Home Artikel Konsep Ilmu dan Aplikasinya dalam Pembangunan (1)

Konsep Ilmu dan Aplikasinya dalam Pembangunan (1)

1061
0

Oleh: Dr. Malki Ahmad Nasir (Dosen STAI PERSIS)

Ilmu mempunyai peranan yang sangat penting dalam membangun masyarakat atau bangsa. Bangsa yang mempunyai tradisi ilmu yang kuat akan mempunyai pengaruh yang besar kepada bangsa lain yang jauh lebih besar jumlah rakyatnya dan lebih kuat bala tentaranya. Sebagai contoh, bangsa Yunani dulu adalah sebuah bangsa yang gemar akan ilmu pengetahuan, karena itu, pengaruh hasil keilmuan bangsa ini begitu berpengaruh besar terhadap bangsa-bangsa lain dan salah satunya bangsa Romawi. Sejauh mana pengaruh ilmu dalam pembangunan bangsa, tulisan ini mencoba menggambarkannya.

 

A.   Worldview of Islam: Basis Ilmu

 Dalam bukunya, The Rise and Fall of the Great Power: Economic Change and Military Conflict form 1500 – 2000, Professor Paul Kennedy, pengarang buku tersebut, seperti yang diungkapkan oleh Prof Wan Mohd Nor Wan Daud, mengatakan bahwa faktor-faktor penting kebangkitan dan kejatuhan sebuah kerajaan adikuasa dari abad ke-16 sampai dengan abad ke-20, seperti Kerajaan Islam Turki dan Mughal India, Dinasti Ming China, Jepang, Rusia, dan negara-negara Eropa, ada dua faktor yang paling menentukan, yaitu sistem ekonomi dan teknologi ketentaraan. Kemudian, kata Kennedy, didapatinya pula sikap angkuh, cepat puas hati, kaku dan gimik dikalangan golongan berkuasa baik ilmuan atau pemerintah dari kerajaan-kerajaan yang disebut tadi, yang sebenarnya justru menjadikan sebab utama kelemahan sistem ekonomi dan teknologi ketentraan mereka tersebut.[1]

Sebenarnya, kelemahan sistem ekonomi dan teknologi ketenteraan adalah akibat dari faktor munculnya sikap-sikap yang ditonjolkan oleh golongan elite tersebut. Faktor inilah meminjam istilah yang digunakan oleh Prof Syed Muhammad Naquib al-Attas disebut tersebut sebagai kekeliruan dan penyelewengan dalam ilmu[2] dan merupakan faktor penyebab yang paling esensial. Sebab bagi Prof. Al-Attas, ianya berhubungan dengan cara pandang yang sebenar tentang sesuatu, dengan kata lain, ia menjadi asas dan prinsip mengetahui, sebagaimana yang tertuang dalam al-Qur’an, indikasi ke arah ide ini seperti ayat pertama yang turun ke muka bumi ini. Karena itu, kita disuruh beriman (baca: mengetahuiNya) kepada Allah swt, membaca tanda-tanda (ayat-ayat) quraniyah dan kauniyah, begitu juga, semangat persatuan yang dikemukakan oleh para pemimpin, semuanya atas dasar ilmu yang sebenarnya, dan lain-lainnya.

Karena itu, jika terjadi penyimpangan hal itu tiada lain karena telah terjadi kekeliruan dan penyelewengan dalam ilmu sendiri, misalnya keberimanan seseorang kepada Allah swt tapi disertai dengan menyekutukan kepadaNya, atau merumuskan konsep ilmu yang terdapat dalam ayat-ayat kauniyyah dengan menganggap ayat-ayat kauniyyah terpisah dari ayat-ayat quraniyah, sebagaimana para sainstis sekarang percaya dan mengatakan bahwa sains tidak ada ada unsur nilai-nilai di dalamnya, ia bebas nilai dan kewujudannya berdiri sendiri dan terpisah dari sejarah dimana dilahirkannya, atau hal yang sama pada seorang pemimpin yang memerintah secara hukum besi demi menegakkan semangat nasionalisme dan persatuan (perpaduan), sudah pasti ia akan mendefinisikan hal itu secara chauvinism sempit, seperti yang ditunjukkan oleh Fasisme Jepang, Jerman dan Itali.

