Home Lentera Islam Worldview Islam sebagai Basis Pengembangan Ilmu Fisika

Worldview Islam sebagai Basis Pengembangan Ilmu Fisika

394
0
3D rendered illustration of elementary particles in atom. Physics concept.

Aldy Pradhana – Direktur Pesantren Mahasiswa Bentala Insan Adabi (PEMBINA)

Eksistensi fisika klasik di awal Abad ke-20 mulai terguncang. Fisika modern hadir sebagai respon atas keterbatasan fisika klasik dalam mendeskripsikan alam. Fisikawan modern melakukan berbagai upaya untuk melampaui keterbatasan-keterbatasan tersebut sehingga dihasilkan rumusan baru dalam memahami dunia sub-atomik. Max Planck, Albert Einstein, Werner Heisenberg, Niels Bohr, Erwin Schrodinger setidaknya telah memberi petunjuk bagi para fisikawan lain guna memperoleh formula kreatif guna memahami alam semesta. Reaksi fisika nuklir merupakan temuan riil atas kerja-kerja khas fisika kuantum. Selain itu, dengan panduan prinsip-prinsip kuantum, tak heran kecepatan kerja komputer maupun sejenisnya semakin meningkat. Teknologi nano tak ketinggalan hadir sebagai bukti atas kontribusi fisika kuantum yang membuka peluang untuk kemajuan rekayasa teknologi.

Namun, perkembangan ilmu fisika bagai pisau bermata dua. Tak ayal, efisiensi dan efektivitas dalam kehidupan sehari-hari yang tercipta ditengarai oleh perkembangan pesat ilmu fisika. Konektivitas manusia satu dengan yang lainnya (waktu ke waktu) pun tak dapat dilepaskan darinya. Namun, terdapat tiga persoalan serius yang sulit dilepaskan dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi hingga era kontemporer di mana dunia fisika memiliki kontribusi signifikan di dalamnya, yaitu krisis ekologi, krisis spiritualitas serta moralitas seperti mana yang ditunjukkan oleh Fritjof Capra (The Turning Point), Seyyed Hossein Nasr (Man and Nature: The Spiritual Crisis of Modern Man) maupun David Bohm (Wholeness and The Implicate Order).

Realitas adalah apa yang kita anggap benar. Apa yang kita anggap benar adalah apa yang kita percayai. Apa yang kita percayai dilandasi oleh persepsi-persepsi kita. Apa yang kita perspesi dipengaruhi oleh apa yang kita lihat. Apa yang kita lihat dipengaruhi oleh apa yang kita persepsi. Apa yang kita persepsi menentukan apa yang kita percayai. Apa yang kita percayai menentukan apa yang kita anggap benar. Apa yang kita anggap benar adalah realitas kita, kata Gary Zukaf (Zukaf, 2003: 365-366). Uraian Zukaf, menegaskan bahwa realitas dan apa yang benar dipengaruhi oleh apa yang dipersepsi, dibangun diyakini oleh seseorang. Maka, sangat mungkin krisis tersebut berpangkal pada pandangan serta keyakinan para fisikawan yang keliru terhadap realitas dan kebenaran secara kontinyu. Pandangan atau keyakinan para fisikawan terhadap realitas dan kebenaran dapat pula dinyatakan sebagai worldview.

Problem Worldview

Alparslan Acikgenc – Pakar Filsafat Islam. https://scholar.google.com/citations?user=fFS8locAAAAJ&hl=tr

Worldview merupakan istilah yang tidak lagi asing dalam diskursus keilmuan. John Brooke sebagai sejarawan sains menekankan bahwa worldview merupakan pandangan dunia yang merujuk pada sistem-sistem nilai dan berkaitan dengan sistem keyakinan agama serta memberi orientasi terhadap sains dan teknologi (Brooke, 1991:36). Lebih jauh, Alparslan Acikgenc mengartikan worldview sebagai visi tentang realitas dan kebenaran yang merupakan kesatuan mental dan tindakan sebagai landasan atau pondasi metafisika atas aktivitas ilmiah dan teknologi (Acikgenc, 2001:29). Dengan kata lain, ragam implikasi atas perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dapat dilacak, ditelusuri dan dipahami dari bangunan worldview para ilmuwan, khususnya fisikawan.

