Home Artikel Prof. Hamid: Cerminan Imbangnya Kekayaan Turats dan Penguasaan Wacana Kontemporer

Prof. Hamid: Cerminan Imbangnya Kekayaan Turats dan Penguasaan Wacana Kontemporer

3109
0

Oleh: Mohammad Syam’un Salim

Sekitar tahun 2009 kali pertama saya bertemu dan mendengar secara langsung Dr. Hamid, setelah sebelumnya hanya mendengar cerita, tentang liberalisme dan studi kebaratan (occidental studies) yang menjadi concern beliau sejak lama. Seperti khasnya, narasi yang beliau bangun—tidak pernah tidak—selalu tentang peradaban, Islamic worldview, tradisi keilmuan dalam Islam dan tantangan pemikiran. Sebuah studi yang menyasar tema-tema cukup serius dan berat. Selain sulit, ia juga butuh penguasaan diskursus Islam dan Barat secara berimbang. Di luar itu, pemikiran adalah medan dakwah yang tidak banyak dilalui para da’i, bukan pula kajian ringan ala budaya pop yang digemari banyak orang.

Kekuatan Literasi dan Orasi

Tidak seperti ustadz kebanyakan, Prof. Hamid, bagi saya, adalah seorang figur akademisi tulen. Meskipun begitu, beliau bukanlah tipikal cerdik cendekia yang menyendiri di menara gading. Saya sebut demikian, karena beliau adalah salah satu dari sekian banyak akademisi yang punya kemampuan berbicara dan menulis sama baiknya. Ini berbeda sekali dengan cerdik cendikia pada umumnya, yang menonjol di satu sisi tapi lemah di sisi yang lain. Ada yang kuat berbicara berjam-jam tanpa teks, tapi tidak punya karya tulis, bahkan tidak bisa menulis dengan argumentatif apalagi analitis. Dalam fiqh dakwah kemampuan seperti ini sangat baik, tapi tidak cukup. Sebab bagi akademisi yang punya tingkat kuriositas tinggi, suatu permasalahan lebih mengena bila dijawab melalui media tulisan. Begitu pula sebaliknya, ada yang kuat menulis, tetapi tidak berbunyi ketika dihadapkan pada realitas umat yang terkadang hobi untuk mendengar. Jadi kemampuan menulis dan berbicara seharusnya memang tidak untuk dipertentangkan, karena sama-sama punya andil di medannya masing-masing.

Mungkin karena kemampuan yang komplit ini, pesan dakwah beliau bisa dibilang diterima hampir di setiap lapisan masyarakat. Dari yang paling awam hingga akademisi yang menghendaki pembahasan secara daqīq. Prof. Hamid bisa berbicara dan menulis secara populis, dengan terlebih dahulu bercerita, membentangkan kisah-kisah, dan memperbanyak contoh-contoh. Tapi ketika menyasar pada tataran akademis, beliau bisa sangat fasih menjelaskannya secara konseptual, teoritis sampai pada basis terdalam: langsung dari sumber primernya. Sebagai contoh, ketika menyinggung konsepsi agama di Barat, beliau memulainya dengan sebuah cerita renyah dan kontekstual di sana: sepak bola di Barat sebagai “its like religion”, atau dengan kisah bule yang terus mempersoalkan Tuhan. Ada juga penjelasan beliau tentang Timur dan Barat, tapi didahului dengan cerita mesin photocopy di perpustakaan yang macet. Lihatlah beberapa paragraf yang saya kutip dari karya beliau, Misykat, sebagai berikut:

Benar, ketika elemen-elemen Barat yang anti Kristen dipinjam anak-anak muda Muslim, maka mulut yang membaca syahadat itu akan mengeluarkan pikiran ateis. Tuhan yang Maha Kuasa, bisa menjadi “Tuhan yang Maha lemah”, al-Qur’an yang suci dan sakral tidak beda dengan karya William Shakespeare, karena ia sama-sama keluar dari mulut manusia (Misykat, hal. 32).

Sebuah penjabaran sederhana tanpa sedikitpun kehilangan konteks. Kutipan menarik lainnya:

muridnya, Herman Cohen, pun berpikir sama. “Tuhan hanya sekadar ide,” katanya. Tuhan hanya Nampak dalam bentuk mitos yang tidak pernah wujud. Tapi anehnya ia mengaku mencintai Tuhan. Lebih aneh lagi ia bilang “kalau saya mencintai Tuhan, maka saya tidak memikirkanNya lagi”. Hatinya ke kanan, pikirannya ke kiri. Pikirannya tidak membimbing hatinya, dan cintanya tidak melibatkan pikirannya (Misykat, hal. 43).

