Home Artikel Diawali Cinta Nabi Tumbuh Generasi “Fort comme un Turc”

Diawali Cinta Nabi Tumbuh Generasi “Fort comme un Turc”

1225
0

Henri Shalahuddin – Peneliti INSISTS

Fort comme un Turc” adalah ungkapan lama dalam pepatah (proverb) Perancis yang artinya sekuat orang Turki (strong like a Turk) di era Utsmani. Pepatah ini biasanya diucapkan untuk menggambarkan seseorang yang sangat kuat, bersemangat, dan hangat. Jean de Thévenot (w. 1667), seorang pengelana Perancis dan penulis tentang perjalanannya ke dunia Timur, ketika mengunjungi Istanbul dan Anatolia barat tahun 1655 menyatakan:

“Orang Turki Utsmani adalah bangsa yang berperawakan seimbang, postur tubuhnya ideal. Cacat tubuh yang sering dijumpai di Eropa, seperti bungkuk dan pincang, jarang sekali ditemui di bangsa ini. Pepatah dalam bahasa kita (Perancis) yang mengatakan “Sekuat orang Turki” tidaklah dibuat asal-asalan. Mereka adalah bangsa yang berbadan sehat, kuat dan berumur panjang. Mereka juga jarang sakit, dan jika pun ada yang sakit, mereka rawat di rumah dengan perhatian penuh. Orang Turki tidak pernah mengisi perutnya sampai kenyang dan rakus, makannya proporsional. Mereka tidak memakan bermacam-macam makanan dalam sekali duduk, sering membasuh tubuhnya (wudhu dan mandi). Tidak minum dengan sekali tegukan. Penyakit-penyakit yang banyak menimpa orang Eropa tidak ada pada mereka, misalnya batu ginjal (kidney stone). Fasilitas sanitasi untuk orang Turki sangat bersih”. (Yılmaz Öztuna: 1990, 569)

Kekaguman terhadap orang Turki Utsmani diabadikan dalam pepatah bijak yang diturunkan dari generasi ke generasi. Maka orang Turki menjadi standard kekuatan, kesemangatan dan kehangatan yang diimpikan setiap orang tua Perancis kepada anak-anaknya. Pandangan ini tentunya tidak lahir dari khayalan kosong, sebab mereka sering berinteraksi langsung dengan bangsa Turki, baik dalam kondisi perang maupun damai.

Selanik-atau-Thessaloniki-Yunani-saat-masih-di-bawah-kekuasaan-Turki-Utsmani-tahun-1911-@osmanlitarihi_arsivi-1.jpg

Saat terjadi perang Nicopolis (The Battle of Nicopolis) pada 25 September 1396 di bagian utara Bulgaria, Turki Utsmani dikeroyok aliansi pasukan Salibis. Dalam peperangan ini, Turki mempermalukan aliansi Salibis yang terdiri dari Hungaria, Kroasia, Bulgaria, Wallachian, Perancis, Inggris, Burgundi, Jerman dan armada laut Venesia. Perang ini juga sering disebut dengan Perang Salib Nicopolis, karena merupakan salah satu Perang Salib berskala besar terakhir di Abad Pertengahan. Tentara Turki Utsmani yang dipimpin oleh Sultan Bayazid (w.1403) yang bergelar Yıldırım (sang halilintar) berhasil mengalahkan koalisi Salibis dan menandai berakhirnya Kekaisaran Bulgaria II.
Di masa kejayaannya, Daulah Utsmaniyyah menganggap negara-negara di Eropa hanyalah wilayah kecil dan lemah. Sultan Suleiman al-Qanuni bahkan menyebut Perancis sebagai provinsi (eyalet Fransa). Oleh sebab itu Daulah Utsmaniyyah tidak menempatkan duta besarnya di Eropa, karena dipandang tidak menjadi prioritas kepentingannya. Sebaliknya, negara-negara Eropa selalu menempatkan duta besarnya di Istanbul, mengingat mereka banyak memerlukan bantuan dari Daulah Utsmaniyyah. Hal ini terus berlangsung hingga masa Mahmud II. (Abd al-Karim ‘Izzuddin: 2018, 68).