Dengan demikian, kebangkitan dan kejatuhan sebuah kerajaan yang adikuasa dalam perspektif yang lebih luas sangat bereratan dengan apresiasi terhadap budaya ilmu, dari situ, kita dapat melihat seseorang atau suatu bangsa yang mempunyai kekuasaan tidak akan dapat mempertahankannya apalagi mengembangkannya. Sebab ia akan sangat bergantung terhadap orang atau bangsa lain yang mempunyai tradisi budaya ilmu yang baik, walaupun ia atau bangsa tersebut secara kuantitas mungkin lebih banyak atau dari segi kekuatan ketentaraannya lebih kuat,[3] seperti yang telah disinggung di atas tadi, tapi ia tidak menjadi faktor hakiki sebab mungkin setelah memenangkan tidak tahu apa yang harus dibuat.[4] Dan contoh yang paling tepat dalam hal ini, kaum barbar Jerman yang dipimpin oleh Attila (453 Masehi) dan telah menaklukkan imperium Romawi. Kemudian bangsa Monggol semasa dibawah kepemimpinan Jenghis Khan (1227 Masehi) dalam hubungannya dengan peradaban Cina, termasuk bangsa Eropa, Turki, Mongol, dan juga bangsa-bangsa yang terdapat dalam kepulauan Nusantara dalam kaitannya dengan peradaban Islam[5].

Dari sini, Prof Al-Attas menganalisis, kenapa imperium Romawi yang masa itu sudah ditaklukkan, justru malah sebaliknya, ianya masih tetap kokoh dengan peradabannya yang tinggi dan kaum barbar Jermanlah yang justru ter-romawikan dimana kebudayaan (baca: cara hidup feudalistik) dan cara pandang (worldview)nya  mereka tiru. Hal ini disebabkan, kata Prof Al-Attas, peradaban yang dimiliki oleh bangsa Romawi telau memukau kaum barbar ini dengan kesusilaan dan kewibawaan falsafah pemerintahannya[6]. Hal yang sama juga terjadi pada bangsa Mongol, bangsa ini pada akhirnya “memeluk” Cina sebagai sumber inspirasi cara pandangnya, dengan kata lain mereka telah di”cina”kan.[7] Begitu pula, bangsa Eropa, Turki dan bangsa-bangsa lainnya telah berubah secara revolusioner, mereka menjadi bangsa yang berperadaban tinggi, dan menjadi bagian dari peradaban Islam, walaupun khusus untuk bangsa Eropa, sebab mereka tidak memeluk Islam, tetapi setidaknya ada arus (baca: perubahan) ini ke arah yang positif, sebab tak terbantahkan lagi faktor munculnya ide  renaissance (pencerahan) ini tidak bukan tidak lain akibat dari persentuhan mereka dengan Islam.

Dalam kaitan pengaruh-mempengaruhi ini, Prof Wan mengatakan bahwa “yang mempunyai tradisi ilmu akan mempunyai pengaruh yang besar kepada bangsa lain yang jauh lebih besar jumlah rakyatnya dan lebih kuat bala tentaranya.”[8] Pernyataan ini dikaitkan dengan apa yang telah dimiliki oleh bangsa Yunani, sebagai bangsa yang gemar akan ilmu pengetahuan, karena itu, pengaruh hasil keilmuan bangsa ini begitu berpengaruh besar terhadap bangsa-bangsa lain dan salah satunya bangsa Romawi, ia pada akhirnya menjadi yang tidak terpisahkan dengan peradaban Yunani, walaupun ia secara kuantitas jumlahnya lebih sedikit.[9]

