Home Artikel Konsep Aql dan Qalb dalam Perspektif Islam (1)

Konsep Aql dan Qalb dalam Perspektif Islam (1)

10665
0

 

 

Oleh: Dinar Dewi Kania (Dosen Universitas Trisakti, Jakarta)

Aql dan Qalb merupakan keadaan (ahwal/modes) dari jiwa manusia yang bergerak aktif dan terus menerus dengan karakteristik khusus yang dimiliki masing-masing. Dalam Al-Qur’an, kata ‘aql semuanya menunjukan unsur pemikiran pada manusia, sedangkan penggunaan qalb selain merujuk pada hal-hal yang berkaitan dengan emosi tetapi juga pemikiran pada manusia.

 

A.    PENDAHULUAN

Sepanjang umur peradaban manusia baik di Timur maupun di Barat, dunia tidak pernah sepi dari pergumulan manusia dalam mencari  kebenaran.  Sebagian manusia itu akhirnya sampai pada keberanan ajaran tauhid dan  menemukan Allah SWT sebagai Tuhan, satu-satunya Zat penguasa alam semesta.  Meskipun demikian, tidak sedikit dari mereka akhirnya terjebak dalam fantasi-fantasi semu atau justru menjadi skeptis sehingga meragukan kemampuan manusia dalam memperoleh kebenaran.   Menurut  Ibn Khaldun,  keinginan untuk mengetahui segala sesuatu di luar diri manusia merupakan naluri atau fitrah yang diberikan Allah SWT sehingga dengannya muncullah ilmu pengetahuan.  Socrates, seorang  Filosof terkenal dari Yunani, meyakini bahwa  manusia  akan mampu membuat strandarisasi  sahih dan permanen tentang  kebenaran melalui akal yang sehat.[1] Jika akal berfungsi baik, maka manusia akan menjadi makhluk berkesadaran tinggi.[2]   

Dengan adanya naluri untuk mencari kebenaran, maka timbulah pendidikan.  Implikasinya, pembahasan mengenai akal menjadi salah satu topik sentral dalam filsafat pendidikan, sosiologi pendidikan dan psikologi pendidikan di era modern. Para filosof Barat telah melahirkan berbagai konsepsi mengenai akal, contohnya Aristoteles,  berusaha menciptakan hukum akal dengan mencipta suatu ilmu yang disebut logika (mantiq).[3]  Tetapi  Barat memandang ketepatan pandangan dan kebenaran konsepsi itu semata-mata bertumpu pada rasionalitas sekuler dan metode saintifik naturalistik. Trend umum penolakan psikologi dan teori pendidikan Barat terhadap peran fakultas kejiwaan dalam mencapai pengetahuan telah dilakukan sejak abad pertengahan  karena konsepsi mereka yang salah terhadap akal dan proses belajar. [4]

Usaha untuk mengetahui hakikat jiwa manusia  sebagai saluran dalam mencapai pengetahuan sebenarnya dilakukan para ulama Muslim di masa lampau. Ibn Sina dan Ibn Khaldun, membuat tingkatan-tingkatan berpikir dari akal seorang manusia. Al-Ghazaly dan Ibn Tamiyah selain berbicara tentang  aql, juga membahas qalb yang memiliki fungsi hampir serupa dengan qalb.  Pemikir Muslim kontemporer asal Malaysia, Syed Muhammad Naquib Al Attas[5] membenarkan adanya kemampuan psikologis dan proses kognitif dalam jiwa manusia yang diletakkan sesuai dengan perannya.[6]

Bagaimanakah sebenarnya  konsepsi, fungsi, dan  kedudukan aql  serta qalb   dalam perspektif Islam?  Bagaimana pandangan ulama-ulama klasik seputar masalah ini? Serta apakah konsepsi aql  dan qabl mengalami perubahan  setelah adanya penemuan-penemuan terbaru dalam bidang sains dan teknologi?  Melalui tulisan ini diharapkan pertanyaan  mendasar seputar aql dan qalb dapat terjawab sehingga  konsepsi yang datang dari Barat  tidak serta merta kita terima tanpa mengkritisinya terlebih dahulu.   

