Home Ghawzul Fikr Tantangan Marxisme terhadap Pemikiran Islam

Tantangan Marxisme terhadap Pemikiran Islam

548
0

Derajat Fitra – Peneliti PIMPIN Bandung

Diskursus mengenai kesesuaian Islam dengan sosialisme, marxisme, atau bahkan kapitalisme nampaknya tidak akan pernah selesai selama kemiskinan, penindasan, dan berbagai bentuk ketidakadilan sosial lainnya masih ada di muka bumi. Nyatanya, memang tidak sedikit dari kalangan intelektual Muslim yang terpikat sehingga mendukung dan menyeru untuk menggunakan marxisme sebagai metodologi berpikir untuk mencari solusi permasalahan sosial umat Islam dewasa ini. Adapun secara aksiologis, mereka memandang bahwa marxisme dan Islam memiliki kesamaan orientasi kemasyarakatan, yakni sama-sama memerangi ketidakadilan, penindasan, dan sebagainya. Sehingga dengan penyesuai-penyesuaian tertentu, Islam dan marxisme menjadi bersesuaian dan relevan untuk menyadarkan masyarakat bahwa kemiskinan, penindasan dan bentuk-bentuk ketidakadilan sosial lainnya bukanlah realitas kehidupan yang mengalir begitu saja, melainkan buah dari adanya sistem kapitalisme (Eko Prasetyo, Islam Kiri, Jalan Menuju Revolusi Sosial. Yogyakarta: Resist Book, 2014; Abdurrahman Wahid. Pandangan Islam tentang Marxisme-Leninisme, situs NU Online: nu.or.id, 2015; Muhammad Al Fayyadl. Pada Level Aksiologis, Islam dan Marxisme menjadi Sangat Kompatibel. Situs: indoprogress.com, 2015). Padahal sebagaimana kapitalisme, marxisme pun sejatinya merupakan paham yang lahir dari kerangka pemikiran Barat-Modern yang sudah barang tentu berbeda dengan kerangka pemikiran Islam. Sehingga, meskipun pada aspek-aspek tertentu marxisme terlihat berguna untuk penyelesaian masalah-masalah kemanusiaan secara kongkrit, bagi seorang Muslim yang terdidik keberadannya akan disikapi secara kritis agar diperoleh pemahaman yang jelas dan pasti, apakah marxisme itu dapat menjadi bagian dari solusi permasalahan umat atau sebatas tantangan yang senantiasa merongrong keimanan dan wajib ditentang agar tidak berleluasa menjangkiti serta menyesatkan manusia, tanpa ditanggapi secara kritis, tegas, tuntas dan penuh tanggungjawab.

Mengenal Marxisme

https://jadesaab.com/the-church-of-marxism-97c754f4b20a

Pembahasan tentang marxisme seringkali bertumpang-tindih dengan pengertian dari istilah “komunisme”, atau “sosialisme” sehingga tak jarang membingungkan para pembaca dalam memahaminya. Marxisme adalah paham yang didasarkan pada pemikiran Karl Marx sebagai kritik terhadap sistem kapitalisme yang lahir dalam konteks sejarah peradaban Barat modern. Sedangkan, komunisme adalah istilah yang dipakai oleh Karl Marx dan Friedrich Engels dalam Manifesto Partai Komunis yang ditulis pada tahun 1847, untuk merujuk pada sekumpulan doktrin dan kritik Marx terhadap kapitalisme dan teori liberal, prediksi tentang akan terciptanya revolusi proletariat yang melahirkan masyarakat tanpa kelas, bebas dari kemiskinan, pembagian kerja yang timpang, institusi yang menjadi alat penindasan dan eksploitasi kelas yang satu terhadap kelas yang lain (Adam Kupper & Jessica Kuper (Ed). The Social Science Encyclopedia, Vol. 1. New York: Routledge, 2004). Adapun kaitannya dengan sosialisme, sebagaimana menurut Engels, manifes itu menggunakan kata “komunis” dan bukan “sosialis” adalah untuk membedakan antara sosialisme Marx yang anti-kapitalisme, revolusioner, dan ilmiah dengan sosialisme borjouis, utopis, atau reaksioner yang kontra-revolusioner, yang telah berkembang sebelumnya. Sosialisme Marx dalam wujud nyatanya menurut Marx adalah fase ekonomi yang terjadi setelah runtuhnya kapitalisme dan merupakan fase perantara untuk memasuki fase komunisme. Dengan demikian, marxisme, komunisme, dan sosialisme merupakan tiga istilah yang berbeda pengertian, tetapi memiliki kaitan yang sangat erat. Marxisme adalah sebutan untuk seperangkat ajaran Marx, yang olehnya bersama dengan Engels rumuskan menjadi dasar teoretis ideologi komunisme atau paham sosialisme Marx.

