Home Artikel Bedah Buku Mawaqif: “Awas!! hati-hati Model Syirik Modern”.

Bedah Buku Mawaqif: “Awas!! hati-hati Model Syirik Modern”.

874
0

INSISTS- Setelah menggelar acara bedah buku di beberapa tempat di Jakarta, kali ini Dr. Henri bertolak ke sejumlah institusi di Jawa Timur, guna membedah karya mutakhirnya, “Mawaqif: Beriman dengan Akal Budi”. Sejak kali pertama kali terbit, memang buku ini cukup menyedot animo pencinta studi Islam, pemerhati dan masyarakat umum. Di INSISTS sendiri, karyanya ini telah ia bedah pada 12 Oktober 2019 dengan jumlah peserta yang melebihi kapasitas ruangan.

Tidak kalah ramainya tatkala karya tersebut dibedah di sejumlah tempat di luar Jakarta. Para mahasiswi yang berada di UNIDA-Gontor, Kampus Mantingan mendapatkan kesempatan paling pertama dalam lawatan road show bedah buku Mawaqif. Setelahnya disusul dengan Kampus Kandangan, Kampus Pusat Siman- UNIDA Gontor dan berikutnya INPAS Surabaya yang bertempat di kampus UNAIR.

Di awal pemaparannya, peraih gelar Ph.D University of Malaya (2016) yang di tahun 1999 sudah menulis ilmu Kalam dalam skripsi S1-nya di bawah bimbingan Prof. Dr. Amal Fathullah Zarkasyi, MA ini menyebut beberapa hal yang mendorongnya untuk menulis karya “Mawaqif”. Di antaranya:

Pertama, adanya anggapan di sebagian masyarakat bahwa beragama dan berkeyakinan adalah urusan privat (pribadi) yang siapa pun tidak boleh ikut campur, apalagi mengatur.

Kedua, tumbuh suburnya virus kebingunan kolektif dalam menyikapi hal-hal yang semestinya dapat diatasi melalui jalan diskusi dan argumentasi, tetapi justru ditungkasi dengan mubahalah, sumpah pocong, stigmatisasi, dan seterusnya.

Ketiga, kerancuan dalam mendudukkan suatu perbedaan antara yang bersifat variatif dan kontradiktif, antara ushul (pokok) dan furu’ (cabang) yang justru membawa problem tersendiri dalam keharmonisan persatuan umat Islam. Pada perkembangan selanjutnya, bahkan tantangan-tantangan eksternal seperti virus liberalisme, sekularisme, feminisme semakin mendapat angin segar dalam merasuki cara pandang seorang muslim. Hal ini belum lagi diperparah dengan adanya stigma radikal yang belakangan keras gaungnya.

Keempat, adanya sikap abai, kurang kepedulian pada disiplin ilmu Kalam. Asumsi ini mungkin dibangun di atas sebuah anggapan yang kurang tepat, bahwa disiplin ilmu Kalam cukup berat, kurang praktis, memiliki potensi untuk mengikis persatuan ummat dan yang cukup menghentakkan adalah sebagian kalangan mengharamkan untuk mempelajarinya.

Keempat hal inilah yang pada akhirnya mendorong dirinya untuk menulis dan menerbitkan karya “Mawaqif”.

suasana pasca bedah buku Mawaqif di UNIDA putri kampus 5 Kandangan-Kediri

Dalam penjelasannya, sebagaimana juga disebut di dalam karyanya, Dr. Henri menyebut bahwa keimanan seorang muslim pada dasarnya mencangkup tiga hal utama; pertama, meyakini dengan hati (at-tashdiq bil qalbi), mengikrarkan dengan lisan (al-iqrar bil lisan), dan implementasi dengan seluruh anggota badan (al-‘amal bil jawarih). Jika diperhatikan secara cermat, kata Dr. Henri, hikmah perlunya diikrarkan keimanan dengan lisan, antara lain adalah bahwa urusan agama dan keyakinan bukanlah urusan privat. Sebab dengan begitu, dia telah berhak mendapatkan pertanggunan dan jaminan atas ke-Islamannya tersebut. Misalnya: hak mendapatkan zakat sebagai muallaf, hak mendapatkan bantuan, bimbingan, nasehat dan pengajaran, hak didoakan, hak dijenguk di kala sakit, hak diurus jenazahnya secara Islam, dll.