Werner Heisenberg menegaskan bahwa filsafat Rene Descartes mendominasi pemikiran para fisikawan di era kemajuan fisika klasik. Descartes melalui dictum “cogito ergo sum” dan memperkuat eksistensi manusia sebagai hewan yang rasional (Descartes, 2008:199). Pikiran manusia adalah hal yang riil dan realitas eksternal (external reality) itu meragukan. Dalam arti lain, kepastian atau validitas pengetahuan terdapat dalam subyek yang berpikir, bukan pada realitas di luar subyek. Selain itu, diungkapkan Descartes dalam Objections Against the Meditations and Replies, bahwa “But mind and body are substances, that can exist apart from each other. Hence there is a real distinction between mind and body” (Descartes, 2006:29). Argumentasi tersebut dibahasakan lebih sederhana dengan pemisahan rex extensa (alam materi) dan res cogitans (alam pikiran). Implikasinya, kesadaran-tubuh, kesadaran-alam realitas fisik dan realitas non-fisik saling independen satu sama lain. Begitu pula Newton yang meneguhkan pandangan-pandangan Descartes serta secara intensif membangun pondasi fisika klasik melalui persamaan gerak, eksperimentasi serta prinsip-prinsip matematika. Bahkan menurut Polkinghorne para pengikut Newton secara lantang berkata, “The enlightenment attitude had done its acid work, and many people’s faith dissolved away” (Polkinghorne,2007:7). Cukup sulit memang untuk menyatakan bahwa perkembangan fisika klasik akomodatif terhadap spiritualitas.

https://medicoplus.com/biografias/isaac-newton

Menurut pandangan Cartesian-Newtonian, alam dianggap sebagai benda yang tak hidup (an-organik) dan statis. Descartes memandang alam sebagai materi dengan kumpulan objek berbeda yang dirakit menjadi suatu mesin. Mesin yang tidak hanya bergerak secara otomatis namun terus menerus bergerak karena dikatrol oleh hukum alam yang absolut (Capra,1975:60). Seperti mana Heisenberg, his partition has penetrated deeply into the human mind during the three centuries following Descartes and it will take a long time for it to be replaced by a really different attitude toward the problem of reality (Heisenberg, 1958:76-83). Sehingga, gambaran worldview yang berkembang di era kemajuan fisika klasik mencerminkan nalar yang dikotomis, reduksionis dan mekanis.

Era fisika modern tentu membawa harapan bagi corak berpikir yang holistik. Namun, realitas berkata lain. Sebut saja Einstein. Einstein sering mengungkapkan bahwa Tuhan tidak mempunyai pilihan dalam menciptakan alam semesta. Lebih dalam Einstein membagi Tuhan menjadi dua, dan ia mempercayai Tuhan harmoni, akal dan logika seperti apa yang dilakukan Spinoza. Sehingga tujuan akhir para fisikawan menurut Einstein adalah membaca pikiran Tuhan (Jammer, 2002:49).  Ada pula Steven Weinberg, yang secara gamblang mengungkapkan bahwa semakin alam semesta dapat dipahami ia semakin tidak berarti (Weinberg, 1976:148-149). Fisikawan lainnya, Stephen Hawking. menyatakan bahwa pertanyaan mengenai “Mengapa ada sesuatu?”, “Mengapa kita ada?” cukup dijawab dalam ranah sains saja tanpa perlu membawa sosok ilahi (Hawking, 2010:266-267). Bahkan menurut Hawking teori kuantum memperkenankan perjalanan waktu pada basis mikroskopis. Sehingga untuk menempuh alam semesta lain via warmhole dalam ukuran mikroskopis, menyaratkan tubuh makhluk berakal diganti dalam form lain. Michio Kaku menambahkan bahwa kematian alam semesta tidak harus menunjukkan kematian makhluk berakal (Kaku, 2005:339-341).  Begitu pula Hans Moravec mengklaim bahwa di masa depan tiap-tiap sambungan syaraf di otak manusia dapat digantikan oleh material semikonduktor serta dirancang menjadi sebuah transistor yang menduplikasi fungsi syaraf ke dalam sebuah robot (Morevac, 2010). Terlihat bahwa sisi dikotomis, reduksionis bahkan antroposentris justru tidak semakin minimalis. Artinya, worldview yang inheren dalam perkembangan fisika klasik maupun modern tidak terlampau komprehensif untuk menegaskan bahwa perkembangan tersebut “ramah” terhadap spiritualitas dan moralitas manusia, maupun keseimbangan alam.

Worldview Islam sebagai Alternatif

Setelah dipetakan, dianalisis sedemikian rupa bahwa worldview yang melekat dalam perkembangan fisika klasik maupun fisika modern tidak mengubah secara fundamental pandangan para ilmuwan terhadap realitas. Hal tersebut membuka kesempatan bagi ilmuwan muslim untuk menawar

kan pandangan hidup Islam (the worldview of Islam) yang berarti pandangan Islam terhadap realitas dan kebenaran (ru’yatul islam lil wujud) sebagai basis dalam memandu perkembangan ilmu fisika (al-Attas, 1998:2). Dimana terkandung ragam konsep, seperti konsep mengenai Tuhan, agama, manusia, ilmu, kebenaran maupun etika yang semestinya memengaruhi bangunan konsep-konsep elementer dalam ilmu fisika, sebut saja alam, materi atau atom, ruang-waktu, gerak, kausalitas.

