Home Berita Direktur INSISTS menjadi Delegasi RI

Direktur INSISTS menjadi Delegasi RI

95
0

Dr.Hamid sedang memberi kuliah umum di Fak. Teologi Universitas SalzburgPara professor itu merasa tidak nyaman dengan program liberalisasi yang sekarang menimpa agama-agama di Barat. Mereka juga mengkritik paham pluralisme agama baik yang dibawa John Hick maupun Schuon serta wacana Abrahamic Faiths. Program ini menarik dan penting, terutama untuk menjelaskan Indonesia dan Islam kedunia internasional, agar citra Indonesia dan umat Islam tetap positif.


Sebagai lembaga pengkajian yang diakui moderat dan tidak liberal, INSISTS mendapat kepercayaan pemerintah RI melalui Kementrian Luar Negeri untuk mewakili Indonesia ke Austria. Acaranya dinamakan Public Diplomacy Campaign, sebuah program diplomasi yang konon diprakarsai oleh Bapak Hasan Wirayuda (Menteri Luar Negeri kabinet Indonesia bersatu jilid I). Delegasi RI tersebut terdiri dari empat orang yaitu dari UIN Yogyakarata yang diwakili oleh Prof. Dr. Nurcholis Setiawan, dari Sekolah Tinggi Filsafat Drijarkara yang diwakili oleh Prof.Dr.BS Mardiatmadja dan dari INSISTS  (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations) yand diwakili oleh presiden Direkturnya sendiri yaitu Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi. Seorang lagi adalah Dr. Dewi Fortuna Anwar, namun beliau berhalangan karena tugas Negara yang lain. Misi yang dibawa oleh delegasi ini adalah untuk menjelaskan kepada masyarakat internasional, khususnya, Austria bahwa Indonesia adalah Negara muslim terbesar di dunia yang bersikap moderat dalam menghadapi isu-isu internasional. Selain itu misi delegasi ini juga untuk memberi gambaran kepada masyarakat internasional bahwa Indonesia adalah Negara yang aman untuk diajak kerjasama.

Program yang berlangsung dari tanggal 15-21 Desember 2010 itu, berupa public lecture di dua universitas di Austria dan terbuka untuk umum. Pada hari pertama yang bertempat di fakultas sosiologi Universitas Wiena Dr. Nurcholis menjelaskan beberapa proyek-proyek dalam membangun masyarakat moderat di Indonesia. Untuk itu ia menyebutkan beberapa program seperti CRS dan Pusat Studi Wanita di UGM, CRP (Center for Religious Pluralism) di Jakarta, dsb. Meskipun pesertanya tidak terlalu banyak, diskusi tentang Indonesia pasca orde Baru cukup hangat, apalagi dengan hadirnya seorang Professor sosiologi dan pernah riset tentang Indonesia.

Pada hari kedua, kuliah umum diadakan di departemen kajian ketimuran (Departement of Oriental Studies) universitas yang sama. Di fakultas yang dihadiri oleh kurang lebih 50 orang mahasiswa, dosen dan masyarakat umum itu Dr.Hamid Fahmy Zarkasyi menyampaikan kuliah umumnya dengan judul Redefining Moderat Muslim, Appraising Indonesian Muslims. Dr. Hamid mempersoalkan terlebih dulu definisi moderat yang menurutnya telah di “hijacked” oleh kelompok liberal sehingga moderat dan liberal tidak berbeda lagi. Dari berbagai definisi itu ia kemudian menyimpulkan makna “moderat” yang moderat, lalu membuktikan bahwa dengan definisi moderat yang seperti itu Muslim Indonesia adalah tergolong Muslim moderat.

Berbeda dengan Dr. Hamid, Dr. Mardi menjelaskan makna toleransi dan kemudian menyimpulkan bahwa masyarakat Muslim Indonesia ternyata tidak tergolong toleran. Isu yang dijadikan contoh adalah hubungan Islam-Kristen, yang selama ini terjadi di beberapa daerah, walaupun sebenarnya masih dalam skala lokal dan seporadis. Menanggapi gambaran Dr. Hamid tentang suasana hubungan antar agama yang cukup harmonis di Indonesia, salah seorang peserta bertanya “mengapa negeri anda bisa melakukan hal itu, tapi di negara-negara Eropah tidak? Dr.Hamid menjelaskan kemungkinan karena di Eropah anda terlalu kaku menerapkan makna sekuler, sehingga agama tidak memiliki hak sedikitpun diruang publik. Negara Indonesia, meski bukan negara agama, seperti Inggeris atau Roma, dan juga bukan negara sekuler, tapi memberi ruang kepada semua agama untuk berada diruang publik. Ceramah semua agama di TV publik, atau di Stadium terbuka tidak terbayangkan akan diperbolehkan di negara Barat sekuler. Tapi telah terjadi di Indonesia, negeri mayoritas Muslim.

