Home Artikel Orientalis Bisa Dipercaya?

Orientalis Bisa Dipercaya?

901
0

Montgomery Watt [foto: wordpress]Orientalis yang simpati — apalagi yang empati – terhadap Islam, memang berbeda dengan Orientalis yang antipati. Bedanya pada motif dan metode mereka. Diantara Orientalis yang biasanya dianggap simpati dan empati terhadap Islam adalah  Montgomery Watt, Wilfred Cantwell Smith, Karen Amstrong, Jacques Waardenburg dan lainnya. Watt dianggap simpati karena dia secara pribadi percaya Muhammad adalah seorang nabi. Dia bahkan menyeru kalangan Kristiani untuk menerima fakta tersebut. Disebabkan Muhammad adalah seorang nabi, maka bagi Watt, al-Qur’an seharusnya diterima sebagai berasal dari Ilahi. (Watt, Muhammad at Mecca,  x).

Tapi, sekalipun bersimpati terhadap Islam, pemikiran Watt tetap perlu dianalisis. Ia menolak ucapan “Allah berfirman.” Ia mengusulkan ucapan tersebut diganti dengan ucapan, “al-Qur’an menyatakan atau menyebutkan.” Baginya, pernyataan seperti ini untuk menghindari persoalan apakah al-Qur’an adalah Kalam Ilahi atau tidak.

Orientalis yang lain bahkan merumuskan metodologi yang empati dalam mengkaji Islam. Waardenburg, Orientalis asal Belanda, misalnya, menggunakan pendekatan sistem signifikansi (signification system). Dia sangat menyadari ketidakadilan yang telah dilakukan para Orientalis ketika meneliti Islam. Baginya, Islam seharusnya dikaji melalui prinsip-prinsip dan standarnya tersendiri. Waardenburg percaya “metodologi empati” sebagai metodologi yang paling akurat karena empati kepada keimanan dan keyakinan Muslim. Baginya, data-data yang memiliki makna dan signifikansi keagamaan seharusnya dikaji dalam perspektif kaum Muslimin. Bukan dalam perspektif orang luar, sebagaimana yang sering dilakukan oleh para sarjana Non-Muslim, pada umumnya. Menurut Waardenburg, banyak sarjana non-Muslim yang melakukan ketidak-adilan kepada studi Islam. Sebagai alternatif, Waardenburg mengusulkan pendekatan sistem signifikansi (a signification system), atau jaringan tanda-tanda (a network of signs) atau sistem tanda yang agamis (a religious sign system). (Muslim as Actors: Islamic Meanings and Muslim Interpretations in the Perspective of the Study of Religions, 40-50).

Bagi Waardenburg, pendekatan sistem signifikansi (a signification system) adalah pendekatan yang lahir dari keinginan untuk memahami Islam dengan cara yang ilmiah, deksriptif, dan berlaku adil kepada kaum Muslimin. Pendekatan ini menawarkan bingkai yang deskriptif untuk mengeksplorasi melalui data faktual makna Islam dan unsur-unsurnya kepada kaum Muslimin. Menurutnya, pendekatan ini bermakna bagi kaum Muslimin.

Waardenburg juga percaya pendekatan sistem signifikansi memiliki banyak kelebihan. Pertama, pendekatan itu akan menghindari konsep-konsep Barat yang imperialistik, asing dan berseberangan dengan ajaran Islam itu sendiri. Kedua, pendekatan ini positif karena berjalan sejajar dengan fokus kepentingan kaum Muslimin. Ketiga, pendekatan ini dapat menggiring kepada wawasan yang lebih baik dalam memahami pola-pola makna dalam fikiran dan perbuatan di dalam komunitas Muslim. (Scholarly Approaches to Religion, Interreligious Perceptions and Islam, 445).

Setelah menggunakan pendekatan sistem signifikansi terhadap studi Islam, Waardenburg menyimpulkan Islam adalah sebuah sistem. Islam adalah pedoman hidup. Islam mengakui beragam bentuk ekspresi kebudayaan, namun harus selalu dalam batasan-batasan normatif. Islam menunjuk kepada norma-norma transenden, yang melampaui norma-norma sosial. Islam merujuk kepada realitas transendent, yang melintasi realitas sosial. Melalui al-Qur’an, Islam tampil dengan wawasan fundamental dan makna mendasar yang menjadi rujukan bagi kaum yang beriman. Islam memuat disiplin tertentu untuk kehidupan para penganutnya. Menyembah berhala, dualisme ataupun ateisme dilarang karena bertentangan dengan konsep tawhid.

Waardenburg tampak empati tentang Islam. Tapi, apakah pendekatan empati semacam ini juga akurat untuk mendeskripsikan Islam?  Ternyata, tidak!
Waardenburg tetap terperangkap dominasi metodologi Barat dalam studi agama-agama.

Menurutnya, sarjana Muslim klasik gagal melihat agama selain Islam secara “objektif”. Mereka melihat agama lain secara subjektif. Juga, karena ada aksioma yang memandang bahwa Islam adalah agama yang final dan benar.  (Jacques Waardenburg, Muslim and Others, 233).

Sebenarnya, pendekatan simpati dan empati juga masih menyisakan persoalan. Jika para sarjana Barat yang simpatik dan empatik menganggap Muhammad sebagai seorang nabi, mengapa mereka masih tidak mau memeluk Islam? Sebaliknya, jika mereka menganggap Muhammad bukan nabi, bukankah itu berarti bagi mereka, Muhammad adalah nabi palsu? Jadi, apakah mereka menerima atau menolak Muhammad sebagai Nabi? 

Persoalannya bukan pada pemaparan para Orientalis yang menggambarkan secara simpatik dan empatik pandangan kaum Muslimin tentang makna agama Islam dengan seluruh unsurnya. Tapi, masalahnya,  mereka menggambarkan Islam sebagai arti agama yang sebenarnya untuk orang Islam. Karena itu, mereka tidak menerima pandangan tersebut.

Jadi, antara ungkapan simpati dan empati tidak sepadu. Padahal, dalam pandangan Islam, kata dan perbuatan adalah sebuah kesatuan. Jangankan untuk non-Muslim, seorang sarjana Muslim harus seiring antara kata dan perbuatan. Dalam tradisi keilmuan Islam, pandangan yang ilmiah saja tidak mencukupi. Keimanan dan keyakinan akan kebenaran agama Islam beserta moralitas adalah bagian yang tidak terpisahkan dari tradisi keilmuan. Moralitas mencakup kejujuran, kepercayaan, komitmen untuk melaksanakan perintah syariah.

Jika sarjana Non-Muslim tidak mengakui dan tidak meyakini kebenaran agama Islam, maka penafsiran mereka adalah cacat. Ulama Tafsir terkemuka, Al-Thabari, seorang penafsir terkemuka, menyatakan: “Orang yang cacat akidah tidak bisa dipercaya untuk mengemban amanah yang berkaitan dengan urusan keduniawian, apalagi urusan keagamaan!” (***)

Leave a Reply