Home Artikel Menghadirkan Kembali Visi Keumatan di Dalam Peringatan Maulid Nabi

Menghadirkan Kembali Visi Keumatan di Dalam Peringatan Maulid Nabi

616
0

Fajar Imam Zarkasyi – dosen IISIP Jakarta

Perayaan Maulid nabi Muhammad telah menjadi suatu hal yang tidak terpisahkan dalam tradisi sebagian kaum muslimin di Indonesia. Hal itu ditandai dengan semaraknya kegiatan peringatan Maulid nabi Muhammad di berbagai masjid baik di perdesaan maupun perkotaan. Bahkan, ketika penulis sedangkan berolahraga pagi di stadion Pakansari beberapa minggu yang lalu, terlihat sekelompok pemuda dengan sangat antusias mengajak para warga yang sedang berolahraga kala itu untuk turut berdonasi dalam acara peringatan Maulid yang diadakan di masjid mereka.

Melihat antusiasme yang begitu besar tersebut, peringatan Maulid Nabi Muhammad sejatinya adalah sebuah ruang yang cukup efektif dalam mereproduksi kesadaran agama terutama dalam menumbuhkembangkan kesadaran umat dalam menjadikan Nabi sebagai role model terbaik dalam menjalani segala aspek kehidupan. Mungkin ada sebagian yang berpandangan bahwa kesadaran semacam itu tak dapat tumbuh hanya melalui serangkaian acara seremonial dan formal. Mereduksir ekspresi kecintaan terhadap Nabi hanya dalam perayaan Maulid memang tidak tepat. Namun menafikan sepenuhnya peran dan fungsi peringatan Maulid lebih tidak tepat.

Kecintaan terhadap Nabi pada dasarnya adalah sebuah gagasan yang memiliki level abstraksi tertentu. Di tengah masyarakat yang cenderung materialistis, kita tidak terbiasa berpikir secara abstraktif dan konseptual. Dalam mencintai Nabi terkandung di dalamnya pemahaman yang mendalam terhadap komitmen keumatan dan Islam sebagai agama yang bersifat syumul. Inti dari peringatan maulid nabi adalah pembacaan rawi yang sejatinya merupakan gambaran bagaimana konsep syumuliatul islam diterjemahkan dalam fase-fase kehidupan Nabi.

Pembacaan Rawi dalam kegiatan Maulid adalah salah satu media untuk mendekatkan sosok Nabi Muhammad secara kognitif. Rawi pada dasarnya adalah sebuah ringkasan biografi nabi besar Muhammad SAW yang ditulis dengan gaya sajak. Karena ditulis dengan pola sajak dan bukan prosa itulah, pembacaan Rawi tidak hanya berdampak secara kognitif namun juga afektif. Inilah salah satu kekuatan sastra dalam menggugah hati seorang manusia. Sisi afektif yang ingin dihadirkan dalam sebuah pembacaan Rawi semakin tegas terkihat dengan adanya mahalul qiyam dimana setiap yang hadir berdiri ketika pembacaan Rawi sampai pada kisah kelahiran Nabi.

The Letter writer in Cairo – Lithographs by David Roberts

Terkait hal itu, penulis teringat kembali dengan upacara yang rutin dilakukan setiap senin oleh setiap siswa baik di tingkat SD, SMP, dan SMA sebagai bagian dalam menjaga dan membangun nasionalisme. Nasionalisme dan kebangsaan sejatinya adalah konsep abstrak yang tidak secara mudah dipahami oleh setiap level pemikiran. Menurut Benedict Anderson, nasionalisme adalah suatu gagasan imajjner tentang adanya suatu komunitas yang dikonstruksikan secara sosial atau yang dikenal dengan istilah komunitas terbayang atau imagined community. Karenanya, eksistensi kebangsaan sangat terkait kepada sejauh mana kesadaran tersebut terkonstruksi secara utuh dalam pribadi setiap warga negara.

Melalui upacara itulah konsep kebangsaan dan nasionalisme yang bersifat abstrak dan imajiner dikomunikasikan dan direproduksi secara terus menerus di dalam masyarakat. Jika upacara di hari senin adalah usaha membangun kesadaran kita sebagai bangsa, maka peringatan Maulid Nabi adalah usaha kita untuk membangun dan menumbuhkembangkan kesadaran atas visi keumatan. Sebuah konsep yang melampui perbedaan madzhab dan aliran. Karenanya, pertanyaan kritis yang perlu dimunculkan adalah sejauh mana kekuatan afektif dan kognitif dari pembacaan Rawi dalam kegiatan Maulid nabi tersebut dapat dihadirkan secara efektif. Ini menjadi sangat penting karena “hadirnya” sosok Nabi yang dihadirkan dalam sebuah pembacaan rawi adalah simpul utama dari seluruh perbedaan yang terjadi di kalangan ummat.

Mendamaikan visi keumatan dan kebangsaan

Tidak hanya menguatkan konsep keumatan, peringatan Maulid juga dapat kembali mendekatkan jarak yang terjadi antara konsep keumatan dan kebangsaan. Tidak hanya berjarak, konsep keumatan dan kebangsaan cenderung dirasakan berbenturan antara satu dan lainnya. Hal itu terjadi salah satunya karena pemahaman kita tentang makna kebangsaan yang cenderung direduksir menjadi sebuah konsep yang bermuatan politis ketimbang sosiologis maupun antropologis. Dalam keadaan yang semacam itu, konsep nasionalisme lebih bersifat state centric dibandingkan bercorak kebangsaan dan kemasyarakatan.

Pada tahap ini maka konsep yang dominan dalam membaca nasionalisme adalah negara dan bukan bangsa. Negara pada akhirnya menjadi satu-satunya kekuatan penggerak di dalam kehidupan berbangasa dimana komitmen kerakyataan dan kebangsaan tergantikan dan dimonopoli oleh komitmen kenegaraan. Dengan tanpa disadari, negara hadir dan mengetuk setiap individu untuk menyerahkan kedaulatan yang dimilikinya dengan mengatasnamakan kebangsaan. Salah satu bentuk penyerahan kedaulatan tersebut adalah kerelaan kita untuk melepas ikatan-ikatan di luar ikatan kenegaraan.

Disinilah masalah tersebut muncul dimana konsep kebangsaan dan keumatan mulai terbentur satu sama lain. Dalam konsep kebangsaan yang bercorak state centric tersebut seluruh identitas di luar ikatan kenegaraan harus dinomerduakan, termasuk konsep keumatan itu sendiri. Disinilah pada akhirnya ummat Islam menjadi suatu massa mengambang di tengah konsep kebangsaan yang sangat bersifat politis tersebut. Agama pada akhirnya dibatasi sejauh tidak berlanggaran dengan logika negara.

Sudah saatnya kita kembali membangun nasionalisme dalam kerangka sosiologis dan bukan politis. Membangun kebangsaan secara sosiologis berati menkonstruksikan kesadaran nasionalisme tersebut secara dialektis antar berbagai identitas-identitas sosial yang ada. Memperingati Maulid Nabi Muhammad adalah sebuah ikhtiyar untuk kembali membangun visi keumatan di tengah fanatisme kelompok dan golongan di dalam tubuh ummat Islam. Penguatan visi keumatan tersebut merupakan aset terbesar untuk kembali membangun visi kebangsaan Indonesia dalam konteks sosiologis dan antropologis.

Leave a Reply