 

B.     PENGERTIAN AQL DAN QALB

1)      Etimologis

Untuk memulai pembahasan mengenai konsep akal (aql) dan kalbu (qalb) perlu diurai penggunaan kedua terminologi ini dalam konteks kebahasaan. Dalam kamus bahasa aql,  berasal dari kata kerja  aqala-ya’qilu-aqlan. Kamus-kamus Arab memberikan arti aql (secara harfiah) dengan pengertian al-imsak (menahan), al-ribath (ikatan), al-hijr (menahan), al-nahy (melarang) dan man’u (mencegah).[7] Orang yang berakal (al-‘aaqil) adalah orang yang mengekang dirinya dan menolak keinginan hawa nafsunya. [8]

      Merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, akal  mempunyai beberapa pengertian yang berbeda,  yaitu , (1) daya  pikir (untuk mengerti, dsb); (2) daya, upaya, cara melakukan  sesuatu; (3) tipu daya, muslihat,  dan (4) kemampuan melihat cara-cara memahami lingkungan. [9] Sedangkan  qalbu – dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi hati. Namun demikian, Hati selain memiliki arti  biologis (liver), juga memiliki pengertian sebagai sesuatu yang ada di dalam tubuh manusia yang dianggap sebagai tempat segala perasaan batin dan tempat menyimpan pengertian-pengertian (perasaan-perasaan).[10]

Dalam bahasa Inggris, aql dapat diterjemahkan menjadi mind, reason, common sense[11],  atau thought. Tetapi  al- Attas menerjemahkan aql sebagai  mind dan qalb menunjuk pada heart.  Secara bahasa, mind dalam Oxford Dictionary berarti, “seat of consciousness, thought, volition, and feeling; intellectual powers as distinct from will and emotion.”  Sedangkan heart selain  berarti  jantung, juga dimaknai sebagai, “centre of thought, feeling and emotion (especially love); capacity for feeling emotion, courage, enthusiasm, center of innermost part, essence.”

Secara etimologis dapat disimpulkan bahwa aql dan  qalb, keduanya memiliki fungsi kognisi dan afeksi. Aql dan qalb mampu melakukan aktivitas berpikir sekaligus merasa. Secara khusus, bahasa Arab mengaitkan akal dengan kemampuan  seseorang untuk mengekang hawa nafsunya, sedangkan dalam bahasa Indonesia, kita menjumpai pengertian akal secara negatif, yaitu ketika dipergunakan untuk memperdaya orang. Sedangkan dalam bahasa Inggris ditemukan bahwa kalbu merupakan tempat bersemayamnya hati nurani manusia.

 

2)      Penyebutan aql dan qalb dalam Al Qur’an

a.      Aql

Aql sebagai  masdhar tidak disebutkan dalam Al Quran. Tetapi sebagai kata kerja ‘aqala dengan segala akar katanya terdapat dalam al Quran sebanyak 49 kali. Semuanya menunjukkan unsur pemikiran pada manusia.[12]

a.     Bentuk    عقلوهdisebutkan satu kali.. QS al-Baqarah (2) : 75.

Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?.

 

b.     Bentuk   تعقلونdisebutkan sekitar 24 kali, salah satunya dalam surat Yusuf 109.

Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya di antara penduduk negeri. Maka tidakkah mereka bepergian di muka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan rasul) dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memikirkannya?

 

c.   Bentuk نعقل disebutkan satu kali dalam surat Al  Mulk (67) ayat 10.

Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.

 

d.     Bentuk  يعقله disebutkan satu kali dalam surat Ankabuut (29)  ayat 43.

Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.

 

 

 

e.  Bentuk يعقلون disebutkan sekitar 22 kali. Salah satunya dalam al Baqarah (2) ayat  164.

 

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) -nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.[13]

 

b.      Qalb

Dalam al-Qur’an, kata qalb digunakan sebanyak 144 kali. Penggunaan qalb selalu merujuk pada hal-hal yang berkaitan dengan emosi dan akal pada manusia. Ia memiliki arti lebih khusus dari nafs sebagai penggerak naluri atau biologis, yaitu hanya  terbatas pada bagian yang disadari.[14]

a.      Kata qalb dalam Surat Asyu’araa’ (26)  ayat 89.

Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.

 

b.   Surat Al Hujuraat (49)  ayat 7.

Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.

 

c. Surat Al Maa’idah (5) ayat 41.

Hai Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu di antara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka: “Kami telah beriman”, padahal hati mereka belum beriman; dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. (Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka merobah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. Mereka mengatakan: “Jika diberikan ini (yang sudah dirobah-robah oleh mereka) kepada kamu, maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini, maka hati-hatilah” Barang siapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatu pun (yang datang) daripada Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak menyucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.