Berbicara tentang marxisme tak dapat dilepaskan dari perkembangan berbagai pemikiran yang membentuk marxisme itu sendiri. Marxisme pertama kali diresmikan sebagai ideologi negara Rusia sejak Revolusi Oktober 1917 di bawah pimpinan Vladimir Iliych Ulyanov atau Lenin. Perpaduan ajaran-ajaran Marx dan Lenin itu selanjutnya dikenal dengan sebutan Marxisme-Leninisme dan seusai perang dunia ke-dua (1939-1945), menjadi ideologi komunisme internasional yang dalam perkembangannya tidak hanya mempengaruhi Rusia sehingga bertransformasi menjadi pusat Uni Soviet saja, tetapi juga menginspirasi munculnya gerakan revolusi sosialis-komunis hampir di seluruh dunia. Bahkan dikatakan bahwa satu per tiga dari penduduk dunia telah hidup di negara-negara yang mendaulat diri sebagai negara komunis. Beberapa negara komunis itu misalnya seperti Yugoslavia (1943-1992), Polandia (1944-1990), Albania (1944-1992), Jerman Timur (1949-1990), Yaman Selatan (1969-1990), Kongo (1970-1992), Angola (1975-1992), Kamboja (1975-1989), Afghanistan (1978-1992), Ethiopia (1987-1991), Korea Utara (1948-sekarang), Cina (1949-sekarang), Laos (1953-sekarang), Kuba (1959-sekarang), dan Vietnam (1976-sekarang). Kenyataannya, dengan watak ideologi komunis yang diktatorial, totaliter, dan inkuisitif, keberadaan negara-negara komunis justru menjadi bagian dari sejarah kelam kemanusiaan di dunia. Jumlah seluruh korban yang terbunuh oleh rezim komunis di seluruh dunia selama berdirinya hingga 1991, mencapai 100 juta orang (Stephen Courtois dkk., The Black Book Communism: Crime, Terror, Repression. Harvard University Press, 1999). Selain itu, sistem ekonomi komunis yang dijalankan dalam sistem kepartaian tunggal tanpa melibatkan sistem pasar, terbukti gagal membangun perekonomian yang kuat sehingga seluruh produksi sosial-ekonomi justru membebani negara. Pada akhirnya, sekitar akhir abad ke-20, komunisme sebagai kekuatan politis atau ideologi resmi gerakan komunis internasional pun mengalami keruntuhan. Adapun penerapan komunisme di negara-negara yang kini masih mendaulat diri sebagai negara komunis, seperti Cina, Kuba, Korea Utara, Vietnam, dan Laos, sistem perekonomiannya telah bercorak kapitalistik (Wahyu Budi Nugroho. Memahami Kembali Marx, Marxisme, dan Perkembangannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2019).

Perkembangan marxisme pasca era Lenin, yakni sejak paruh kedua abad ke-20 tidak lagi menjadi ajaran yang seragam. Secara umum, marxisme dihadapkan dengan dua macam kelompok pengikut, yakni kelompok marxis yang tetap mengembangkan ajaran komunisme dengan menggali kembali dan memperjuangkan makna pemikiran Marx yang sejati, dan kelompok marxis yang hanya menjadikan pemikiran Marx sebagai dasar inspirasi untuk merumuskan pemikiran, metodologi berpikir atau alat analisa yang kemudian meramukannya dengan berbagai pemikiran lain dan menyesuaikannya dengan perkembangan zaman. Kelompok pertama, antara lain seperti, aliran marxisme ortodok, feminisme marxis, dan aliran psikologi marxis. Adapun kelompok yang ke-dua, antara lain seperti, aliran filsafat kritis atau neo-marxisme, posmarxisme, teologi pembebasan, dan marhaenisme (Wahyu Budi Nugroho. Memahami Kembali Marx, Marxisme, dan Perkembangannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2019). Munculnya beragam aliran pemikiran yang sama-sama mewarisi ajaran Marx atau marxisme itu menjadi kekusutan yang mesti diuraikan oleh kedua kelompok marxisme tersebut agar terang benderang, mana ajaran yang benar-benar sesuai dengan pemikiran Marx atau marxisme sejati, yang mereka jadikan sebagai dasar inspirasi. Namun, terlepas dari beraneka-ragamnya aliran pemikiran marxis yang berbeda-beda atau bahkan saling bertentangan, seorang pengikut marxisme yang komitmen dan konsekuen dengan pendirian marxisme, wajib menyesuaikan pendiriannya ke dalam kerangka pemikiran marxisme secara utuh, setidaknya meliputi aspek ontologi, epistemologi dan aksiologinya. Sebab tanpa begitu, ke-marxisme-an seseorang hanyalah bualan belaka.

