Home Artikel Mengapa Kaum Muslimin Mundur?

Mengapa Kaum Muslimin Mundur?

1319
0

Oleh : Nuim Hidayat (Penulis Buku ‘Imperialisme Baru’)

Pertanyaan ini selalu mengemuka bagi mereka yang sehari-hari bergelut dengan perjuangan menegakkan Islam, melanjutkan risalah Rasulullah saw. Kenapa saat ini lebih dari 1,3 milyar Muslim di dunia mundur, tidak maju dan tidak dapat memimpin dunia, sedangkan orang-orang non Muslim mengalami kemajuan yang mengagumkan dan memimpin peradaban dunia?

Pertanyaan hampir sama pernah diungkapkan oleh Syekh Muhammad Basyumi Imran, Imam bagi Kerajaan Sambas, Kalimantan kepada Ustadz Al Amir Syakib Arsalan. Surat itu disampaikan via pemimpin majalah Al Manaar, Mesir, Sayid Muhammad Rasyid Ridha. Oleh Rasyid Ridha jawaban dari Ustadz Syakib Arsalan itu diberi kata pengantar dan dicetak menjadi sebuah buku yang terbit pertama kali pada 1349 H. Buku itu diberi judul “Limadza taakharal Muslimun wa limadza taqaddama ghairuhum?” (Mengapa Kaum Muslimin Mundur dan Kaum non Muslim Maju?)

Pada bukunya itu, Syakib Arsalan menjelaskan: “Tentang sebab-sebab kemajuan yang diperoleh dan dicapai oleh umat Islam pada masa dahulu, pada pokoknya secara singkat demikian: agama Islam yang baru lahir di seluruh Jazirah Arabia pada masa itu, lalu segera diikuti dan ditaati benar-benar oleh bangsa Arab dan kabilah-kabilah di sekitar Jazirah Arab. Mereka dengan petunjuk dan pimpinan Islam yang benar itu telah berubah dari berpecah belah dan bercerai berai kini menjadi satu, seia dan sekata, dari biadab menjadi beradab, dari bodoh menjadi pandai, dari dungu menjadi cerdik, dari kekerasan hati dan kekerasan perangai menjadi lunak, ramah tamah dan kasih saying sesame makhluk dan dari penyembah berhala menjadi penyembah Tuhan Yang Maha Esa.”

Penulis buku yang terkenal itu melanjutkan bahwa sebenarnya Allah telah menjanjikan kepastian kemuliaan orang-orang beriman. Seperti dalam surat Al Munafiqun ayat 8 :

“Dan bagi Allah lah kemuliaan, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang yang beriman”

Dan juga surat ar Rum ayat 47 “Dan adalah hak bagi Kami (Allah) untuk memberi pertolongan kepada orang-orang beriman.”

Tapi Allah akan memberikan kemuliaan atau pertolongan ini bila kaum Muslimin beramal dengan amal yang nyata. Syakib Arsalan kemudian bertanya: “Apakah tuan pernah melihat suatu bangsa yang tidak pernah beramal atau berjuang lalu mereka diberi pertolongan oleh Allah dan diberi karunia kebajikan oleh-Nya. Sebagaimana yang pernah diberikan kepada leluhur dan nenek moyang mereka, padahal keadaan mereka hanya duduk termenung, malas bekerja dan jauh daripada berkemauan untuk beramal? Jika ada peristiwa yang sedemikian itu adalah menyalahi akan peraturan dan sunnatullah, padahal Allah itu Maha Tinggi serta Maha Bijaksana. Apa yang akan Anda katakana jika seorang mendapat kemuliaan padahal ia tidak berhak untuk mndapat kemuliaan itu? Dapatkah ia mengambil buah dengan tidak menanam, mengetam dengan tidak bersawah atau berladang dan berbahagia raya dengan tidak berusaha? Patutkah kiranya kemenangan didapat dan dicapai dengan tidak berjuang, memperoleh kekuatan dengan tidak ada sebab-sebab yang dapat mendatangkan kekuatan itu?”

Sedangkan Allah SWT telah berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah apa yang ada pada satu kaum, hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS Ar Ra’d: 11)

Kemudian, Sakib Arsalan memberikan tips praktisnya agar bangsa-bangsa muslim menjadi mulia, yaitu: jihad harta dan jiwa. Firman Allah : “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.” (QS At Taubah 111).