Maka semua peradaban Yunani yang kemudian wujud dalam wajah dan wijhah peradaban Romawi, seterusnya mewarnai bangsa barbar Jerman, seterusnya menguasai bangsa Eropa sampai moderen ini, atau bangsa Mongol yang telah di”cina”kan, atau peradaban Islam yang telah mengubah dan memartabatkan watak dan wajah Turki, masyarakat yang di negara-negara sub-continent, bangsa yang berada di wilayah Nusantara, Arab, sebagian Afrika, dan lain-lainnya, telah menunjukkan worldviewnya Barat, Islam, Cina yang berbeda satu sama lain. Yunani-Romawi-Eropa (baca: Barat-Kristian-sekularisme), Cina (Confucianisme), Islam dan lain-lainnya sekali lagi berbeda dari segi perwatakan, perwajahan, cara memandang dan pandangan hidupnya.

Jadi di sini sangat jelas sekali, bahwa pandangan hidup terbentuk dalam wajah dan watak sebuah peradaban tidak jauh berbeda dengan proses pencariannya atau dengan kata lain epistemologinya (lihat asas dan prinsip mengetahui), karena itu, jawaban atas pertanyaan ini boleh mencukupi, yaitu kenapa pandangan hidup Mongol bisa berhasil di”cina”kan, kaum barbar Jerman ter-romawikan atau seluruh Eropa menjadi Barat karena mereka terpesona dengan pandangan hidup peradaban yang tinggi daripada peradaban yang mereka hasilkan atau mungkin mereka sendiri tidak mempunyai pandangan hidup kemudian mereka mencarinya.

Dengan demikian, menjadi jelaslah benang merah pembeda pandangan hidup (worldview) masing-masing antara satu dengan yang lainnya, dan dalam kaitannya ini, tak terbantahkan bahwa (budaya) ilmu pun menjadi faktor terpenting pembeda tersebut karena ia juga menentukan bangkit dan jatuh, bahagia, jaya dan kuatnya suatu bangsa. Karena dari situ, kemudian seperti yang dikatakan oleh Prof Wan bahwa,

“semua agama dan sistem sosial menganjurkan ahlinya ke arah ilmu pengetahuan sekurang-kurangnya sebagai faktor penerusan agama, kepercayaan atau warisan dari suatu generasi ke satu generasi yang lain. Tujuannya yang paling utama ialah untuk mencapai kejayaan dan kekuatan individu dan kumpulan social – untuk kepentingan duniawi, dan seperti agama Islam dan beberapa agama lain, meliputi kebahagiaan ukhrawi. Untuk mencapai matlamat penerusan nilai budaya antara generasi dan untuk kebahagiaan inilah maka pendidikan, sama ada secara formal atau tidak formal, dilakukan oleh p[ihak yang berkenaan  dalam setiap masyarakat sepanjang sejarah manusia.”[10]

 

Kaitannya dengan di atas ini, sebab setiap peradaban membawa pandangan hidupnya masing-masing maka setiap gagasan, ide, atau konsep tidak akan terlepas dari cara pandang setiap peradaban tersebut, hal inilah, lanjut Prof Wan mengatakan bahwa

“Kelemahan dan kejatuhan individu dan bangsa merujuk kepada faktor ilmu juga, yaitu dari segi kepincangan konsep mahupun dari segi kegagalan dalam pelaksanaan. Kepincangan konsep mungkin berpunca daripada kelemahan penggubal awalnya seperti semua konsep ilmu hasil pemikiran baik daripada ahli falsafah Yunani kuno, China dan Barat modern: ataupun mungkin berpunca daripada kesilapan tafsiran para pengikut mereka yang terkemudian seperti yang berlaku kepada konsep ilmu agama Kristian dan Islam.”

