Home Artikel Mahjar: Bukan Sekadar Hijrah

Mahjar: Bukan Sekadar Hijrah

1206
0
Processed with VSCO with preset

Oleh: Anton Ismunanto – Dewan Ketua Bentala Tamaddun Nusantara

Sabtu, 31 Agustus 2019 M, bertepatan dengan 1 Muharram 1441, INSISTS menyelenggarakan kajian sambut malam 1 Muharram dengan judul “Hijrah dan Mahjar”. Kajian yang diselenggarakan di Aula INSISTS Jalan Kalibata Utara tersebut dimulai pada pukul 09.15 dan berakhir pada pukul 12.00. Selaku pembicara adalah Ustadz Asep Sobari, Lc. yang dikenal dengan Sirah Community-nya, serta Ustadz Dr. Henri Shalahuddin, MIRKH. yang merupakan Direktur eksekutif  INSISTS.

Seperti diketahui, penanda penting penanggalan Islam adalah peristiwa Hijrah. Sebagai sebuah tindakan historis yang strategis, Hijrah memiliki kedudukan tinggi di dalam Islam. Sebagai sebuah ajaran, Hijrah tetap berlaku hingga akhir zaman. Namun hari ini di tengah maraknya berbagai praktik berlabel hijrah, terdapat beberapa kesalahafahaman dan penyempitan konsep. Berangkat dari hal tersebut maka para guru INSISTS tersebut merasa perlu mengangkat tema tersebut.

Ustadz Asep mengingatkan bahwa “Mahjar” adalah istilah penting yang terikat dengan Hijrah, namun kurang populer dan kurang mendapatkan perhatian secara memadai. Padahal, tidak ada hijrah tanpa mahjar. Sebagai sebuah tindakan peradaban, hijrah tanpa mahjar adalah pelarian. Karena sejatinya mahjar adalah tujuan yang harus dicapai, kebajikan yang perlu diwujudkan, serta ideal yang butuh direalisasikan.

Secara historis Nabi Muhammad shallallah ‘alaihi wasallam melakukan hijrah tidak hanya untuk lari dari Makkah yang menindas umat beriman. Beliau menyiapkan terlebih dahulu lokasi baru yang akan mempengaruhi wajah Arab dan kemanusiaan ke-depan. Awalnya beliau mengutus Ja’far bin Abi Thalib beserta rombongan untuk mendatangi Ethiopia yang dipimpin oleh Negus, seorang raja Kristen yang baik. Di sana Ja’far mengenalkan Islam, membina umat beriman, serta menyiapkan episentrum yang ideal bagi Rasulullah.

Selain Ja’far, Rasulullah juga mengutus Mush’ab bin ‘Umair untuk datang ke Yatsrib, “tempat kotor” di utara wilayah Makkah. Di sana pemuda berbakat ini juga mengenalkan Islam, membina umat beriman, serta menyiapkan episentrum ideal bagi Rasulullah. Di tempat yang kemudian disebut Madinah atau “tempat Din diejawantahkan” tersebut, Rasulullah mewujudkan mahjar sebagai rahmatan lil ‘âlamîn, kâffatan linnâs, liyudh-hirahu ‘aladdîn kullihi, dan berbagai mahjar lain yang disebutkan dalam al-Qur`an.

Hal ini berbeda dengan fenomena hijrah hari ini yang menyerupai pelarian. Misalkan artis ketika hijrah maka performa ibadah dan tampilannya berubah, tapi tidak menciptakan model hiburan alternatif yang mubah maupun edukatif. Contoh lainnya adalah pengusaha yang setelah hijrah tidak menciptakan model ekonomi alternatif yang terbebas dari riba dan harta haram lainnya. Termasuk para bankir yang eksodus meninggalkan pekerjaannya kemudian menganggur. Akibatnya adalah posisinya tersebut kemudian diisi oleh para musuh Islam yang menggunakan kesempatan itu untuk menyebarkan pengaruhnya. Untuk personal mungkin dia telah menyelamatkan dirinya, tetapi dalam konteks peradaban, ini adalah pelarian tanpa mahjar.

Ustadz Henri kemudian menambahkan bahwa dalam konteks hari ini, ada berbagai mahjar yang harus dijadikan kenyataan. Pertama, pendidikan. Pendidikan adalah prasyarat peradaban yang tidak bisa ditawar. Namun di lapangan tampak bahwa kualitas pendidikan kita belum menggembirakan. Kedua, persoalan ketahanan keluarga. Keluarga adalah pilar penting peradaban yang semakin goncang karena berbagai tuntutan kemodernan. Ketiga, ekonomi, tehnologi dan seni. Ketiga hal ini kiranya tidak perlu diperjelas lagi. Keempat, pusat riset. Kesadaran tentang riset umat ini masih lemah. Berbagai penelitian abal-abal menuduh umat Islam radikal, tapi tidak ada satupun ormas Islam yang membantah hal itu dengan bahan penelitian yang memadai. Tentu saja semua ini persoalan.

Pada akhirnya memang kajian ini mereorientasi pandangan kita mengenai hijrah. Hijrah yang selama ini difahami sebagai “meninggalkan sesuatu” hanya akan menjadi pelarian jika tidak berangkat dari niat yang benar dan dilanjutkan dengan jihad untuk mewujudkan mahjar yang diimpikan. Karena memang begitulah yang dilakukan Nabi Muhammad pasca meninggalkan Makkah. Beliau mewujudkan berbagai perubahan besar-besaran di 10 tahun usia akhirnya di Madinah. Adapun dalam konteks hari ini, ada berbagai mahjar yang mendesak untuk diwujudkan umat Islam, dari pendidikan, ekonomi, politik, penelitian hingga hiburan. Wallahua’lam wa huwal-musta’ân.

 

Leave a Reply