Tentang hal ini, Rasyid Ridha menambahkan komentar: “Umat Islam suka menuntut keduniaan, tapi mereka meninggalkan rukun Islam yang amat penting yang mengenai keduniaan, yaitu zakat dan jihad dengan harta benda ((zakat, infak, sedekah dll) dan jiwa dalam membela agama Allah.”

Kemudian Rasyid Ridha mengungkapkan contoh tentang dogma pasukan Italia ketika menyerbu Tripoli (Libia) yang dimuat dalam “Asy Syarq” nomor 543: “Sesungguhnya daripada sebesar-besar kehinaan bagi seorang pemuda Italia –yang telah berumur 20 tahun jika ia tidak ikut berperang, memerangi Tripoli—untuk membela tanah airnya, mempertahankan bendera yang berwarna tiga, padahal bunyi musik peperangan selalu memanggil untuk menyadarkan jiwa yang berani maju ke depan,”Wahai para ibu! Sempurnakanlah sembahyang ibu dan janganlah ibu menangis, tetapi tertawalah dan berharaplah engkau dengan sungguh-sungguh! Tidakkah ibu mengetahui bahwa Italia memanggil-manggil aku, dan aku akan berangkat pergi menuju Tripoli dengan riang gembira, guna mengorbankan darahku untuk menghapuskan umat Islam yang terkutuk itu; dan untuk memerangi agama Islam yang memperkenankan para rajanya mengawini gadis-gadis yang remaja puteri! Aku akan memerangi dengan kekuatanku untuk menghapuskan Al Qur’an yang selalu dipuja-puja oleh umat Islam, umat yang terkutuk itu! Tidak akan termasuk orang yang terhormat, siapa-siapa yang tidak mati selaku bangsa Italia yang sejati!”

Tapi meski demikian ketika itu pasukan kaum Muslimin Arab ketika itu tidak pernah menyerah. Pertempuran yang terjadi di “Fuwaihat” dekat pintu “Baghazi” disana ada 150 tentara Muslim Arab yang tetap tegak mempertahankan kota, menghadapi 3000 tentara bangsa Italia dari pagi sampai petang. Saat itu hampir semuanya pasukan Islam meninggal, tinggal beberapa orang saja yang masih hidup karena ditinggal pergi pasukan kafir Italia yang mengira mereka telah mati semuanya sebab hari telah malam.

Saat kaum Muslimin berduka mendengar kabar peristiwa itu, tiba-tiba datang “berita kawat” dari Istanbul Turki, yang mengutip berita resmi dari Kedutaan Jerman di Roma, yang menyatakan bahwa dalam pertempuran yang hebat itu pasukan Italia yang tewas 1500 orang dan pimpinan pasukan mereka yang gila sebanyak 7 orang”.

Penulis buku itu juga menganjurkan agar umat Islam mandiri perekonomiannya. Kata Arsalan: “Aku pernah mendengar bahwa bangsa Inggris yang ada di daerah jajahannya, mereka tidak suka membeli barang-barang yang dipelukan terutama barang-barang yang berharga. Melainkan mereka mesti membeli (pesan) dari negeri mereka sendiri (London). Dengan tujuan agar keuntungan perdagangan itu jangan sampai jatuh k luar dari negeri mereka. Peristiwa yang sedemikian itu kiranya dapat dijadikan ukuran bagi perangai umat Islam dewasa ini, yang bagaimanapun kami nasehati atau kami peringatkan supaya berjual beli dengan/dari kedai-kedai bangsa sendiri yang setanah air dan seagama; tapi pada umumnya mereka sangat tidak memperdulikannya karena dirasanya perkara kecil. Mereka tetap berjual beli dan tetap berbelanja ke dari kedai-kedai bangsa Eropa meninggalkan kedai-kedai bangsa sendiri yang sebangsa dan setanah air. Tidakkah peristiwa yang sedemikian itu menjadi sebab rusaknya pemboikotan bangsa Arab kepada kaum Yahudi di Palestina? Umat Islam mencuci diri mereka sendiri dengan satu senjata yang tajam. Mereka pura-pura memboikot barang-barang kaum Yahudi, lantaran perbedaan harga yang sedikit. Dalam sebentar waktu mereka kembali berhubungan dengan kaum Yahudi. Karena mereka lupa bahwa bahaya yang mereka dapati lantaran berjual beli dengan bangsa Yahudi itu ada lebih besar, seribu kali lipat bahayanya.”

