Home Artikel Khabar Shadiq Sebuah Metode Transmisi Ilmu Pengetahuan dalam Islam

Khabar Shadiq Sebuah Metode Transmisi Ilmu Pengetahuan dalam Islam

4691
2

Oleh: Mohammad Syam’un Salim

Diskursus mengenai  al-Qur’an dan  hadist Nabi  hingga  saat  ini menarik untuk
dikaji.  Sebab selain keduanya adalah sumber tertinggi dari  ilmu pengetahuan, keduanya juga diriwayatkan  dari  berita yang benar  (khabar  shadiq)  yang bersifat absolut (absolute authority) sehingga dapat dipertanggung jawabkan. Namun banyak dari sarjana barat (baca: orientalis) yang menuduhnya sebagai sumber yang palsu dan tidak  otentik. Ini tidak lepas dari asas dasar epistemologi  mereka yang hanya bersumber dari panca indra dan akal.  Berbeda dengan barat, dalam epistemologi Islam selain pancaindra dan akal, sumber ilmu pengetahuan juga melingkupi intuisi dan kabar yang benar‚ khabar shadiq‛ (true report).  Dengan kata lain, tradisi khabar shadiq hanya terdapat pada epistemologi Islam. Dan tradisi inilah yang menjadikan al-Qur’an dan hadist tetap otentik, terjaga keasliannya hingga saat ini.

Bukan tanpa alasan para orientalis bersikap ragu-ragu kepada al-Qur’an dan hadist. Mereka berasumsi bahwa ilmu pengetahuan yang bersumber dari khabar ini tidak bisa dipertanggung jawabkan. Arthur jeffery misalnya, yang menganggap bahwa sejarah kodifikasi al-Qur’an adalah fiktif serta meragukan keabsahan mushaf Utsmani. Atau William muir yang yang menganggap bahwa dalam literatur hadist nama Nabi Muhammad SAW sengaja dikutip untuk menutupi kebohongan serta berbagai keganjilan.  Pernyataan yang serupa juga dikemukakan oleh seorang orientalis kebangsaan inggris Alfred Guillaume. Ia mengatakan bahwa sangat sulit untuk mempercayai literature hadist secara keseluruhan sebagai sebuah rekaman yang otentik dari semua perbuatan serta perkataan Rasulullah SAW. lebih jauh lagi Joseph Schacht mengemukakan bahwa tidak ada hadist yang benar-benar terbukti asli dari Nabi Muhammad.  Ia juga berasumsi bahwa hadist baru muncul pada abad kedua hijriah serta meragukan keaslian hadist-hadist yang tertulis dalam  (al-kutub  as-sittah). Artinya, para orientalis ini meragukan bahkan tidak percaya akan keaslian al-Qur’an dan hadist, yang diriwayatkan oleh kabar yang benar (khabar shadiq).

Untuk tujuan pembinaan budaya ilmu, artikel lengkap bisa diunduh di sini.

2 COMMENTS

  1. assalamualaikum.. sebelumnya ini adalah komentar pertama saya setelah membaca artikel.. jadi mohon maaf apabila bahasanya kurang sopan :-)
    alhamdulillah… bertambah sedikit ilmu saya.. artikel tersebut menurut saya sangat bagus.. membuka cakrawala para penuntut ilmu… apabila diberi penjelasan lebih terperinci akan lebih baik… terima kasih

Leave a Reply