Home Saturday Forum Empat Hal yang Menjadi Jalan Masuk Ghazwul Fikr di Bidang Penelitian Ilmiah...

Empat Hal yang Menjadi Jalan Masuk Ghazwul Fikr di Bidang Penelitian Ilmiah –Catatan INSISTS Saturday Forum (INSAF) 16/3/2019

12767
0

Ada banyak penelitian diterbitkan oleh lembaga-lembaga kajian di Indonesia, pada kenyataannya memicu perselisihan di tengah masyarakat Indonesia, khususnya mayoritas muslim. Angka-angka statistik ditunjukkan untuk kepentingan menyudutkan perilaku keberagamaan umat Islam. “Hal tersebut menjadi instrumen dalam ghazwul fikri,” kata peneliti senior INSISTS, Dr. Budi Handrianto, dalam INSISTS Saturday Forum (INSAF) pekan lalu (16/3).

Ghazwul fikri, sebuah istilah yang terbentuk dari dua kata, yakni “serangan” (ghazwah) dan “pikiran” (fikr), memiliki sekurang-kurangnya 4 bentuk ketika menggunakan “penelitian ilmiah” sebagai sarananya. Keempatnya adalah (1) tasykik, atau peragu-raguan, di mana umat Islam dibuat meragukan beberapa ketetapan agama yang sudah mapan sejak awal, seperti syari’at. Beberapa penelitian hendak menunjukkan bahwa syari’at Islam surah tidak lagi relevan, bahkan mencederai HAM, karena itu harus dihapus atau setidaknya dirombak agar “sesuai” dengan semangat HAM.

Setelah itu ada pula (2) pengaburan (tasywih) dan (3) pelarutan (tadzwiib), yakni ketika keyakinan umat akan agamanya dikaburkan dengan sebentuk pemahaman lain hingga dikira sebagai hal yang larut begitu saja, menghasilkan keadaan selanjutnya, yakni (4) pembaratan (taghrib). Dalam hasil penelitian statistik, hal tersebut masuk lewat manipulasi sampel, pembesaran/pengecilan mean, median, dan mode. Umat jadi terkecohkan oleh hasil survei tersebut, terutama ketika hal itu disampaikan lewat media massa.

Pada dasarnya, rasa ingin tahu, mencari kebenaran, dan melakukan penelitian merupakan sifat dasar manusia. Untuk memenuhinya, manusia menempuh jalan baik yang ilmiah maupun non-ilmiah. Hal tersebut amat ditentukan oleh sumber-sumber ilmu yang diyakininya, mengingat ilmu pengetahuan tidaklah netral, melainkan mengandung pandangan hidup tertentu yang menentukan asumsi, teori, metode, dan sikap ilmiah.

Dr. Budi kemudian mengutip sarjana muslim, Ziauddin Sardar, bahwa sikap kita dalam mendekati sains menentukan hasilnya, apakah menjadi sekular atau Islami. Sains yang dikembangkan di Barat telah menolak wahyu sebagai sumber ilmu, sehingga hasilnya –seperti terlihat di dalam beberapa survei keagamaan- menggiring orang untuk mengamini perspektif sekuler, bahkan terhadap agamanya sendiri.

Leave a Reply