Dahsyatnya jihad harta ini juga diungkap oleh Ulama Intelektual Hamas, Dr Nawwaf Takruri dalam bukunya “Al Jihadu bil mal fi sabilillah” (Dahsyatnya Jihad Harta, terj.). Dalam karyanya itu Dr Nawaf menjelaskan bagaimana orang-orang Yahudi dan organisasi Yahudi seluruh dunia seluruh dunia saling bantu membantu untuk melestarikan dan memajukan Negara Israel. Diantaranya yang menarik adalah solidaritas sebuah keluarga Yahudi mengurangi konsumsi gulanya per hari, agar uang penghematan gula itu dapat disumbangkan ke organisasi Yahudi.

Begitu juga kita ingat bagaimana solidaritas kaum Yahudi, Amerika dan sebagian negara Eropa yang melakukan pemboikotan besar-besaran terhadap rekening dan keuangan Hamas di luar negeri. Yakni ketika Hamas menang pemilu secara demokratis mengalahkan Fatah awal 2006. Dengan pemboikotan keuangan itulah akhirnya AS (dan kaum Yahudi) dapat memecah belah rakyat Palestina, karena Hamas menjadi kewalahan membayar pegawai, tentara dan menyejahterakan rakyatnya. Di samping juga karena pengkhianatan beberapa tokoh Palestina sendiri, yang menjadi antek Amerika-Yahudi untuk menyingkirkan Hamas dari pemerintahan.

Tentang maalah pengkhianatan yang dilakukan beberapa tokoh di negeri-negeri Islam itu diuraikan panjang lebar oleh Ustadz Al Amir Syakib Arsalan. Ia mengatakan: “Bangsa Perancis tetap bersikap keras dan kasar kepada umat Islam (Bangsa Barbar-Aljazair), lantaran bantuan orang-orang yang mengaku dirinya sebagai orang-orang Islam dan ulama Islam, padahal mereka itu sesungguhnya perusak Islam. Sebab itu dapatlah dikatakan, bahwa bangsa Perancis menghancurbinasakan Islam itu dengan alat penggali yang ada di tangan anak-anak Negara Islam sendiri.” Rasyid Ridha menambahkan komentar: “Yang lebih ganjil dari semuanya itu, ialah orang-orang yang berkhianat itu, mereka menjual Negara mereka semuanya itu kepada bangsa asing dengan harga yang sangat rendah…Dan sekiranya mereka itu berusaha dengan ikhlas untuk menolak kemauan bangsa asing, niscaya bagi mereka akan dapat lebih banyak daripada yang diberikan bangsa asing itu.”

Allah SWT mengingatkan : “Dan tidaklah Tuhanmu akan membinasakan suatu negeri dengan kezaliman, jika memang benar-benar penduduknya orang-orang yang berbuat kebajikan (muslihun). ” (QS Hud: 117).

Rusaknya Ulama atau Pemimpin Umat

Setelah menyebutkan pentingnya jihad harta dan jiwa, Syekh Syakib Arsalan juga menyebutkan tentang sebab-sebab mundurnya umat Islam, yaitu kebodohan umat, akhlak yang buruk (termasuk di dalamnya sikap penakut, pengecut, cinta dunia dan takut mati), juga banyaknya ulama su’ (buruk). Tentang perilaku ulama yang buruk ini diuraikan secara panjang lebar. Bahkan ia menyatakan bahwa kebejatan moral dan kerusakan budi pemimpin Islam atau ulama ini adalah pokok permasalahan yang menyebabkan kemunduran Islam.

“Juga daripada sebesar-besar pokok yang menyebabkan kemunduran dan kehancuran umat Islam, ialah kebejatan moral dan kerusakan budi para ketua atau para pemimpin mereka…Kemudian datanglah para ulama yang berperangai suka mendekatkan diri kepada para pejabat dan pemuka dalam pemerintahan atau para raja yang selalu dalam kesenangan kemewahan hidup. Yang suka bermain sendok garpu dalam kue-kue yang mereka makan, dengan memberikan fatwa kepada mereka itu (para raja dan pemegang kekuasaan) yang berarti membolehkan mreka membunuh orang yang berani mmberikan nasehat, meluruskan barang yang bengkok itu dengan alasan bahwa ia adalah seorang yang telah berani merusak ketaatannya dan telah berani keluar dari jamaahnya.