 

 

C.    FUNGSI DAN KEDUDUKAN

1)      Fungsi ‘Aql

Sebagaimana telah dijelaskan pada bagian pendahuluan bahwa masalah  akal manusia telah mendapat perhatian cukup besar dari para ulama di masa lalu. Mereka menafsirkan fungsi akal berdasarkan perannya sebagai sarana untuk meperoleh pengetahuan.  Menurut al-Ghazali akal memiliki banyak makna. Secara filosofis, akal adalah daya intelek dengan sifat alami untuk mengetahui segala sesuatu. . Al Ghazali berpendapat bahwa akal memiliki banyak aktivitas. Aktivitas itu adalah al-nazhar (melihat dengan memperhatikan), at-tadabbur (memperhatikan secara seksama), al-ta’ammul (merenungkan), al-istibshar (melihat dengan mata batin), al-I’tibar (mengiterpretasikan), al-tafkir (memikirkan), dan al-tadakkur (mengingat). [15]

Akal memiliki beberapa fungsi tetapi yang terpenting adalah sebagai first intelligence yaitu pengetahuan yang melekat dan bersifat ilahiah yang ditanamkan pada diri manusia, atau bisa dikatakan sebagai fitrah. Meskipun demikian, manusia tidak secara otomatis dapat menggunakan potensi akal ini. Manusia harus mengembangkan potensi jiwanya agar akal yang benar dapat dicapai dan dipergunakan sesuai peruntukannya, yaitu berfikir.[16] Al-Quran  berulang kali menyuruh manusia untuk memfungsikan akalnya agar tidak menjadi makhluk yang bergerak yang bernyawa yang paling buruk dalam pandangan Allah seperti tertulis dalam Surat al-Anfaal (8) ayat 22.

Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: “Harta rampasan perang itu kepunyaan Allah dan Rasul, sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman.

 

Sedangkan ulama besar lainnya, Ibn Taimiyah mengkonsepsikan   kata al-‘aql sebagai kata sifat. Aql merupakan potensi yang terdapat dalam diri orang yang berakal. Ibn Taimiyah mendasarkan pendapatnya pada  al-Quran dalam  yaitu, dalam firman  La’allakum ta’qiluun (agar kalian mengerti). Juga pada Qad bayyanna lakun  al aa-yaati in kuntum ta’qiluun (telah kami terangkan ayat-ayat Kami jika kamu mengerti), dan lain-lain. Sehingga beliau berkesimpulan bahwa  kata al’aql tidak bisa dipakai untuk menyebut al-ilmu (ilmu) yang belum diamalkan oleh pemiliknya, juga tidak bisa dipakai untuk menyebut amal yang tidak dilandasi ilmu. Kata al’aql hanya bisa dipakai untuk menyebut ilmu yang diamalkan dan amal yang dilandasi ilmu.”[17]

Jika Al-Ghazali beranggapan bahwa aql pengetahuan yang melekat dan bersifat ilahiah yang ditanamkan pada diri manusia, atau bisa dikatakan sebagai fitrah begitu pula  pandangan Ibn Khaldun, seorang ulama yang hidup beberapa ratus tahun setelah Al-Ghazali.  Ibn Khaldun melihat aql sebagai potensi dan salah satu fungsinya adalah berpikir. Menurut Ibn Khaldun fikr adalah penjamahan bayang-bayang ini di balik perasaan, dan aplikasi akal di dalamnya untuk membuat analisa dan sintesa. Inilah arti kata af-idah (jamak dari fu-ad) dalam surat Al Mulk (67) ayat 23. Fuad ini yang dimaksud dengan pikiran atau fikr.

Katakanlah: “Dia-lah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati”. (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur.