Worldview Islam bersifat integratif (tawhidi) (al-Attas,1995:1-3). Potensialitasnya semakin maujud karena sifat asasi worldview Islam yang holistik (non-dikotomis) serta otentisitas wahyu maupun tradisi ilmu di dalam Islam. Keterpisahan alam-Tuhan, ketegangan subjektivisme-objektivisme, rasionalisme-empirisisme yang tak kunjung tuntas dikompromikan, penyempitan realitas menjadi sesuatu yang materil, spirit antroposentrik  sejatinya tidak terkandung dalam worldview Islam. Didukung dengan fakta bahwa al-Qur’an dan al-Hadits sebagai basis worldview tidak problematis (valid). Keduanya pun menyajikan tanda-tanda terkait fenomena alam serta bagaimana ia dikelola dan dimanfaatkan. Artinya, hal tersebut memungkinkan untuk dikaji, dirumuskan secara komprehensif dalam rangka mendukung riset dan pengembangan ilmu fisika ke depan. Pun secara historis dan esensial, kemajuan ilmu pengetahuan dalam Islam tidak disandarkan pada sekulerisme. Tidak terjadi pertentangan (dikotomi) antara agama dan ilmu pengetahuan. Justru dalam Islam, ilmu pengetahuan berkembang atas spirit agama. Sebagaimana yang telah ditunjukkan Fakhr  al-dīn ar-Rāzī , Ibn al-Haytsam , Ibn Sīnā, al-Biruni, Ibn as-Syāṭir, Naṣīruddīn at-Ṭūsī maupun al-Ghazali.

Tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan guna menjadikan worldview Islam sebagai basis perkembangan ilmu fisika. Menurut Heddy-Ahimsa suatu pandangan hidup harus terbangun sebagai kerangka pemikiran atau paradigma yang dapat digunakan untuk mempelajari berbagai gejala kehidupan manusia, yang berujung pada kemampuan mengkaji, memanfaatkan serta mengelola alam dengan baik dan kemampuan untuk mendesain kehidupan sosial-budaya yang lebih baik (Ahimsa, 2016: 93). Dalam kata lain, worldview Islam perlu diterjemahkan sebagai paradigma keilmuan dimana paradigma tersebut dependen terhadap konsep-konsep dalam worldview Islam, namun tetap terbuka (open-ended) untuk dikembangkan. Artinya, konsep-konsep seminal yang saling berjejaring satu sama lain dalam worldview Islam perlu diuraikan dan dikembangkan sedemikian rupa. Maka, diperlukan upaya teoritisasi konsep-konsep tersebut, khususnya yang menjadi entitas elementer ataupun pondasi teoritis ilmu fisika, seperti materi atau atom, ruang-waktu, gerak, kausalitas yang tetap terpandu oleh konsep Tuhan (tawhid) serta berpadu, berhubungan dengan konsep agama, alam, manusia maupun ilmu dan lain-lain sehingga dapat diwacanakan serta diuji dalam diskursus dan komunitas ilmiah.

Guna mewujudkan suatu paradigma keilmuan berbasis worldview Islam, tentu terdapat beberapa hal lain yang patut diperhatikan. Pertama, perlu dibangun model kerja ilmiah secara kolektif (lintas disiplin ilmu) serta diikat secara institutional sebagai komunitas ilmiah. Artinya, para fisikawan muslim, ‘ulama dan entitas terkait lainnya dengan otoritas maupun kepakarannya masing-masing, berintegrasi dalam mengawal pengembangan ilmu fisika ke depan. Kedua, menyusun dan menjalankan program riset secara strategis serta diikat dengan pola kerja, komitmen dan standard tinggi (Muslih, 2017: 180-181). Pada tahap awal, konten riset perlu diarahkan pada inventarisasi, pendalaman, analisis serta komparasi terkait konsep Tuhan, alam, ilmu, manusia, ruang-waktu, gerak, atom atau materi, kausalitas secara intensif dan multiperspektif (baik dari tradisi ilmu dalam Islam maupun Barat dan yang relevan). Dengan demikian, keunggulan worldview Islam lambat laun semakin dapat dipahami apabila kecermatan, ketelitian dan kesabaran dalam proses ini, dikedepankan. Terakhir, regenerasi yang senantiasa berlangsung (waktu ke waktu) sehingga kerja strategis atau peradaban ini tidak terputus ataupun berjalan di tempat (stagnan). Melalui langkah-langkah di atas, pengembangan ilmu fisika berasaskan worldview Islam berikut paradigma keilmuannya cukup potensial dan realistis untuk dikerjakan.

Leave a Reply