Padahal sebenarnya Islam telah memerintahkan kepada para ulama supaya berani bertindak meluruskan kebengkokan para raja, para pejabat dan para pemuka pemerintahan. Dan para ulama itu dahulu dalam pemerintahan Islam yang benar adalah bertempat di tempat kedudukannya yang sesuai dengan kewajibannya sebagai ulama, yang menurut cara sekarang sebagai wakil rakyat dalam majelis perwakilan rakyat. Mereka berkuasa atas seluruh umat, mengatur dan menguasai langkah para raja dan para wakil-wakilnya, mengeluarkan suara dan mengemukakan peringatan yang tegas pada waktu rajanya atau pemerintahnya akan berbuat aniaya atau durhaka dan berani mengemukakan nasehat serta menunjukkan jalan kepada pemerintahnya supaya menuju ke jalan yang benar, jalan yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya.”

Setelah buku karya Syekh Amir Sakib Arselan ini, juga muncul buku yang menarik dan lebih tebal dengan tema yang hamper mirip. Buku itu berjudul “Madzal Khasiral Alam Biinkhithathil Muslimin” (Kerugian Apa yang Diderita Dunia Akibat Kemerosotan Kaum Muslimin) karya Abul Hasan Ali an Nadwi.  Buku ini mengalami cetak berulang-ulang dan diterjemahkan dalam berbagai bahasa, bahasa Inggris, Arab, Urdu, Indonesia dll dan mendapat sambutan yang luar biasa dari kalangan ulama maupun masyarakat biasa.

Dalam pengantarnya Sayyid Qutb misalnya menyatakan :

“Betapa butuhnya kaum Muslimin dewasa ini kepada orang yang sekiranya sanggup mengembalikan keutuhan iman ke dalam jiwa mereka, mengembalikan kepercayaan mereka kepada kekuatan yang tersimpan di dalam kejayaan masa lampau, dan memperteguh harapan mereka kepada hari depan yang cerah.

Betapa pula besarnya kebutuhan mereka orang yang sekiranya dapat mengembalikan kokohnya kepercayaan mereka kepada agama ini (Islam), yang namanya mereka junjung tinggi tetapi tidak dimengerti hakikat intinya. Agama yag lebih banyak mereka terima sebagai warisan daripada penerimaan mereka pengertian yang sedalam-dalamnya.

Buku yang ada di tangan saya ini, Kerugian Apa yang Diderita Dunia, dengan Kemerosotan Kaum Muslimin, tulisan as Sayid Abul Hasan Ali Hasan an Nadwi, adalah buku terbaik yang pernah saya baca mengenai pandangan-pandangan tersebut, baik dibanding dengan buku-buku yang lainnya maupun yang baru.

Islam adalah aqidah yang mengangkat derajat tinggi manusia. Salah satu diantara ciri khususnya adalah , bagi seorang mukmin ia melahirkan perasaan yang kuat dan mulia tanpa kesombongan, melahirkan semangat percaya pada diri sendiri tanpa membusungkan dada, dan melahirkan rasa tenteram tanpa pura-pura bertawakal.  Aqidah Islam membuat kaum Muslimin merasa wajib menunaikan tugas kemanusiaan yang terpikul di atas pundak.  Mereka wajib menunaikan amanat kepada segenap umat manusia di Timur dan di Barat. Merasa wajib melaksanakan tugas kepemimpinannya di bagian-bagian bumi yang masih sesat, untuk membimbingnya ke agama yang benar, ke jalan yang lurus, dan mengeluarkan dari kegelapan ke cahaya yang terang, cahaya hidayat dan Al Qur’an yang diturunkan Allah SWT :

“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, memerintah kebajikan dan mencegah kemungkaran serta beriman kepada Allah.” (QS Ali Imran 110).

 

“Dan demikian Kami telah menjadikan kalian sebagai umat yang adil, agar kalian menjadi saksi atasmanusia, dan agar Rasul (Muhammad saw) menjadi saksi atas kalian.” (QS al Baqarah 143)

Kemudian Sayid Qutb, menulis tentang kelebihan buku an Nadwi ini dalam segi penjabaran sejarah Islam dan kritiknya terhadap sejarah Barat. “Orang-orang Eropa sudah cukup banyak menulis sejarah tentang Dunia menurut pandangan Barat. Sudah tentu mereka dipengaruhi oleh kebudayaan dan filsafat mereka yang bersifat kebendaan.  Dan tentu mereka dipengaruhi oleh fanatisme Barat dan fanatisme keagamaan, disadari atau tidak disadari.  Karena itulah mereka sering terjerumus dalam kekeliruan dan penyelewengan-penyelewengan di saat menulis buku-buku sejarah. Hal itu disebabkan oleh kelengahan mereka terhadap nilai-nilai hakiki dalam kehidupan ini, yang sebenarnya hanya dengan nilai-nilai itu sajalah sejarah kehidupan manusia dapat dijamin kelurusannya dan penafsiran-penafsiran peristiwa dapat dijamin kebenarannya.”