Kritik pemikiran Marxisme

Marxisme sebagai sistem ajaran Marx secara ontologis berpijak pada prinsip materialisme dialektika (Dagobert D. Runes, The Dictionary of Philosophy. Newyork: Philosophical Library). Materialisme dialektika merupakan buah dari kritik Marx terhadap paham materialisme Ludwig Andreas Feurbach (1804-1872) yang dianggapnya hanya bersifat kontemplatif semata dan kritik terhadap paham idealisme Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831) yang dianggapnya tidak realistik (Karl Marx and Frederick Engels, German Ideology. New York: Prometheus Books, 1998) Sebagaimana dinyatakan Marx dalam Critique of Political Economy bahwa perubahan masyarakat pada dasarnya ditentukan oleh faktor-faktor yang tidak bergantung pada kesadaran manusia, yaitu kekuatan-kekuatan atau faktor-faktor produksi material. Kekuatan-kekuatan produksi material itu kemudian menentukan relasi-relasi produksi seperti institusi-institusi sosial untuk selanjutnya menentukan institusi-institusi politik, pendidikan, agama, dan lainnya (Karl Marx, A Contribution to The Critique of Political Economy. Translated from the second German edition by N.I Stone. Chicago: Charles H Kerr & Company, 1904). Sejalan dengan terminologi dalam filsafat, prinsip materialisme marxis sejatinya menyatakan bahwa dasar dari segala realitas alam adalah materi yang berada di luar jangkauan persepsi indera dan kesadaran manusia; mengakui bahwa dunia materi adalah satu-satunya yang ril; dan mengakui bahwa materi adalah unsur primer atau basis yang menentukan unsur sekunder atau “struktur atas” seperti ide, kesadaran, ideologi, agama, dan lain sebagainya; Sedangkan prinsip dialektika menyatakan bahwa realitas alam senantiasa mengalami perubahan, termasuk perubahan yang bersifat revolusioner, karena adanya unsur-unsur yang saling bertentangan di dalamnya, sehingga perubahan itu akan terus menerus terjadi (David Walker Daniel Gray, Historical Dictionary of Marxism. The Scarecrow Press, Inc. Lanham, 2007).

https://study.com/academy/lesson/marxism-lesson-for-kids-definition-explanation.html

Meskipun materialisme Marx adalah filsafat yang dialektik, pada prinsipnya sama dengan filsafat materialisme lainnya yang berkembang pada abad ke-17, khususnya di Inggris dan Perancis. filsafat materialisme pada prinsipnya merupakan antithesis dari filsafat idealisme yang menyatakan adalah bahwa dunia material adalah cerminan dari Ide yang hadir di luar kesadaran dan mandiri dari dunia material. Materialisme berprinsip bahwa dunia material yang diketahui melalui indera manusia dan dijelajahi oleh ilmu sains, adalah nyata. Perkembangannya terjadi menurut hukum-hukum alam, tanpa kaitan dengan yang supernatural. Bagi Marx, hanya ada satu dunia, yakni yang material. Pikiran dan ide adalah produk dari benda yaitu otak sehingga gagasan-gagasan umum, termasuk agama hanyalah cerminan dunia material dalam pikiran manusia (Marx, Kata Penutup di Edisi Jerman Kedua Das Kapital; Lihat juga Apa itu Marxisme. Militanindonesia.org). Dengan demikian, secara ontologis marxisme menyatakan bahwa materi adalah realitas pokok atau fundamental reality, sehingga jelas menafikan Tuhan Sang Pencipta yang melampaui jangkauan pancaindra dan nalar akal manusia. Andaipun Marx mengakui adanya tuhan, tuhan yang dibayangkan Marx tersebut bukanlah Tuhan Sang Pencipta yang ghaib atau transenden, melainkan hanya produk pikiran manusia sebagai cerminan dari realitas material belaka.

Prinsip materialisme-dialektika tersebut pada akhirnya mempengaruhi kerangka epistemologi marxis. Bukan hanya seperti yang dipahami oleh Tan Malaka bahwa sejak lahirnya filsafat materialisme dialektika atau sosialisme rumusan Marx dan Engels, ilmu-ilmu kemasyarakatan sudah selayaknya turut didasarkan pada hukum-hukum ilmu pengetahuan yang empirik (Tan Malaka. Pandangan Hidup. Marxists.org: archive, 1948), tetapi marxisme mengajarkan agar kebenaran tentang segala sesuatu, termasuk tentang Tuhan, harus dapat dijelaskan dalam kerangka hukum-hukum alam material yang dapat diketahui dengan sensasi pengalaman inderawi melalui pendekatan sains atau dapat dijelaskan melalui bukti-bukti empiris (Listiyono Santoso, Epistemologi Kiri, Yogyakarta: Ar-Ruz Media, 2015). Sebagaimana materialisme Marx memandang bahwa sesuatu yang absolut di luar batas-batas alam material adalah hantu-hantu yang terbentuk dalam otak manusia atau sublimat dari proses-proses material manusia. Selain itu, filsafat atau ilmu tentang kebenaran yang melampaui pancaindra dan nalar akal, seperti kebenaran hakiki tentang Tuhan, nilai-nilai agama dan keakhiratan, tiada lain hanyalah rekaan-rekaan filsafat idealisme yang ditentang oleh filsafat materialisme (Karl Marx and Engels, The German Ideology: Collected Work Vol; 3. Lawrence & Wishart Electric Book, 2010). Dengan demikian, dalam kerangka epistemologi marxisme tidak ada ruang untuk menerima keabsahan agama atau Wahyu Tuhan sebagai sumber ilmu atau kebenaran yang mutlak.