 

Dari pernyatan Prof Wan ini ada dua hal yang dapat ditarik kesimpulan, kesimpulan pertama, bahwa berbicara tentang ilmu maka pada saat yang sama ia kan membicarakan pandangan hidupnya (worldview) karena keduanya ber-eratan. Lalu, jika orang Yunani memahami secara teoritis bahwa ilmu dan etika ber-eratan, namun secara praktis atau amalan bertolakbelakang, maka itulah fakta yang sebenarnya tentang realitas worldview atau pandangan hidup tamadun Yunani, kemudian jika pandangan hidup Yunani ini mewarnai terhadap sifat ilmu yang sedang/telah dikembangkan oleh peradaban Barat, kata Prof Al-Attas ada tiga unsur yang muncul dan wujud dalam tamadun Barat ini, yaitu dualisme, humanisme, dan tragedi. Berikut ini adalah ungkapannya,

Pertama, faham pandangan hidup sekuler atau dengan kata lain humanisme. Faham ini hanya mementingkan dasar keistimewaan kemanusiaan, keduniaan dan kebendaan, dalam kata lain ia menolak untuk meletakkan Agama sebagai pandangan hidupnya. Dari sini, faham humanisme muncul dalam rupa sosialisme dan kapitalisme. Secara kasat mata, dua faham ini seperti bertolak-belakang dalam mencapai tujuan akhirnya namun ditinjau dari dasar pandangan hidupnya, kedua faham ini sebenarnya sama, yaitu humanisme. Kemudian, yang kedua, dari segi faham filsafatnya, kebudayaan Barat bersumberkan pada faham dualisme, yaitu faham penduaan terhadap realitas nilai kebenaran yang secara mutlak. Artinya Barat mengikrarkan pemutlakan adanya dua hakikat dan kebenaran yang bertentangan. Dan yang terakhir, bahwa  kebudayaan Barat bersumberkan pada faham pandangan hidup yang tragis, yaitu suatu faham yang menerima pengalaman kesengsaraan hidup sebagai satu kepercayaan yang mutlak dalam mempengarui peranan manusia hidup didunia. Cerita Sisyphus[11] yang terdapat dalam mitos Yunani, yaitu pekerjaan yang terus menerus tentang mendorong sebongkah batu ke atas gunung kemudian setelah sampai di atas tersebut, digelindingkan kembali ke bawah, diibaratkan sebagai sebuah gambaran dalam kebudayaan Barat yang menganggap tragedi sebagai satu unsur penting kehidupan manusia, bahwa manusia merupakan pelakon dalam drama kehidupan dan pahlawan-pahlawannya membawakan watak yang tragis. Faham tragedi ini, menurutnya, disebabkan oleh falsafah penduaan yang memutlakkan adanya dua kebenaran yang bertentangan, sehingga menimbukan syak dan ketegangan jiwa, seterusnya karena keadaan jiwa yang tidak tentram sehingga mengakibatkan munculnya perasaan takut dan sedih mengenang nasib dirinya.[12]

 

Maka melihat cara kerja faham ini, sebagaimana yang diilustrasikan oleh Prof Al-Attas tentang Barat dalam hal ini adalah Barat selalu berusaha mencari jawaban-jawaban untuk soalan-soalan metafisika, dan juga menyelidiki dan melakukan observasi terhadap soalan tentang asal-usul alam dan manusia, melakukan revisi terhadap teori yang telah mapan dalam rangka membangun teori yang baru, dan renungan yang lain-lainnya yang dianggap sebagai sebuah ilmu pengetahuan, akan tetapi pencarian Barat terhadap ini tidak pernah selesai dan tiada ujung akhirnya. Tentunya, ini ada hubungannya dengan faham kesengsaraan hidup atau faham tragedi yang telah dijelaskan di atas tersebut, yang mengatakan bahwa pengembaraan yang tiada henti dan tidak ada akhirnya dapat meringankan beban kekosongan dan kesunyian kalbu, seolah-olah sebagai bagian dari penawar hati yang resah.[13]