Selain Sayid Qutb, Prof Dr Yusuf Musa juga memberikan pujian terhadap buku ini, sehingga ia menamatkan bacaannya kurang dari sehari. Dan ia katakan: “Membaca buku ini adalah wajib bagi setiap orang Muslim yang bekerja untuk memulihkan kembali kejayaan Islam.”

Yusuf Musa kemudian menukil tulisan an Nadwi sendiri : “Al Qur’an dan perilaku Muhammad saw adalah dua kekuatan luar biasa besarnya yang sanggup mengorbankan api semangat dan keimanan di dalam dunia Islam.  Tiap saat dua-duanya dapat mencetuskan revolusi besar terhadap masa jahiliyah, dan akan membuat umat yang pasrah tidak berdaya, rendah diri dan mengantuk, menjadi umat yang kuat, berkobar semangatnya penuh dengan amarah dan kebenciannya terhadap kejahiliyahan dan system kehidupan yang bobrok.  Salah satu penyakit yang melanda dunia Islam dewasa ini ialah rasa puas menerima kehidupan duniawi, merasa lega hidup di tengah-tengah keadaan yang serba rusak dan secara berlebihan menyia-nyiakan hidup.”

Dalam bukunya ini Syekh Hasan an Nadwi menguraikan secara rinci sebab-sebab kemunduran kaum Muslimin, sejarah kejayaan Barat terutama sejarah Romawi dan Persia dan obat agar kaum Muslimin mencapai kejayaan kembali.  Patut diungkap di sini tentang kutipan an Nadwi dari Iqbal dalam bukunya Parlemen Iblis.  Dalam bukunya itu Iqbal mengungkap bahwa setelah parlemen Iblis bersidang tentang tantangan-tantangan mereka ke depan terutama terhadap system republic dan sosialisme, akhirnya mereka berkesimpulan bahwa semua system itu tidak berbahaya. Kecuali Islam, yakni umat Islam apabila mereka sadar akan kehebatannya. Iblis dalam sidang parlemen itu menyatakan:

“Aku tahu, bahwa umat Islam dewasa ini sudah banyak yang meninggalkan Al Qur’an dan sekarang sedang dirangsang oleh harta kekayaan.  Mereka sedang rindu ingin menimbun dan menyimpan harta sebanyak-banyaknya, sama seperti umat manusia lainnya. Aku tahu bahwa malam di Timur amat gelap gulita dan akupun tahu bahwa para ulama Islam dan para pemimpinnya tidak mempunyai tangan putih yang memancarkan sinar cahaya yang dapat menembus kegelapan dan menerangi dunia. Akan tetapi aku khawatir sekali kalau-kalau cobaan dan ujian yang sedang dihadapi oleh umat Islam dewasa ini akan dapat membangkitkan mereka dari tidur dan mengarahkan mereka kembali kepada syariat Nabi Muhammad saw.  Kalian kuperingatkan, bahwa agama adalah agama yang tangguh melindungi pusakanya, pengawal kehormatan dan penjaga keselamatannya, agama keluhuran dan kemuliaan, agama kejujuran dan kesucian, agama kemanusiaan dan kepahlawanan, agama yang sedang berjuang menghapuskan segala bentuk perbudakan, melenyapkan sisa-sisa penghambaan manusia oleh manusia. Agama yang tidak membeda-bedakan antara si Tuan dan Budak, agama yang tidak mengistimewakan antara yang yang berkuasa dan kaum yang sengsara, agama yang dengan zakat membersihkan harta dari noda dan kotoran hingga menjadi jernih dan murni, agama yang menjadikan para pemilik harta sebagai manusia-manusia yang memperoleh kepercayaan Allah dititipi kekayaan.Cobalah Anda renungkan mana ada revolusi atau perubahan kekuasaan yang lebih besar bahayanya daripada yang akan dicetuskan oeh agama itu pada saat sudah mengusai alam fikiran dan menjiwai amal perbuatan manusia? Yaitu pada saat manusia sudah mulai berteriak: Bumi ini adalah milik Allah bukan milik raja-raja atau sultan-sultan!