Dr.Hamid sedang memberikan kuliah di Dept. Oriental Studies, Univ.Wiena. Hadirin menyimak seriusKuliah umum hari ketiga diadakan di universitas Salzburg. Salzburg (salz=garam; burg istana) adalah istana garam, yaitu kota kecil tapi menyimpan begitu banyak sejarah Eropah. Disini berdiri sebuah kathedral besar lagi megah, sebab konon dulu disini terdapat seorang Bishop yang merangkap menjadi gubernur. Artinya disini agama dan politik pernah bersatu, tapi itu kemudian menjadi preseden buruk bagi Barat dikemudian hari. Konon Salzburg juga merupakan kerajaan besar yang wilayahnya meliputi Jerman dan Swiss. Kuliah umum di Salzburg ternyata paling istimewa. Diadakan disebuah hall Edmundsburg, fakultas teologi (Theologische Fakultat, Universitat Sallzburg) yang berlokasi di puncak bukit Monchburg dalam kota lama Salzburg, acara ini disambut antusias oleh sekitar 80 an mahasiswa, dosen dan masyarakat umum.

Lebih istimewa lagi, setelah Dr. Hamid dan Dr.Mardi menyampaikan kuliah mereka, lima orang professor teologi langsung memberi komentar masing-masing. Mereka itu adalah Prof.Dr. Werner Wolbert (Dekan), Prof.Dr. Habil.Hans-Joachim Sander, Prof.Dr. Kirsten Schmalenbach, Ass.Prof.Dr. Michael Geistlinger dan Dr.Jan Volkel. Pada umumnya pertanyaan diarahkan kepada materi Dr. Hamid. Diantara mereka itu misalnya mempertanyakan mengapa Islam harus menjadi agama publik? Mengapa agama Hindu yang tuhannya tiga itu diterima di Indonesia padahal sila pertama Pancasila adalah letuhanan yang mahaesa?  Dalam perbedaan mazhab dan kelompok dalam Islam bagaimana seseorang dapat menentukan Islam mana yang paling benar? Jika Islam berbicara politik apa sebenarnya basis teologisnya? Ada pula yang mengusulkan agar pesantren mengajarkan hukum internasional agar dapat memahami hubungan internasional. Namun, karena keterbatasan waktu, komentar para professor tidak sempat ditanggapi oleh Dr. Hamid maupun Dr.Mardi dan dilanjutkan dalam kesempatan dinner dimalam hari yang sama. Meski demikian mereka sepakat untuk meneruskan diskusi melalui e-mail. Yang menarik dalam komentar itu Prof.Dr. Werner Wolbert (dekan) memberi tahu kepada mahasiswa pascasarjana yang ikut serta kuliah itu, agar mencatat dan mempelajari materi kuliah tersebut  untuk bahan diskusi di fakultas.

Sesudah acara kuliah umum, malam harinya diadakan jamuan makan malam bersama beberapa professor. Pada acara ini dimanfaatkan untuk berdiskusi dan dialog yang diantaranya menjawab beberapa pertanyaan pada kuliah umum tersebut. Namun, dari diskusi tersebut, menurut Dr. Hamid, para professor teologi Kristen Katholik itu memahami materi yang disampaikannya. Bahkan, para professor itu merasa tidak nyaman dengan program liberalisasi yang sekarang menimpa agama-agama di Barat. Mereka juga mengkritik paham pluralisme agama baik yang dibawa John Hick maupun Schuon serta wacana Abrahamic Faiths. Program ini menarik dan penting, terutama untuk menjelaskan Indonesia dan Islam kedunia internasional, agar citra Indonesia dan umat Islam tetap positif.

Leave a Reply