Home Ghawzul Fikr Musibah Haji dan Propaganda Anti-Arab

Musibah Haji dan Propaganda Anti-Arab [1]

38
0

Musibah Haji dan Propaganda Anti-Arab

Musibah pada musim haji tahun ini jatuhnya alat berat (crane) di Masjidil Haram dan kecelakaan Mina, bagi Iran dan Syiah — melalui media-medianya — jika diamati seperti sesuatu yang ‘istimewa’.
Reaksi yang diperlihatkan Iran cukup mudah dibaca: menyerang Saudi Arabia. Secara politis, dua negara ini memang berseteru. Tapi tidak-lah etis sampai memanfaatkan musibah haji ini untuk tujuan-tujuan politis.

Semula, penulis mengira wajar kritikan dari Iran dan memang Saudi perlu mendengarkan masukan dari berbagai pihak demi kebaikan pelaksanaan haji pada tahun-tahun berikutnya.

Namun, ternyata itu bukan sekedar kritikan biasa. Setelah mencermati berita-berita media, dan statemen tokoh Iran dan ulama Syiah, penulis kemudian menilai ada sesuatu yang aneh dan tidak wajar lagi.

Hampir semua statemen berisi kecaman, kemarahan dan sampai perlu menyebarkan data-data hoax. Seakan-akan berambisi supaya pengelolaan tanah haramain dan ibadah haji tidak dipercayakan lagi kepada Saudi Arabia. Ada apakah semua ini?

Cermatilah komentar ini; “Muslimin dunia dengan persatuan dan seluruh kemampuan yang dimiliki, harus menyelamatkan Mekah dan Madinah, keyakinan, manasik, nyawa, harta dan kehormatan Muslimin dari tangan rezim boneka Barat ini”.

Pernyataan ini disampaikan Dewan Koordinasi Penyiaran Islam Iran, seperti dikutip indonesia.irib.ir pada Jum’at 25 September 2015.

Di portal yang sama, seorang tokoh Iran Ayatullah Mohammad Yazdi mengungkapkan kekecewaan atas pengelolaan haji oleh Saudi Arabia dan meminta pengelolaan haji ditangani bersama oleh negara-negara Islam.

Portal tersebut juga mengutip stateman Dewan Koordinasi Penyiaran Islam Iran yang mengumpat Saudi sebagai antek Zionis.

Saya makin mencium ketidak wajaran ketika ada laporan, bahwa dua hari sebelum kecelakaan Mina ternyata portal berita kolalwatn.com mantan diplomat Iran, Farzad Farhanikiyan, mengatakan cara terbaik dan waktu terbaik untuk menghadapi Arab Saudi adalah ketika musim haji.

Dalam situs pribadinya ia mengaku, Iran akan membangkitkan kerusuhan selama musim haji berlangsung.

Hasil penyelidikan sementara kasus kecelakaan Mina juga ditemui keganjilan. Sebuah media besar di Timur Tengah Asharq Al-Awsat melaporkan bahwa insiden itu dipicu kacaunya jamaah haji Iran dalam perjalanan melaksanakan lempar jumrah. Koran itu menulis: “pelanggaran itu dimulai ketika sebanyak 300 jamaah Iran mulai bergerak dari Muzdalifa langsung menuju Jamarat, bukannya menuju kamp mereka dulu sebagaimana umumnya yang dilakukan oleh jamaah haji, untuk menunggu jadwal rombongan mereka. Mereka kemudian bergerak ke arah yang berlawanan di jalan 203 di mana insiden menyakitkan itu terjadi.”

Sesuai pedoman, 300 jamaah Iran ini tidak menunggu di kamp mereka sampai waktu yang telah ditetapkan. Kelompok ini malah memutuskan untuk kembali dari arah berlawanan yang juga bertepatan dengan gerakan kelompok lain sesuai dengan jadwal mereka untuk melempar jumrah, sehingga tragedi itu terjadi, kata situs Sabq.org, sebagaimana dilansir oleh Arab News.

Jalan 204, tempat terjadinya jamaah berdesak-desakan itu dikabarkan ternyata bukan jalur utama untuk jamaah yang akan melempar jumrah. Pertanyaannya adalah, kenapa ada ratusan — ada yang menyebut sampai puluhan ribu — jamaah haji Iran yang berada di situ lalu berbalik arah sehingga bertabrakan dengan jamaah haji lain?

Ada sebuah tulisan dari seorang penulis terkenal bahkan sampai-sampai harus mengutip berita-berita hoax untuk menyerang Arab atas kejelakaan haji tahun ini. Dalam tulisannya, ia mengecam kerajaan Saudi karena gara-gara ada iring-iringan rombongan pangeran, jalan 204 menjadi kacau berdesak-desak yang berakhir jatuhnya 700 lebih korban meninggal.

Padahal, tahun ini tidak ada keluarga kerajaan yang melaksanakaan ibadah haji. Kedustaan tulisan itu makin terang karena, standar kerajaan tamu-tamu khusus kerajaan tidak melewati jalan yang biasa dilewati jamaah haji umum. Apalagi tidak mungkin pejabat melewati jalan 204 depan perkemahan itu. Ada terowongan khusus untuk pejabat kerajaan yang ingin melempar jumrah.

Saya hampir tidak percaya, kenapa bisa sekelas penulis nasional bahkan diakui internasional ceroboh menggunakan data hox. Jatuhlah kehormatan dia sebagai penulis hebat, gara-gara ikut-ikutan kampanye menyerang Arab.

Harusnya, dia menunggu pernyataan resmi panitia pelaksaan haji Arab Saudi. Setelah ada pernyataan resmi barulah bisa mengomentari. Jika ada yang keliru, kita bisa adu data di situ.

Kejahatan Anti Arab

Bukan kali ini jamaah haji Iran membuat kekacauan selama pelaksanaan ibadah haji. Kita pun jadi ingat statemen mantan diplomat Iran: “kita membangkitkan kerusuhan selama musim haji berlangsung”.* (BERSAMBUNG)

Penulis adalah anggota MIUMI Jawa Timur