Dan sebagai contoh, kita dapat melihat beragam periodisasi pemikiran di Barat, mulai dari rasionalisme, empirisme, positivisme, pragmatisme, modernisme, dan postmodernisme, juga nihilisme, minimalisme, anarkisme dan sebagainya. Begitu beraneka ragam pemahaman dan pemikiran tentang cara pandang mereka terhadap konsep manusia, metafisika dan Tuhan, mulai faham mitos sampai ke filsafat Tuhan mati, menunjukkan dan membuktikan dan tanpa dibantah lagi, bahwa pandangan hidup atau worldview tersebut mengandung semangat dan faham yang akan berusaha melelehkan segala bentuk usaha pemapanan terhadap faham, terma dan pemikiran agama (taqdÊs al-afkÉr al-dÊnÊ) yang menurut pandangan hidup Islam sangat bertolak belakang.[14]

 

B.   Kekeliruan ilmu

 

Prof Al-Attas menengarai, bahwa “kekeliruan dan penyelewengan dalam ilmu”, yang kemudian berdampak kepada tersirnanya adab seseorang (lost of adab) di berbagai kalangan dan golongan, sama ada golongan elite atau bukan. Sedangkan perkataan adab yang dimaksud oleh Prof Al-Attas ini adalah seperti yang diungkapkannya, yaitu “recognition and acknowledgment of the reality that knowledge and being are ordered hierarchically according to their various  grades and degress of rank, and of one’s proper place in relation to that reality and to one’s physical, intellectual and spiritual capacities and potentials.”[15] Karena, bagi Al-Attas, ada kaitan antara kekeliruan dan penyelewangan dalam ilmu dengan sirnanya adab tersebut itu, lanjutnya ia mengatakan bahwa,

“these two conditions, namely, the confusion and error in knowledge as well as the loss of adab, create a most pervasive and devastating problem within the Muslim communities globally, viz., the rise of false individuals who are qualified for valid leadership, who do not possess the high moral, intellectual, and spiritual standards required for Islamic leadership in all fields, who perpetuate these two conditions and ensure their continues control over the affairs of the Community by leaders like them who dominate in all fields.”[16]

 

Kemunculan penggadaian marwah (harga diri) demi mengejar sesuap pangkat, kekuasaan, wanita dan jabatan, seperti yang digambarkan dalam film Melayu klasik; Musang Berjanggut, dimana penguasa, penasihat, sekertaris, dan cendikiawan terlibat dalam intrik-intrik politik dan ini kerap kali terjadi dalam sejarah dimana jua, dan karena mereka inilah awal kehancuran sebuah pemerintahan secara hakikinya. Karenanya mereka pulalah yang harus bertanggung jawab atas pelbagai ini, hal ini karena akibat keterlampauan para cendekiawan dan para oportunis politik yang telah mengelirukan dan menyelewengkan ilmu sehingga mengakibatkan wibawa pemerintah, kerajaan, kesultanan hilang kepesonaan adabnya. Dalam sejarah Islam pun pernah terjadi akibat keterlampauan para ulama dan oportunis politik, seperti pembakaran terhadap karya-karya Imam al-Ghazali oleh kerajaan al-Murabbitun (AL-Moravids), penghancuran perpustakaan kebanggaan Abdul Rahman III oleh kerajaan Umayyah, seperti yang diceritkan oleh Sa’id al-Andalusia menyebutkan buku-buku koleksinya tidak ada hubungannya dengan agama, semuanya tentang kedokteran, bahasa, puisi, matematik, astronomi dll. Tetapi harus dibakar, dibuang ke perigi Istana dan ditanam di dalamnya dengan tanah. Lanjutnya, ia mengatakan dibuatnya sedemikian rupa karena meminta rakyat di Andalusia mendukung pemerintahannya sembari menjatuhkan kredibilitas pemerintah al-Hakam II.[17]

          Hal yang sama pernah terjadi ketika kesultanan Syiah pertama berdiri pada abad (1501 Masehi) di negeri Persia (sekarang Iran) sampai jatuhnya pada abad 1722 Masehi, dan  disebutkan pada masa itu Sultan terakhir yang memerintah adalah Sultan Husen Shah, ia sendiri secara pribadi seorang saleh dan baik hati, namun karena ia tidak punya kemampuan layaknya seorang pemimpin, maka selama ia memimpin banyak melakukan perkara-perkara yang tidak adil dan inilah pokok yang menjadi sebab kejatuhan dinasti Safawi di Persia.[18]

