Home Berita Memotret Praktik Agama Tanpa Makna

Memotret Praktik Agama Tanpa Makna

711
0

Dalam kehidupan sehari-hari sering dijumpai praktik keagamaan Islam yang justru mengkesampingkan inti dan tujuan dari Islam. Diskusi Sabtuan Insists pada 18 Desember 2010 menghadirkan pembicara Dr. Taufiq Hulaimi, MA, pakar Ushul Fiqh, mengungkap fenomena ini. Acara ini mengetengahkan tema “Pengaruh Islam Tanpa Makna dalam Kehidupan Beragama”.

Taufiq mengungkapkan pelaksanaan ajaran Islam seringkali berjalan tanpa diiringi pemahaman mendalam terhadap makna yang terkandung dalam ajarannya, baik secara bahasa maupun substansi. Alumnus Ummu Durban University-Sudan tersebut memberikan satu contoh bahwa zikir seringkali dipraktikkan sebagai lafadz yang diharapkan mampu melahirkan nilai spiritual. Padahal tujuan zikir lebih luas dari sekedar itu. Mengutip pendapat Muhammad Al Ghazaly, Taufiq menjelaskan bahwa zikir berfungsi untuk mengikat manusia dengan Allah, mengingatkan akan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Bukan sekedar mengulangi kalimat-kalimat tertentu saja, tanpa pemahaman lebih lanjut terhadap maknanya.

Pengaruh praktik keagamaan tanpa makna dapat dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Hilangnya nilai-nilai inti (substansi) ajaran Islam dalam praktik keagamaan, akan melahirkan pemaknaan Islam yang bergeser dari aslinya. Beberapa fenomena yang dapat dijumpai dalam kehidupan sehari-hari mengukuhkan adanya pengaruh dari praktik ini. Shalat yang kehilangan fungsinya, dorongan berfikir irrasional yang bermuara pada khurafat dan klenik, timbulnya bid’ah, penghormatan terhadap Al Quran dengan cara yang jauh dari sunnah, dan lain sebagainya.

Menyikapi fenomena-fenomena itu, Taufiq mengungkapkan perlunya upaya mendidik masyarakat secara luas. Salah satu langkah konkrit yang bisa diambil adalah pemasyarakatan Bahasa Arab di kalangan umat. Dengan memahami Bahasa Arab, umat bukan hanya akan mampu untuk mengakses secara mendalam terhadap sumber-sumber Islam, namun juga akan mempengaruhi aspek kualitas dari peribadatan. Faktor kebahasaan ini memang bukan satu-satunya syarat agar kegiatan dan praktik keagamaan bisa bermakna, sebab banyak pula orang Arab yang beragama tanpa makna. Namun penguasaan terhadap Bahasa Arab ini akan menjadi modal dasar dan elemen penting bagi terbentuknya praktik Islam yang bermakna. ***

Leave a Reply