Home Berita Sebelum Robot Sempat Mendesak Kesadaran Keluarga Kita — Catatan INSISTS Saturday Forum...

Sebelum Robot Sempat Mendesak Kesadaran Keluarga Kita — Catatan INSISTS Saturday Forum (INSAF) 04/08/2018

Dr. Saiful Bahri menjelaskan potensi dampak baru keadaan di atas bagi ketahanan keluarga. "Dengan big data, misalnya, orang lain yang tak kita kenali bisa serta-merta mengenal kita, keluarga kita, lingkaran pertemanan kita, dan kesukaan kita," terang dia.

689
0

Gerak mesin pabrik yang memproduksi barang secara massal adalah penanda zaman modern. Ketika gerak itu mendesak sampai ke dalam rumah kita, ia menjadi peringatan bagi kita untuk lebih berhati-hati, apalagi ketika logika mesin itu menjadi dasar bagi teknologi informasi.

Apa yang disebut era industri 4.0 adalah varian terkini dari watak teknologi tersebut, bukan cuma dalam produknya seperti komputer dan ponsel pintar, tetapi dalam pola interaksi antarmanusia baru sebagai dampak efisiensi persebaran dan pertukaran informasi. Di depan hadirin INSISTS Saturday Forum (INSAF), Jakarta, hari ini (04/08/2018), Dr. Saiful Bahri menjelaskan potensi dampak baru keadaan di atas bagi ketahanan keluarga. “Dengan big data, misalnya, orang lain yang tak kita kenali bisa serta-merta mengenal kita, keluarga kita, lingkaran pertemanan kita, dan kesukaan kita,” terang dia.

Mengutip lembaga penelitian kecerdasan buatan di Jerman, Deutsche Forschungszentrum für Künstliche Intelligenz (DFKI) beliau memaparkan 4 perkembangan teknologi industri secara kronologis disertai dampaknya bagi kehidupan. Tahap ketiga dari perkembangan itu berbarengan dengan penemuan komputer sebagai barang berharga bagi pekerjaan manusia. Perputaran uang dan informasi yang gencar terjadi untuk pertama kalinya di dunia ini akibat komputasi segala hal.

Doktor Ilmu Tafsir Universitas Al-Azhar ini mengajak peserta untuk menggali ayat-ayat Qur’an untuk bekal ketahanan keluarga. Terdapat sekurang-kurangnya 8 aspek yang mesti diperhatikan, yakni aqidah (Ibrahim: 35), identitas (Al-Baqarah: 138), ilmu dan pendidikan (Al-Mujadalah: 11), ekonomi dan etos kerja (An-Nisa: 9), cinta dan harmonisasi (Al-Furqon: 74), kepribadian (dalam kisah-kisah Nabi Yusuf), persaudaraan (Hujurat: 10), dan visi dan cita-cita (Asy-Syu’ara: 83-84). Dari delapan pembagian itu, ia lalu berangkat ke penafsiran lebih lanjut.

Meski terkesan normatif, landasan tersebut dapat diproyeksikan kepada persoalan konkret hari ini, ketika hampir semua keluarga muslim di kota-kota besar memiliki gadget. Terkait dengan aqidah, misalnya, ia menjelaskan pola hubungan manusia dan Allah. Sebagai subjek, manusia adalah hamba Allah. Peradaban materialistik saat ini terjadi ketika manusia melupakan posisinya sebagai hamba. “Karena itu, peradaban Islam tidak melulu merujuk pada warisan materi, tetapi yang terutama adalah warisan ilmu,” ungkapnya. Sebagai objek, tambah Ketua Komisi Seni dan Budaya Islam MUI ini, manusia adalah makhluk yang mesti berakhlak sesuai akhlak Allah.

Dengan akhlak yang benar, harmonisasi, cinta, dan persaudaraan akan terjadi, tanpa perlu menghadapi jurang antargenerasi. Jika petunjuk dari Allah ini dilupakan begitu saja, krisis demi krisis akan terus terjadi.

Leave a Reply