i) Islamopobia (b) kontra terorisme (c) economic of Islam dan yang terakhir (d) international aid in the muslim world. Dua hal pertama yang kerap menjadi titik tekan pada problema muslim di Amerika.

Menarik untuk diteliti, pada isu islamopobia, Dr. Dinar menekankan bahwa islamopobia hendaknya dilihat tidak semata-mata hanya pada persoalan rasial. Tetapi lebih dari itu, islamopobia menyentuh pada dua hal: (a) ia dimunculkan untuk mewadahi perbincangan terorisme pada wacana akademis (b) memasukkan wacana tersebut untuk membesarkan isu lain semisal LGBT, feminism dsb. Maka dari itu isu islamopobia tidak bisa dianggap enteng, yaitu melihatnya dengan sebelah mata, atau keluar dari perbincangan pada ranah ilmu atau di wilayah epistemologi.

Dua peta yang dijelaskan Dr. Dinar ini jika dibaca secara seksama akan terlihat benang merahnya. Apalagi kalau bukan frasa yang masyhur oleh Presiden George W. Bush pasca kejadian 9/11 di Amerika, yaitu “you are either with us, or against us” (kamu sekalian bersama kita, atau musuh kita).

Muslim di hampir belahan dunia manapun—khususnya di Indonesia—dipaksa untuk memilih pada pilihan yang biner, bahkan cenderung dibenturkan satu dengan yang lain. Pancasila dengan keislaman, agama dengan wawasan kebangsaan, hingga benturan pada RUU P-KS yang jika tidak pro dengannya, secara otomatis disebut pro kekerasan seksual pada perempuan. Inilah narasi islamopobia ala Amerika jika diterjemahkan dalam bahasa sederhana.

Narasi islamopobia yang besar di Amerika ini pada gilirannya masuk dan secara ironis tumbuh subur di tubuh umat Islam sendiri. Benihnya boleh dibilang transnasional: ia muncul dan hadir di tanah tetangga, tetapi tanpa pikir panjang disambut dengan riang gembira, dipupuk dan disiram di halaman rumah sendiri. @syamunsalim

Leave a Reply