Home Berita Laporan hari ke-2: Kuliah Islamic Science

Laporan hari ke-2: Kuliah Islamic Science

1172
0

Kritik Fakhruddin ar-Razi terhadap Sains Aristotelian

Dalam seminar hari kedua tentang Islamic Science di Universitas Indonesia kemarin (13/1), Ustadz Adnin Armas menjelaskan tentang kehebatan Fakhruddin ar-Razi. Ulama besar ini di samping seorang ahli tafsir terkemuka juga menulis tentang filsafat/hikmah, metafisika, fisika dan lain-lain. Ratusan buku telah ia tulis dan salah satunya karyanya yang terkemuka adalah kritiknya tentang Sains Aristotelian. “Ar-Razi  mengiritik konsep Aristotelian tentang esensi benda, esensi gerak, waktu dan esensi ruang.  Ia adalah peletak sains non Aristotelian,” ungkap Adnin, alumni dari ISTAC-IIUM Malaysia.

Aristoteles (384-323 SM), pemikirannya tentang sains mendominasi zaman Yunani kuno dan zaman Pertengahan Barat. Ia menulis tentang Physica, De Caelo, Meteorologia, Parva Naturalia, De Generatione et Corruptione dan lain-lain.  Aristoteles membahas tentang alam, prinsip-rinsip alam perubahan tak hingga, tempat, ruang kosong dan lain-lain.

Fakhruddin ar-Razi hidup pada 1149-1210M.  Ia lahir di kawasan Ray, Iran dan meninggal di Afghanistan. Di antara karyanya adalah: al Mabahits al Masyriqiyah, Tafsir al Kabir, Syarh Uyunul Hikmah, Syarh al-Isyarat wat Tanbihat, Lubab al Isyarat wat Tanbihat dan lain-lain.

Ar-Razi membagi filsafat menjadi tiga, yaitu:
1. Filsafat alam (hikmah tabi’iyah).  Ini disebut ilmu terendah, karena esensi dari alam ini terkait dengan materi.
2. Matematika (hikmah riyadiyah).  Ini ilmu pertengahan, karena dalam matematika tidak semua materi bisa dihadirkan.
3. Metafisika (falsafah ilahiyah). Ini ilmu yang paling tinggi. Karena semua ilmu dibangun di atas hal ini. Dalam ilmu ini tidak harus ditampilkan materinya.

Menurut Adnin –mengutip ar-Razi- iImu alam memiliki prinsip-prinsip yang menjadi dasar kepada pembuktian kepada ilmu alam itu. Prinsip-prinsip itu berasal dari ilmu metafisika dan agama (asy syariat ilahiyah) yang diwahyukan kepada para nabi.

Ar-Razi menjelaskan tentang wujud yang mungkin di alam ini:
Pertama, sesuatu yang menempati ruang (mutahayyiz). Ini termasuk benda-benda yang tinggi yaitu bola-bola langit, planet-planet, bintang-bintang, arasy kursi, sidratul muntaha, lawh, qalam, dan surga

Kedua, sesuatu yang menempati kepada sesuatu yang menempati ruang, yakni aksiden (aradz) yang menempati materi ataupun substansi atom.
Ketiga, sesuatu bukan yang menempati ruang dan bukan pula yang menempati kepada sesuatu yang menempati ruang. Yaitu ruh-ruh. Ruh-ruh ini ada ruh-ruh yang rendah da nada ruh-ruh yang tinggi.

Ar-Razi sama dengan Imam Ghazali, menyatakan bahwa yang menyebabkan terjadinya sesuatu di alam ini adalah Yang Menentukan (Allah). Ini beda dengan pendapat Aristoteles (yang kini diikuti Barat yang berfaham materialisme). Bagi ar Razi, waktu adalah apriori (sudah terbukti dengan sendirinya, bukan iktisabi/ikhtiar manusia). Waktu ada sekalipun gerak tiada. Allah keberadaannya di luar waktu, Allah qiyamuhu binafsihi. Allah yang menciptakan alam, maka Allah lebih dulu dari alam (ini bukan dari sisi waktu, karena Allah di luar waktu). Allah tiap saat selalu mencipta.

Ibnu Sina yang mengikuti Aristoteles dalam hal ini menyatakan bahwa waktu itu azali (selamanya). Sedangkan ar-Razi menyatakan bahwa waktu tidak azali. Sebagaimana alam, waktu adalah diciptakan Allah. Ar-Razi juga mengritik pendapat Aristoteles tentang ruang dan waktu. Menurut ar-Razi, ruang dan waktu terpisah. Maka bagi ar-Razi ada ruang hampa, ruang yang dikosongkan dari sesuatu. Sedangkan bagi Aristoteles tidak ada ruang hampa. Sebelum Fakhruddin ar-Razi, Imam Ghazali juga telah mengritik mazhab Aristoteles ini. Pendapat Aristoteles ini diikuti oleh al Farabi dan Ibnu Sina. Imam Ghazali menulis buku Tahafut al Falasifah untuk mengoreksi pendapat Ibnu Sina.  Sang Imam membahas tentang kesalahan konsep metafiska Ibnu Sina dan juga membahas sedikit masalah fisika. “Setelah menulis Tahafut, Imam Ghazali menulis buku al-Iqtishad fil I’tiqad,” terang Adnin. Sebelum menulis Tahafut al Falasifah, al Ghazali menulis buku Maqashid dan Mi’yarul Ilmi. Kemudian muncul Ibnu Rushd yang mengikuti kembali Ibnu Sina dan mengritik Imam Ghazali dalam bukunya Tahafut at Tahafut.

Modernisme Barat yang dipelopori oleh Newton (abad ke 18) dan puncaknya Immanuel Kant (abad ke 19), sebenarnya telah dikemukan ar-Razi pada abad ke-12. Di antaranya terkait pemikiran tentang ruang dan waktu. “Jika sarjana Islam mengembangkan pemikiran ar-Razi, mungkin tidak akan ada imperialisme,” jelas Adnin, pakar ar-Razi ini.*IZ

Leave a Reply