Secara historis, marxisme sejatinya merupakan kritik Marx terhadap sistem kapitalisme. Menurut Marx, kapitalisme dengan sistem kepemilikan alat-alat produksi secara pribadinya memecah masyarakat menjadi kelas pemilik modal dan kelas buruh serta memicu penindasan para pemilik modal terhadap kaum buruh. Pekerjaan tidak lagi sebagai ungkapan dari potensi diri, melainkan tereduksi menjadi sarana para pemodal untuk mengeruk keuntungan. Dari kritiknya itu, lantas secara aksiologis Marx menggariskan visi pembebasan manusia dari segala bentuk penindasan dengan cara mewujudkan masyarakat komunis melalui gerakan revolusioner yang dikontrol oleh kaum buruh. Ciri khas masyarakat komunis adalah hilangnya alat-alat dominasi dan penindasan, yakni alat-alat yang dipakai oleh sebagian orang untuk menindas sebagian orang lainnya. Alat-alat itu tiada lain adalah sistem kepemilikan pribadi, pembagian kerja, negara, dan agama (Ismantoro. Ensiklopedia Marxis. Vol 1, Mei 2020; John Molyneux. Masa Depan Masyarakat Komunis. Ed: Ismantoro, 2020). Apabila dicermati, visi tersebut mencerminkan inkonsistensi pemikiran yang tak dapat diterima akal sehat. Mengandaikan akan terwujudnya masyarakat tanpa kelas sebagai realitas akhir kehidupan manusia di dunia menentang prinsip dialektika Marx sendiri yang menyatakan bahwa tidak akan ada realitas yang final atau berhenti mengalami perubahan karena terdapat pertentangan-pertentangan di dalamnya. Menerima kebenaran suatu realitas dari satu sudut pandang sekaligus menolak kebenaran suatu realitas itu dari sudut pandang yang sama pada waktu yang sama merupakan suatu inkonsistensi berpikir yang mustahil dapat dibenarkan oleh akal sehat. Selain itu, ajaran Marx tentang komunis adalah ajaran utopis dan inkuisitif, yang dalam sejarahnya pada abad ke-20, ratusan juta orang menjadi korban penindasan ideologi komunis.

https://www.dw.com/en/little-trace-of-marxism-in-africa/a-43654592

Seorang Muslim mestinya memahami dan meyakini bahwa solusi terbaik untuk persoalan kehidupan bukanlah dengan bersandar pada marxisme, melainkan dengan menggali pemahaman dan pengamalan ajaran Islam secara menyerluruh dan konsisten. Marxisme sejatinya merupakan pandangan hidup yang berwatak reduksionis-atheistik, inkonsisten, dan inkuisitif, sehingga jelas tidak akan dapat bersesuaian dengan Islam yang memandang kebenaran dan realitas secara integral dalam kerangka tauhid (Hamid Fahmy Zarkasyi. Islamic Science: Islamic Worldview Sebagai Paradigma Sains Islam. Jakarta: Insists, 2016). Dalam Islam, satu-satunya Realitas Mutlak yang menjadi pusat dari segala sesuatu adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga berimplikasi pada epistemologi Islam yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan tentang realitas fisik dan metafisik, dengan berpandukan kebenaran mutlak yang bersumber dari wahyu Tuhan dan sejalan dengan pancaindra, akal sehat, dan intuisi. Adapun dalam aspek orientasi kemasyarakatan, khususnya dalam perekonomian, kepemilikan mutlak atas segala sesuatu adalah hak Allah Ta’ala. Sedangkan kepemilikan manusia terhadap alat-alat produksi atau harta kekayaan lainnya hanyalah titipan dari Tuhan selama hidup di dunia sebagai sarana untuk dimanfaatkan berdasarkan ketentuan-ketentuan-Nya agar memperoleh kebahagiaan yang sejati dan abadi di akhirat.

Leave a Reply