Perancis yang menjalin persahabatan erat dengan Daulah Utsmaniyyah sejak era Sultan Suleiman The Magnificent, karena telah mengabulkan permohonan Ibu raja Perancis, untuk menyelamatkan anaknya (Franchois I) yang ditawan oleh Kaisar Charles V (Kaisar Holy Roman), tiba-tiba mengkhianati Daulah Utsmaniyyah saat penaklukan benteng Candia (Yunani: Heraklion, Ηράκλειο), benteng terakhir di pulau Kreta (Crete island) pada tahun 1669. Perancis mengirimkan 15.000 tentaranya untuk membantu Venesia memperkuat benteng Candia bersama Ksatria St. Yohanes dan pasukan Kepausan (Knights of St. John and the Papal forces). Dengan bantuan militer ini, Perancis merupakan kekuatan Eropa terbesar yang sangat membantu pertahanan Venesia. (Mehmed Maksudoğlu: 1999, 170).

Namun akhirnya, banyak tentara Perancis yang terbunuh, termasuk pemimpin armada lautnya. Ketika Perancis melihat gelagat kemenangan pasukan Utsmani maka segera balik arah dan bermaksud memperbarui persahabatannya dengan Daulah Utsmaniyyah agar tidak kehilangan hak khususnya. Maka setelah benteng Candia ditaklukkan, duta besar Perancis datang untuk beraudiensi dengan sadrazam (perdana menteri) Utsmani yang masih muda, Fadil Pasha, dan bermaksud memohon diberikan hak khusus (privilege) yang baru untuk Perancis.

Selain itu, kedatangan Duta Perancis juga bermaksud ingin melihat kemungkinan melanjutkan perniagaan dari dan ke India melalui Mesir dan Laut Merah (wilayah Utsmani). Tetapi Sadrazam menerimanya dengan dingin dan kurang antusias, sehingga duta itu pun terkejut. Bahkan Sadrazam melemparkan peci sorbannya ke mukanya sambil duduk jegrang dengan meletakkan satu kaki di atas kaki lainnya lalu berkata: “Perancis menunjukkan dukungan dan persahabatan, tetapi menusuk di punggung. Kalian tidak punya hak khusus apapun kecuali yang telah ditetapkan oleh Sultan, dan bukan Perancis yang menentukan. Jika hal ini tidak cocok bagi kalian, maka pulanglah!” Tetapi duta besar Perancis enggan pulang, bahkan memohon sadrazam untuk memperbarui persahabatan.

Sadrazam tidak berbicara banyak kepadanya. Semua perkataan duta Perancis selalu dijawab singkat, sampai ketika duta itu berkata: “Di antara kita ada hubungan persahabatan”. Maka saat itulah Sadrazam langsung marah, dan berkata: “Orang Perancis adalah sahabat kami, hanya saja mereka selalu membantu musuh kami!” Kemudian Duta itu pun mencoba bersilat lidah lalu berbicara tentang wibawa dan kekuatan Perancis. Maka bertambahlah kemurkaan Sadrazam: “Mungkin saja raja kalian adalah penguasa yang kuat, namun pengalamannya tidak cukup untuk menghadapi kami!
Mendapat sindiran pedas seperti itu, duta Perancis tetap saja mengulang-ulangi permohonannya untuk tetap bisa melintas di perairan Mesir dan Laut Merah. Sadrazam lalu berkata: “Sesungguhnya Sultan yang Agung tidak mempunyai hubungan dengan orang-orang kafir lainnya dan tidak membuat perjanjian apapun dengan mereka. Beliau bermurah hati memberi privilege untuk sahabatnya sebagai kebaikan (ihsan) dan ketulusan dalam persahabatan. Privilege ini tidak diberikan atas dasar keterikatan, tetapi karena kemurahannya. Jika kalian tidak suka utuk memperbarui kesepakatan dari kami, maka pulanglah!”.

