Home Artikel Spiritual Thinking; Berpikir Pada Level Tertinggi

Spiritual Thinking; Berpikir Pada Level Tertinggi

1133
0

Mohammad Syam’un Salim – Staff Media dan Penerbitan INSISTS

Atas kerjasama yang sudah cukup lama terbangun antara INSISTS dengan Yayasan Semesta juga Istanbul Foundation for Science and Culture, Senin 15 Juli 2019 ketiganya membuat sebuah seminar internasional bertajuk; “Said Nursi’s Legacies for the 21st Century Muslim World”. Bertempat di Aula Imam al-Ghazali INSISTS Jakarta, seminar diisi oleh dua pembicara asal Turki: Prof. Dr. Alparslan Acikgenc dan Prof. Dr. Ahmed Kayacik.

Salah satu dari sekian banyak simpulan penting Prof Alparslan, adalah Islam memiliki pemaknaan istilah yang begitu dalam dan khas, di mana pemaknaan itu berbeda dengan peradaban manapun. Ini penting untuk diketahui dan diakui, sebab tanpa pengakuan dan kesadaran itu, umat Islam hanya akan terjebak dalam pemaknaan yang tidak tepat dan adil. Alih-alih akan mendapatkan kesimpulan yang cukup, yang ada justru yang terlihat adalah simplifikasi yang terlewat terburu-buru. Dalam penjelasannya, prof Alparslan menyebutkan bahwa manusia tidak bisa hanya disebut jasad semata, tapi ia adalah mahiyah: yang terdiri dari Ruh dan Jasad sekaligus. Inilah kekhasan makna itu.

Lebih lanjut, kedalaman dalam konsep ini dibuktikan dengan pengakuan dari model berpikir yang lebih komperhensif. Umumnya, khazanah epistemologi Barat mengakui model berpikir kepada tiga model inti: concrete thinking, sense perception, intellectual thinking. Menurut Prof Alparslan, yang pertama adalah model berpikir yang kongkrit dan sederhana. Seperti simpulan manusia tentang keindahan bunga. Dia berhenti pada keindahan yang sifatnya konkrit, dan berhenti hanya sampai disitu. Sedang di model yang selanjutnya, keindahan bunga sudah hadir dalam benak secara riil karena telah dipresepsi secara langsung oleh indra dengan memaksimal, segala fungsi panca indra secara bersamaan hingga pada saat tertentu dapat menghasilkan sebuah ide. Manusia mendapat kesimpulan panasnya api setelah menyentuhnya secara langsung, begitu Prof Alparslan menjelaskan.

Dalam Uraiannya, Prof Alparslan melanjutkan; pada model ketiga; intellectual thinking, konsep tentang keindahan dan bunga menjadi lebih abstrak, luas dan dalam. “What is beautiful is concrete, but the idea of beauty is not concrete” apa itu keindahan adalah sesuatu yang konkrit, tetapi ide (konsep) tentang keindahan adalah sesuatu yang tidak kongkrit; ia abstrak. Model berpikir ini, dapat dikatakan sebagai model berpikir tertinggi dari model sebelum-sebelumnya. Karena simpulannya bukan lagi menyentuh pada ranah yang sederhana lagi konkrit, tetapi sudah masuk pada spektrum yang lebih rumit dan abstrak.

Namun demikian, Prof Alparslan menambahkan, bahwa terdapat model berpikir yang lebih tinggi lagi dari itu. Model berpikir ini hanya ada di dalam tradisi intelektual Islam, yaitu spiritual thinking: think with your spirit not by intellect. dalam pandangan Prof Alpaslan, spiritual thinking adalah fase tertinggi; ia lanjutan dari intellectual thinking di mana model ini, keputusan-keputusan logika menjadi berubah. Bahkan tidak lagi mengikuti logika ala Aristotelian. Ini bisa dilihat dari, misalnya bagaimana Ibn Arabi dalam karya-karyanya membuat sebuah pernyataan yang terkesan kontradiktif; berseberangan. seperti “aku di sini, sekaligus di sana” “saya ada, sekaligus tidak ada” dst. Di sini, segala hal yang punya kesan kontradiktif dan berlawanan dapat disatukan dalam mode berpikir spiritual.