 

Kesanggupan berpikir menurut Ibn Khaldun ada beberapa tingkatan, yaitu  : (1) akal pembela (al-‘aql ut-tamyizi).  Akal ini  membantu manusia memperoleh segala sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya, memperoleh penghidupannya, dan menolak segala yang sia-sia  bagi dirinya, (2) akal eksperimental  (al-‘aql at-tajribi). Ialah  pikiran yang melengkapi manusia dengan ide-ide dan perilaku yang dibutuhkan dalam pergaulan dengan orang-orang di bawahnya dan mengatur mereka. Pemikiran semacam ini kebanyakan berupa appersepsiappersepsi (tashdiqat), yang dicapai satu demi satu melalui pengalaman, hingga benar-benar dirasakan manfaatnya, (3) akal spekulatif (al-‘aql an nadzari) adalah pikiran yang melengkapi manusia dengan pengetahuan (‘ilm) atau pengetahuan hipotesis (dzann) mengenal sesuatu yang  berada di belakang persepsi indera tanpa tindakan praktis yang menyertainya. [18]


[1] Syaikh Nadim al-Jisr, Para Pencari Tuhan ;Dialog Al Quran, Filsafat dan Sains dalam Bingkai Keimanan, Jakarta : Pustaka Hidayah, 1998, hlm. 36.

[2][2] Taufiq Pasiak, Revolusi IQ/EQ/SQ;  Antara Neurosains dan Al-Quran, cetakan ke-5, Jakarta : Mizan, 2005, hlm.28

[3] Hasan Langgunung, Manusia dan Pendidikan; Suatu Analisa Psikologis, Fisafat dan Pendidikan, Jakarta : Pustaka Al Husna Baru, 2004, hlm. 221.

[4] Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas, Jakarta : Mizan, 2003, hlm. 298.

[5] Syed Muhammad Naquib Al-Attas merupakan cendikiawan Muslim yang hidup di abad ini. Gagasannya mengenai Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer  yang didasarkan pada metafisika dan epistemologi yang jelas, merupakan titik kulminasi beberapa konseptualnya yang tertuang dalam Prolegomena to the Metaphysics. Kelebihan Al-Attas dibandingkan sarjana Muslim kontemporer lainnya adalah keakuratannya memahami penyebab utama kemunduran umat Islam. Kemunduran umat Islam yang terjadi beruntun sejak abad belakang ini disebabkan oleh kerancuan ilmu ( corruption of knowledge)  dan lemahnnya penguasaan umat terhadap ilmu pengetahuan.

[6] Wan Mohd Nor Wan Daud, hal. 297

[7] Taufiq Pasiak, Revolusi IQ/EQ/SQ, hlm. 193.

[8] Sayyid Muhammad Az-Za’balawi, Pendidikan Remaja; antara Islam dan Ilmu Jiwa, Jakarta : Gema Insani, 2007, hlm. 46.

[9] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Cetakan ke-3, Jakarta : Balai Pustaka, 1990, hlm.  14.

[10] Ibid., hal. 301

[11] Dalam kamus filsafat, pengertian akal dibedakan menjadi dua yaitu : (1) akal sehat atau  common sense (berasal dari bahasa latin sensus communis) merupakan pemahaman umum,  (2) akal budi  atau  reason (ratio/intellectus)  menurut Kant merupakan asal pengetahuan tentang perilaku moral dan juga merupakan sumber perasaan-perasaan dan intuisi religius. lihat Lorens Bagus, Kamus Filsafat, cetakan ke-4, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2005, hlm. 28-29.

[12] Hasan Langgunung, Manusia dan Pendidikan, hlm. 235

[13] Asbab Annuzul dari ayat ini diriwatkan dari Ibn Abbas , yaitu ketika orang kafir Quraisy meminta Rasulullah SAW agar Allah menjadikan bukit Shafa dan Marwah  sebagai emas  sehingga mereka akan beriman dan berperang bersama Rasulullah. Lalu diriwayatkan pula oleh Abi Hatim dengan tambahan, “Mengapa mereka memintamu untuk menjadikan Shafa sebagai emas, padahal mereka dapat melihat tanda-tanda kebesaran yang lebih besar daripada Shafa. Lihat Ringkasan Ibn Katsir.

 

[14] Hasan Langgunung, Manusia dan Pendidikan, hlm. 234 – 235.

[15] Endang Suherman, Perspektif Islam dalam Pendidikan Jiwa, , Bogor : Program Pascasarjana Universtas Ibnu Khaldun, hlm. 81-82.

[16] Hassan Amer, The Psychology of al-Ghazzali Concept of Normality, http://www.qsm.ac.il/asdarat/jamiea/4/HasanAamer-1.pdf 2 Januari 2010

[17] Sayyid Muhammad Az-Za’balawi, Pendidikan Remaja, hlm. 54.

[18] Ibn Khaldun, Muqaddimah, cetakan ke-7,  Jakarta : Pusataka Firdaus, 2008,  hlm. 522 -523.99

Leave a Reply