Itulah kenapa orang yang masuk Islam itu diharuskan menyatakannya dengan lisan yang disaksikan oleh segolongan kaum Muslimin. Semuanya itu bukan untuk pamer (riya’), apalagi provokasi. Dengan demikian, maka ungkapan “Beragama itu bukan Urusan Pribadi” tidak dimaksudkan bolehnya seseorang untuk memaksa orang lain masuk Islam. Sebab ajaran toleransi dalam agama Islam sudah sangat jelas dan tidak perlu diakreditasi oleh pihak manapun.

Suasana bedah buku Mawaqif di kampus putri

Problem yang cukup marak di kalangan masyarakat, kata Dr. Henri, adanya fenoma “mudahnya pembid’ahan”. Hal ini menurutnya, karena krisis ilmu yang hari ini memang sedang melanda umat Islam. Kondisi ini diperparah dengan absennya sikap yang bijak dalam menyikapi sebuah persoalan. Maka dengan begitu, sambungnya, mudah saja akidah umat Islam digerogoti dengan paham liberal-sekuler yang hari ini justru bermetaformosis dalam berbagai macam bentuknya.

Hadirnya buku “Mawaqif” ini sebagai salah satu usaha untuk menjawab dan memberikan penjelasan terkait persoalan-persoalan semisal tersebut, terutama yang berpotensi menggerus akidah. Seperti yang disebut Prof. Amal Fathullah Zarkasyi dalam kata pengantar buku bahwa Ilmu Kalam berusaha untuk membentengi akidah dari persoalan-persoalan yang berpotensi mengikis dan menghacurkannya. Selain itu, sebagai model framework dalam menelaah segala persoalan baik dari nash maupun dari argumentasi rasional, atau yang biasa disebut at-tawassuth bain al-‘aql wa an-naql. Maka sebab itu, Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi dalam kata pengantar buku ini juga menyebut bahwa Ilmu Kalam dapat disebut sebagai induk dari ilmu-ilmu dalam Islam, yang bisa juga ditambahkan dengan Fiqh dan Ushul Fiqh bersamanya.

photo bersama pasca bedah buku Mawaqif di UNIDA kampus Pusat

Seperti diketahui bahwa di University of Darusaslam sendiri disiplin Ilmu Kalam telah sejak awal menjadi salah satu materi pokok dalam setiap program studi. Maka di sinilah sebenarnya kita patut memahami dan menyadari dengan baik, bahwa posisinya sangat sentral, sebab yang dipelajarinya juga sangat sentral, bagi disiplin ilmu-ilmu lainnya, ucap Khasib Amrullah M.A (Dosen Unida) dalam pembukaan bedah buku “Mawaqif” di UNIDA-Gontor.

Syamsul Hadi Untung, M.A MLS, sebagai Dekan Fakultas Ushuluddin juga turut menyebutkan dalam sambutannya, bahwa Ilmu Kalam ini memiliki urgensi yang tak terbantahkan. Ia adalah bagian dari usaha untuk menjaga persatuan umat Islam, di tengah-tengah hiruk-pikuk suasana umat seperti saat ini yang tidak karu-karuan. Maka karena itu, para mahasiswa semestinya patut memahami dengan baik, apa, di mana, dan bagaimana semestinya ia berfikir, berbuat, serta bersikap, sebagaimana diajarkan dalam disiplin ilmu ini.

Kholili Hasib –Direktur InPas- yang kebetulan menemani Dr. Henri dalam bedah buku di INPAS – Surabaya, tidak ketinggalan menyampaikan bahwa dengan mempelajari ilmu Kalam dapat menumbuhkan sikap wasathiyyah yang tidak terjebak dalam ekstrim kanan apalagi ekstrim kiri. Dan hal ini dapat dimulai dari membaca karya Dr. Henri ini, yaitu “Mawaqif: Beriman dengan Akan Budi”, tungkasnya.

Suasana bedah buku Mawaqif di kampus UNAIR Surabaya

Di setiap presentasinya, Dr. Henri selalu menekankan bahwa pada hari ini terdapat model ‘syirik modern’ yang cukup mewabah. “Awas hati-hati”, katanya. Seperti nilai keimanan yang diawali dengan tasdiq bil qalb dinyatakan dengan iqrar bil lisan dan dibuktikan dengan ‘amal bil jawarih, jika tidak diintegrasikan dengan pola fikir akan membuahkan kebatilan, bahkan batalnya syahadat. Ada banyak kasus yang menunjukkan hal ini, contohnya: mengaku percaya pada Rukun Iman, tetapi di saat yang sama juga meyakini bahwa semua agama itu sama benarnya, dan sama-sama masuk surga yang sama”. Tentu saja hal ini sangat berlawanan dengan ajaran Islam, pungkasnya.

Leave a Reply