Oleh karena itu kalian harus mencurahkan segala kekuatan untuk membuat agama itu tetap jauh dari pandangan manusia.  Kalian harus giat bekerja agar setiap muslim lemah kepercayaannya kepada Tuhan, dan tipis keyakinannya terhadap kebenaran agama Islam.  Adalah lebih baik bagi kita setiap orang Muslim terus menerus sibuk dan tenggelam menekuni ilmu kalan atau ilmu-ilmu ketuhanan (teologi) lainnya. Biarkanlah mereka sibuk mentakwilkan kitab Allah dan ayat-aat suci seenak sendiri.  Tutuplah telinga orang Muslim rapat-rapat, karena dengan gema azan dan kumandang takbir ia dapat menghancurkan jimat-jimat dan mantera-mantera di dunia serta sanggup menggagalkan sihir kita. Kalian harus bekerja keras agar setiap orang Muslim tidur nyenyak lebih lama dan agar kesanggupannya datang terlambat.

Hai teman-teman, buatlah supaya setiap orang Muslim tidak bekerja sungguh-sungguh dan bermalas-malas, agar ia tertinggal dalam perlombaan di dunia.  Adalah sangat baik bagi kita bila setiap orang Muslim menjadi budak orang lain, meninggalkan menjauhi dunia ini serta menyerahkannya kepada orang lain. Alangkah celakanya kita kalau umat Islam karena dorongan agamanya akan sanggup mengawasi dan menyelamatkan dunia ini dari kehancuran!”

Kemunduran Ilmu dan Pentingnya Universitas

Setelah Syekh Sakib Arselan dan Hasan an Nadwi, pemikir kontemporer Naquib al Attas menekankan penyebab utama kemunduran kaum Muslimin adalah kemunduran ilmu pengetahuan. Di sini al Attas memprioritaskan pentingnya universitas sebagai institusi utama yang darinya akan bermula revivalisme (kebangkitan) umat. Penekanan pada pendidikan tinggi, bukanlah dimaksudkan sebagai cermin pemikiran elitis, tapi sebagai intrepretasi yang benar terhadap hikmah ilahiah yang menjadikan pendidikan orang dewasa sebagai target utama dari misi semua Nabi. Universitas di semua Negara menjadi tempat individu-individu yang potensial dalam menjalani pendidikan dan latihan.

Menurut Prof Wan Daud, Guru Besar UKM Malaysia: “Yang sangat memprihatinkan , menurut pengetahuan saya, tidak ada seorang pun di dunia Muslim yang berusaha memberikan gambaran teoritis dan filosofis mengenai apa yang dimaksud universitas ideal menurut pandangan Islam maupun non Islam kecuali al-Attas. Sebaliknya di Barat, banyak karya tulis yang berusaha menjelaskan ide mengenai universitas ideal menurut pandangan keagamaan ataupun filsafat tertentu.”

Dalam suratnya ke Sekretariat Islam di Jeddah, Mei 1973, al Attas menulis: “Sebuah universitas Islam memiliki struktur yang berbeda dengan universitas Barat, konsep ilmu yang berbeda dari apa yang dianggap sebagai ilmu oleh para pemikir Barat, dan tujuan dan aspirasi yang berbeda dari konsepsi Barat. Tujuan pendidikan tinggi dalam Islam adalah membentuk “manusia sempurna” atau “manusia universal” (insan kamil)…Seorang ulama Muslim bukanlah seorang spesialis dalam salah satu bidang keilmuan, melainkan seorang yang universal dalam cara pandangnya dan memiliki otoritas dalam beberapa bidang keilmuan yang saling berkaitan.”

Ide al Attas tentang pentingnya universitas Islam ini dijabarkan pertama kalinya pada Konferensi Dunia Pertama Pendidikan Islam di Mekkah 1977 dan mengulasnya lagi dalam Konferensi Dunia kedua di Islamabad pada 1980. Dan kemudian al Attas mewujudkan sendiri ide universitas Islam itu dengan mendirikan ISTAC pada 4 Oktober 1991. Wallahu aliimun hakiim. *

 

Leave a Reply