Sungguh paragraf yang indah.

Paragraf lain tidak kalah menariknya. Untuk yang ini, selain menjelaskan sebuah muatan konsep dengan bahasa sederhana, juga berhasil menyentil kesadaran pembacanya:

Sebagai contoh seorang mahasiswa yang menulis di tembok kampusnya “Yang permanen adalah perubahan”. Esok harinya mahasiswa yang kurang kritis menorehkan tanda kali (baca: silang, red) pas di tengah tulisan itu, tanda penolakan. Lusanya mahasiswa cerdas menulis di tembok lain,Yang berubah tidak pernah permanen”. Di kampus lain seorang mahasiswa liberal-atheis menulis kalimat di tembok fakultas filsafat sebuah kampus negeri, “Tuhan telah mati kata Nietzsche”. Mahasiswa yang tidak setuju dan marah menulis komentar,Yang nulis goblok”. Tapi esoknya mahasiswa yang cerdas menorehkan coretan di bawahnya “Nietzsche telah mati, kata Tuhan (Misykat, hal. xix).

Paragraf yang satir tetapi tidak kehilangan bobot logika.

Di buku baru beliau bertajuk Minhaj: Berislam dari Ritual hingga Intelektual juga disuguhkan hal yang kurang lebih serupa. Tidak seperti tipikal buku Islamic Studies yang membebek Barat dan mencurigai karya besar para ulama, Minhaj justru dengan percaya diri mengangkat sisi-sisi turāts yang terlupakan dengan bahasa yang lebih mudah dicerna. Prof. Hamid dalam karyanya ini (Minhaj) berhasil menggugah kesadaran kita, juga memberi pertanyaan penting, sudah sejauh mana keislaman dan keimanan kita berada? Islam dan Iman yang sudah inheren dalam diri seorang Muslim, nyatanya perlu dipertanyakan kembali, sambil perlahan-lahan membawanya ke tingkat yang lebih tinggi yaitu pada ranah intelektual atau worldview.

Pada akhirnya, karya beliau ini mampu menjawab kegelisahan umat akan pertanyaan, bagaimana mungkin seorang yang pergi haji berkali-kali, bisa terjerat kasus korupsi? Bagaimana mungkin negara dengan penduduk Muslim terbesar malah disebut sebagai negara terbelakang dan tertinggal? Sebagaimana pula yang ditanyakan oleh Syaikh Muhammad Basuni Imran (1885-1976), seorang ulama dari Sambas Pontianak kepada Amir Syakib Arslan (1869-1946) “limādzā ta’akhkhara al-muslimūn wa taqaddama ghayruhum?”. Di luar itu, ada satu kutipan menarik dari buku Minhaj ini yang mempersoalkan musibah: sesuatu yang akhir-akhir ini dekat dengan kita. Tulis Prof. Hamid:

Caranya (bersyukur dalam menghadapi ujian) mudah, jika anda miskin, kesabarannya adalah tidak mencuri; bagi seorang perjaka, kesabarannya adalah tidak berzina; bagi orang kaya, kesabarannya adalah tidak sombong dan menghamburkan harta dst. Orang kaya yang bersyukur akan memberi, orang miskin yang syukur akan makan yang halal, orang perjaka yang syukur akan tetap taat beribadah (Minhaj, hal. 268).

Selain dalam bentuk yang sedikit populis, Prof. Hamid juga acapkali membicarakan persoalan umat dalam mimbar akademis yang serius tanpa kehilangan kosa kata dan jati dirinya sebagai seorang Muslim. Persis seperti yang diungkapkan oleh Hamka, bahwa seorang Muslim harus berpihak kepada kebenaran (maksudnya: kepada Islam). Beliau mampu memformulasikan pemahaman tentang agama di Barat dengan apik, tanpa mengurangi bobot ilmiahnya. Sekadar menyebut contoh, dalam makalahnya bertajuk “Agama dalam Pemikiran Barat Modern dan Modern” tanpa canggung beliau mengutip beberapa sumber penting seperti Akbar S. Ahmed, Ernest Gellner, Dafid Griffin, Huston Smith, Nietzsche, Wittgenstein, Heidegger dan lain-lain. Dalam makalahnya, Prof. Hamid memperkenalkan Barat lewat mulut orang-orang Barat sendiri. Beliau mengutip komentar Hugh J. Silverman tentang Postmodern yang bercirikan: meminggirkan (to marginalize), membatasi (delimit), dan mengesampingkan (decentre) kerja-kerja yang telah dilakukan oleh modernis, untuk menjelaskan karakter dari postmodernisme; hingga menyitir penjelasan Habermas, James E. Crimmins tentang karakteristik agama di Barat yang disandingkan dengan mitos (sesuatu yang irrasional dan takhayul) selain bercirikan desakralisasi yang oleh Weber disebut sebagai disenchantment.