          Tentang contoh-contoh kekeliruan dan penyelewangan dalam ilmu dan hubungannya dengan sirnanya adab dapat ditemukan juga dari hasil riset yang telah dilakukan oleh Prof Karel A. Steenbrink dalam bukunya “Beberapa Aspek tentang Islam di Indonesia Abad ke19.[19] Misalnya di bab kedua, “Beberapa Peristiwa Penting Abad ke-19 dan Aspek Sosial Politiknya, bagian Jihad Cilegon (9-30 Juli 1888),[20] menyebutkan kekurangsetujuan Sayyid Uthman (seorang an adviseur honorair voor Arabishe zaken atau Penasehat Honorer untuk Perkara-perkara Arab) terhadap perjuangan Muslim Banten yang melakukan pemberontakan terhadap penguasa sah Belanda masa itu,[21] yang menurutnya, sembari mempertanyakan makna Jihad dan ketidakmengertian arti Jihad yang sebenarnya, dan perilaku tersebut, baginya adalah ghurur.[22] Ia mengatakan dalam bukunya Manhaj al-Istiqamah, berikut ini,

…maka dari itu diketahui bahwa perbuatan bikin rusuh negri, sebagaimana yang terjadi di Cilegon Banten dan yang dahulu di Bekasi sekalian itu batil, bukannya jihad sebab tiada syarat-syaratnya, malahan perbuatan begitu rupa melanggar agama dengan menjatuhkan beberapa banyak darurat pada orang-orang sebagai yang telah jadi dahulu di negri Jeddah. Maka dihukum oleh raja Islam dengan segala hukuman atas orang yang bikin rusuh negri itu. Maka dengan itu pula diketahui, bahwa itu perbuatan begitu rupa melanggar syara’ dan juga membusukkan nama agama, jika dikatakan bahwa agama yang perintah begitu dan tiap-tiap orang yang mengerti di dalam perkara Bab al-Jihad tentu ia tahu, bahwa itu perbuatan, yang tersebut itu bukannya jihadnya jihad, hanya itu perbuatan menjatuhkan celakaan atas diri dan atas orang-orang. Maka dari karena itu tiada ada sekali-kali yang buka mulut di dalam perkara perang sabil oleh beberapa ulama yang besar-besar, lagi orang dari bangsa Arab, yang datang ke tanah Jawa dan beberapa banyak pula ulama dari bangsa Jawa dan Melayu dari zaman dahulu, beratus-ratus tahun hingga sekarang. Maka belum pernah satu daripada ulama, yang tersebut itu membuka mulut mengajarkan orang-orang perang sabil, padahal mereka itu terlebih mengerti di perkara agama dan terlebih kuat membuat ibadat dan memegang agama, dari pada orang sekarang, Maka dengan sebagaimana yang telah tersebut itu, dapat diketahui sungguh-sungguh bahwa barang yang telah diperbuatkan oleh orang-orang yang bikin rusuh negri, itulah semata-mata ghurur, kena menurut padanya syaitan, karena mencela akan orang-orang dan pula membusukkan nama agama dan membusukkan pula nama-nama orang-orang yang baik.[23]


[1] Wan Mohd Nor Wan Daud, Penjelasan Budaya Ilmu, cetakan ketiga, Kuala Lumpur: Dewan Budaya dan Pustaka,  1997, hal.4-5.

[2] Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and secularism, second impression, KL: ISTAC, 1993, hal. 105-106.

[3] Al-Baqarah, 2:249.

[4] Wan Mohd Nor Wan Daud, Penjelasan Budaya Ilmu,  hal.10-11

[5] Sila rujuk selengkapnya, Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu: Suatu Mukaddimah mengenai peranan Islam dalam peradaban sejarah Melayu-Indonesia dan kesannya dalam Sejarah Pemikliran, Bahasa, dan Kesusasteraan Melayu, cetakan keempat, KL: ABIM, 1990.