Demikianlah kondisi saat umat Islam kuat bermartabat. Kekuasaan dan kekuatannya digunakan untuk berkhidmat li i’lai kalimatillah, melindungi kemanusiaan, mengawal keadilan dan mewujudkan kemakmuran untuk semua. Di masanya, Turki Utsmani pernah berperang sendirian mengalahkan koalisi negara-negara Salibis Eropa dalam Perang Mohács (1526) yang terdiri dari Hongaria, Spanyol, Jerman, Italia dan Polandia yang mempunyai ikatan kuat dengan Dinasti Habsburg. Saat itu, dinasti ini dipimpin Kaisar Charles V yang bergelar Kaisar Holy Roman. Dia adalah cucu Isabella I yang membantai dan mengusir umat Islam Spanyol di tahun 1492 yang tidak mau masuk agamanya. Singkatnya atas izin Allah, koalisi Salibis Eropa bertekuk lutut hanya dalam waktu kurang dari tiga jam. Maka hingga sekarang, tidak aneh jika ada orang yang mengalami nasib sial (bad luck), orang Hongaria masih mengatakan: “Több is veszett Mohácsnál”. “Lebih buruk ketimbang kalah perang di Mohács”.

Kaligrafi-era-Ottoman-ttg-Surah-Yasin-yg-membentuk-lafadz-MUHAMMAD-oleh-Seyyid-Ahmed-Rakım-Efendi-@osmanlitarihi_arsivi.jpg

Kunci kekuatan Turki Utsmani bukan terletak pada fisik, persenjataan dan keilmuannya saja, tetapi semuanya itu bersumber dari kekuatan ruhiyyah. Hal ini bisa dibuktikan bagaimana Sultan Suleiman sebelum pertempuran berpidato sangat heroik membakar semangat pasukannya, memerintahkan untuk sabar dan teguh, sesaat setelah shalat Subuh, 29/8/1526 (21 D.Qa’dah 932H). Beliau masuk kedalam barisan pasukan dan berseru: “Sesungguhnya ruh Rasulullah melihat kalian!”. Tentang perang Mohács, bisa disimak lebih lanjut di: https://www.youtube.com/watch?v=McSnWGNDXPU&t=21s

Kekuatan ruhiyyah inilah yang menjadi pondasi tegaknya martabat kaum Muslimin sepanjang masa. Sebab sejarah telah memberikan contoh nyata bagaimana kekuatan ruhiyyah yang terkandung dalam ajaran Islam itu telah sukses diterapkan dalam memimpin, berperang, membangun peradaban, mengembangkan ilmu pengetahuan, bermasyarakat, dan berbangsa. Maka mundurnya umat Islam telah menyebabkan dunia kehilangan contoh bagaimana seharusnya menjadi manusia yang baik.

Ketika kekuasaan dipegang orang-orang yang tidak berbudi, maka kebebasan berekspresi dijadikan pembenaran untuk bebas menista agama lain. Sebagaimana dilakukan Presiden Perancis yang membawa kebenciannya terhadap Islam kedalam sikap resmi negaranya dengan melindungi para penista Baginda Nabi Muhammad saw. Maka sebagai seorang Muslim yang baik, tindakan memboikot produk negara yang menghina Nabi diperlukan untuk menghentikan sisa-sisa budaya primitif Eropa abad pertengahan. Hal ini juga dikuatkan pernyataan Grand Syaikh Al-Azhar Syaikh Ahmad Thayib yang secara tegas menolak permohonan Dubes Perancis agar membantunya menghentikan gelombang boikot produk-produk Prancis. Beliau mengatakan: “Kami tidak menerima negoisasi terkait kasus penghinaan terhadap Rasulullah saw., dan Macron harus segera meminta maaf.”

Sebagai umat Baginda Nabi, kita tidak bisa terus menerus berharap kepada orang kafir untuk menghormati agama kita, apalagi mengharap mereka ikut mendakwahkan Islam. Generasi umat ini hendaknya selalu didorong untuk menguasai beragam disiplin ilmu, teknologi, ekonomi dan politik, hingga mampu menjadi al-Fatih al-Fatih baru di semua lini kehidupan. Sebab di antara masalah utama generasi umat ini adalah hilangnya syu’ur bil majdi (perasaan berjaya) yang pernah dicapai nenek moyangnya. Dan semua itu diawali dari cinta Nabi dan menjadikan beliau suri tauladan dalam menjalani kehidupan sebagai khalifatullah fil ardhi.

Istanbul, autumn 2/10/2020

. Istanbul, autumn 2/10/2020

Leave a Reply