Kemampuan literasi dan orasi yang sama baiknya ini, ditopang dengan bacaan beliau yang sangat luas. Belum lagi perjalanan intelektual beliau yang juga tidak mudah untuk diikuti. Beliau belajar di Barat, termasuk berguru secara langsung kepada seorang cendekiawan karismatik yang disegani: Syed Muhammad Naquib al-Attas. Maka, ketika Prof. Hamid berbicara mengenai Barat dengan segala macam diskursus yang mengelilinginya, akan terdengar proporsional, tepat, dan sangat otoritatif. Rasanya perlu dicetak tebal, bahwa dengan kemampuan dan perjalanan intelektual beliau yang ‘sangat Barat’ tadi, tidak membuatnya buta arah, bersikap inferior, membebek, kehilangan sikap kritis apalagi kehilangan identitas, nilai dan cara pandang terhadap dunia sebagai seorang Muslim. Ini berkebalikan dari beberapa orang yang justru memilih apresiatif secara taken for granted terhadap Barat, tanpa sedikitpun disertai daya kritis dan telaah berimbang.

Turāts sebagai Basis Worldview Islam

Selain literatur Barat, kemampuan bacaan Prof. Hamid pada kitab-kitab turāts bukan pengecualian. Istimewanya, bacaan-bacaan tersebut tidak berdiri secara mandiri, melainkan beliau hubung-kaitkan pada persoalan kontemporer, menjawab problem keumatan dalam wacana pemikiran. Untuk yang satu ini, semakin sedikit lagi orang yang mampu dan dapat melakukannya. Beberapa orang hanya fokus pada turāts tanpa sekalipun berusaha menyelesaikan problem umat, apalagi dalam konteks ghazwul fikr. Atau kebalikannya. Problem kontemporer dikuasai dengan baik, tapi bingung mencari pijakan yang mestinya diambil dari tradisi intelektual Islam. Munculnya paham-paham menyimpang seperti sekularisme, pluralisme agama, kesetaraan gender, hermeneutika, dekonstruksi syariah dan lain sebagainya adalah sedikit dari contoh fenomena ini. Paham-paham tadi tumbuh subur dan bahkan sampai pada titik paling menyedihkan, diapresiasi dan dibesarkan oleh kalangan santri sendiri atau sekurangnya oleh alumni perguruan tinggi Islam negeri. Terlihat anomali, sebab dua kalangan ini harusnya berada di garda terdepan memperjuangkan Islam, akan tetapi malah apresiatif, dan secara tidak langsung, memilih berseberangan dengan apa yang diyakininya.

Pada titik ini, Prof. Hamid seakan menghadirkan gelanggang baru, mengklarifikasi paham-paham menyimpang tersebut, sembari memperkenalkan khazanah turāts yang kaya konsep. Di mana kekayaan konsep tersebut bisa digunakan untuk menjawab persoalan umat manusia. Prof. Hamid mencontohkan bahwa seperti segala bentuk wacana psikologi modern bisa dijawab dengan tasawuf, atau ekonomi konvensional bisa didudukkan lewat pemahaman yang benar terlebih dahulu, terkait persoalan harta, rizki, uang dan seterusnya. Maka sudah menjadi keharusan bagi seorang Muslim untuk menjadikan worldview Islam sebagai basis cara pandang dalam memandang realitas. Worldview Islam sendiri sebagaimana yang sering Prof. Hamid jelaskan adalah bangunan konsep-konsep kunci yang itu disarikan dari khazanah intelektual Islam, di mana konsep-konsep tersebut saling berkait erat antara satu dengan yang lain.