[6] Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam dalam Sejarah…, hal. 4-5.

[7] Wan Mohd Nor Wan Daud, Penjelasan Budaya Ilmu,  hal.11.

[8] Ibid., hal 12-13.

[9] Ibid.

[10] Wan Mohd Nor Wan Daud, Penjelasan Budaya Ilmu,  hal.31

[11] Tentang cerita dan konsep falsafahnya yang terdapat dalam dongeng Sisyphus, baca selanjutnya, Albert Camus, The Myth of Sisyphus and Other Essays, diterjemahkan dari Bahasa Francis oleh Justin O’Brien, NewYork: Alpred A. Knopt, 1969.

[12] Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Risalah Untuk Kaum Muslimin, KL: ISTAC, 2001,  hal. 20-21.

[13] Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Risalah, hal. 20-21.

[14] Silakan rujuk, Malki Ahmad Nasir, “Dekonstruksi terhadap Islam: Studi Kritis terhadap Arkounisme” artikel ini telah disampaikan di Forum Sabtuan (INSISTS), Jakarta, bulan April 2007, hal. 1-2. Dan untuk membuktikan argumentasi di atas tersebut, silakan rujuk hasil riset penulis yang telah diterbitkan, Malki Ahmad Nasir, “Hermeneutika Kritis: Studi Kritis atas Pemikiran Habermas”, Islamia, Tahun 1, No.1. Muharram 1425/Maret 2004. hal. 30-37,  idem, “ Dekonstruksi Arkoun terhadap Makna Ahl al-kitÉb”, Islamia, Tahun 1 No. 4, Januari- Maret 2005. hal. 61-70.

[15] Syed Muhammad Naquib Al-Attas, The Concept of Education in Islam: A Framework for An Islamic Philosophy of Education”, third impression, KL: ISTAC, 1999,  hal. 27.

[16] Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and secularism…, hal. 106. Lihat juga, Syed Muhammad Naquib al-Attas dan Wan Mohd Nor Wan Daud, The ICLIF Leadership Competency Model (LCM): An Islamic Alternative, KL: ICLIF, 2007, hal. 156.

[17] Wan Mohd Nor Wan Daud, “Iklim Kehidupan Intelektual di Andalusia: Satu Cerminan Islamisasi Dua-Dimensi,”Siri Gerak Andalusia, Pulau Pinang: USM, 2007, hal. 23.

[18] Syed Muhammad Naquib al-Attas dan Wan Mohd Nor Wan Daud, The ICLIF Leadership…, hal 157-8.

[19] Silakan rujuk selengkapnya, Karel A. Steenbrink, Beberapa Aspek tentang Islam di Indonesia Abad ke19, cetakan pertama, Jakarta: Bulan Bintang,1984.

[20] Ibid., hal. 52-57

[21] Silakan rujuk, gambaran umum tentang pemberontakan Muslim Banten itu pada, Sartono Kartodirdjo, 1966. The Peasants’ Revolt of Banten in 1888, Gravenhage Martinus Nijhoff.

[22] Lihat riset yang telah dilakukan  oleh Azyumardi Azra, “Hadhrami Scholars in the Malay-Indonesian Diaspora: A Preliminary Sudy of Sayyid Uthman”, Studia Islamika, 1995, vol. 2, No. 2, hal. 1-33. Nico Katein, “The Sayyid and the Queen: Sayyid Uthman on Queen Wilhelmina’s Inauguration on the Throne of the Netherlands in 1898,” Journal of Islamic Studies, 1998, Vol. 9, No. 2, hal 158-177. Dan sila rujuk hasil riset yang secara umum oleh  R. B. Serjeant, The Sayyids of Hadramawt, London: SOAS, 1957, hal. 1-29. 

[23] Dikutip dari Karel A. Steenbrink, Beberapa Aspek tentang Islam…, hal. 63-64.

Leave a Reply