Lebih jauh, bagi beliau pernyataan juga konsep yang diajukan para sufi yang terkesan kontradiktif dan tidak bisa dinalar di atas bukan disebabkan oleh salahnya simpulan nalar berfikir, tetapi karena disimpulkan oleh mekanisme berpikir Barat yang terbatas hanya pada yang kongkrit “concrete”, yang indrawi “sense perception” juga yang dapat dinalar “intellectual thinking”. Batasan berfikir ala Barat ini sebetulnya adalah buah konsekuansi dari batasan-batasan yang mereka buat sendiri, bahwa apa yang disebut riil itu; neraca-neraca yang dibuat terbatas kepada benda-benda yang bersifat inderawi dan menyentuh pengalaman manusia. Maka Barat di sini, membatasi fakultas atau kemampuan manusia terbatas kepada dua hal: sense dan intellectual.

Batasan-batasan itu, membuat apa yang semestinya bisa didapat menjadi terhijab. padahal realitas adalah ketika sesuatu tersingkap sebagaimana adanya (secara keseluruhan) “ma bihi syai’ huw huwa”. maka, realitas yang beragam: empiris dan non empiris, secara otomatis menghendaki model berpikir yang juga beragam. termasuk di dalamnya spiritual thinking ini. Yang menarik dalam penjelasannya, Prof Alparslan menerangkan bahwa model penyatuan hal-hal yang kontradiktif, sebagaimana beberapa Sufi lakukan sejatinya juga dilakukan oleh Hegel lewat filsafat dealektikanya. Hegel membuat sebuah pendekatan menarik dengan tesis-antitesis-sintesis. Titik tekanya, bahwa dua hal yang ‘kontradiktif’ mungkin saja disatukan, dan muaranya menghasilkan sesuatu yang baru.

Prinsip kontradiktif namun satu ini juga dijelaskan oleh Said Nursi dalam beberapa penjelasannya di Rasail Nur. Bagi Nursi, gambaran itu sebetulnya bisa didapatkan lewat bagaimana al-Qur’an terlihat. Al-Qur’an dalam penjelasan Said Nursi yang dikutip oleh Prof Alparslan; kata-katanya bersifat kongkrit, tetapi makna di dalamnya sangat abstrak. Maka di sini al-Qur’an bersifat sangat spiritual. Dalam uraian yang lain, Said Nursi mengkiaskan realitas spiritual sebagaimana udara. posisinya sangat kursial. Mungkin manusia bisa menahan diri untuk tidak makan dan minum dalam beberapa hari, tapi tidak dengan udara. Manusia bisa mati hanya dalam tiga detik tanpanya. Artinya bagi Nursi, spiritual thinking bukan saja mungkin bagi manusia, tapi niscaya.

Ini berarti, manakala mekanisme berpikirnya dinaikkan pada level spiritual, pernyataan Ibn Arabi baru bisa ditangkap dan dipahami. Di sini, bagi Prof Alparslan pengetahuan tidak bisa dijustifikasi dan dibatasi pada logika ala Aristotelian semata. pada tataran tertentu, ia melebihi itu semua. Dalam seminar yang berlangsung di Insists, Alparslan memberikan sebuah analogi menarik: ketika seorang belum terbiasa mengangkat beban 50 kg misalnya, dia akan mengatakan itu mustahil untuk dia lakukan. padahal apa yang dianggap mustahil tadi, bisa saja dilakukan, asal disertai dengan latihan yang keras; lewat percobaan terus menerus, secara berturut-turut.

Di sini titik lebih dari Epistemologi Islam. Bahwa sebagaimana yang dijelaskan oleh Prof Alparslan, epistemologi Islam menyentuh apa-apa yang tidak disentuh oleh tradisi bahkan peradaban lain. Prinsip-prinsip dari epistemologi Islam juga menggambarkan manusia adalah makhluk spiritual, yang dalam bahasa Prof Alparslan disebut sebagai “the natural spiritual human being”. Epistemologi Islam bukan saja memaksimalkan daya indra, intelek akal juga pengalaman, tetapi lebih dari itu ia juga memaksimalkan daya yang lain yaitu qalb (heart); sebuah fakultas spiritual yang sejatinya dimiliki setiap individu dari manusia. wallahu a’lam.

Leave a Reply