Jadi, bila diterangkan dengan lebih panjang lagi, struktur bangunan worldview Islam itu dimulai dari struktur konsep-konsep kunci, yaitu konsep Tuhan, Agama, Wahyu, Kenabian, Penciptaan, dan lain-lain. Konsep-konsep kunci ini digunakan sebagai poros/basis dari konsep lainnya; seperti konsep ilmu, konsep manusia, konsep nilai, konsep dunia, konsep kehidupan, dan seterusnya. Semua konsep ini saling berelasi satu dengan yang lain. Sekadar menyebut contoh: ketika konsep ilmu bersinggungan dengan konsep manusia, muncul konsep (baru) pendidikan; ketika konsep manusia berelasi dengan konsep nilai, muncul konsepsi berkenaan politik; konsep ilmu ketika dihubungkaitkan dengan konsep kehidupan, menghasilkan konsep teknologi. Begitu seterusnya. Dari penjabaran ini, Prof. Hamid memberikan gambaran sederhana tentang worldview Islam, bahwa bila diucapkan akan berbunyi, “setiap kata (dalam wahyu) mengandung makna, setiap makna mengandung konsep dan setiap konsep saling terkait antara satu dengan yang lain”. Dengan ungkapan lain, keterkaitan konsep dan memusatkan konsep tersebut kepada konsep Tuhan adalah harga yang tidak bisa ditawar dalam worldview Islam.

Perlu dicatat, kesepaduan konsep lalu mendudukkannya dengan mula-mula menelaah bahasa adalah pintu utama kerja Islamisasi Ilmu. Banyak yang mengira bahwa Islamisasi Ilmu ialah upaya apologetis, dengan menyebutnya sebagai usaha ayatisasi, atau yang paling umum terbaca, hanya sekadar labelisasi semata. Muncullah permisalan yang kurang tepat—bahkan pejorative—seperti: motor Islam, mobil Islam, pesawat Islam, dan seterusnya. Bagi Prof. Hamid, pemahaman ini keliru—bila tidak disebut sebagai ngawur. Sebab Islamisasi Ilmu menyasar pada cara pandang terhadap dunia, contohnya: worldview. Artinya, yang diislamkan adalah worldview saintis yang telah diisi oleh konsep-konsep Barat, sebagaimana yang sempat dijelaskan di muka. Lagi pula ada perbedaan mendasar antara objek ilmu (yaitu realitas), produk ilmu (misal: pesawat, motor) dengan ilmu itu sendiri. Mengutip Prof. Hamid “al-‘ilmu fi suḍūr lā fi sutūr” ilmu ada di dalam jiwa/pikiran, bukan di motor, apalagi pesawat.

Selain itu, karena bermain dalam tataran konsep dan turut membentuk worldview, Islamisasi Ilmu justru memperkaya keduanya. Sebagai contoh: terma Allah di zaman Arab jahiliyyah dipahami dengan terlalu transenden sehingga sulit untuk digapai. Alhasil, Allah mereka anggap tidak mempunyai keterkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Maka wajar bila mereka tidak mengenal konsep hari akhir, alam akhirat, dan seterusnya. Scope ilmu mereka menjadi terbatas kepada apa-apa yang ada di dunia saja. Di sinilah, al-Qur’an mengoreksi dan mentransformasikannya—yang awalnya terbatas hanya pada dunia semata—kepada dunia dan akhirat sekaligus; dan secara otomatis Allah menjadi dipahami sebagai Dzat yang transenden dan imanen dalam satu waktu. Begitu juga konsep manusia, yang mulanya dipahami hanya sebagai manusia semata, diperkaya maknanya  menjadi “khalifatullah” a special creation. Jadi, Islamisasi justru memperkaya dengan memberikan penjelasan lebih kongkrit dan jelas, dari apa-apa yang sebelumnya terbatas dan kabur. Oleh sebab itu, Islamisasi tidak akan jauh dari penelaahan kembali ‘bahasa’, menempatkan konsep-konsep dalam worldview—yang oleh al-Attas disebut ru’yatul islām li al-wujūd—ke tempat yang tepat.

Sebagai realisasi kongkritnya, bisa disimak disertasi Prof. Hamid yang membahas kausalitas (sebab-akibat) dalam kacamata Imam al-Ghazali. Disertasi ini secara khusus mengklarifikasi hal penting pada isu sebab-akibat yang sejak zaman Aristoteles, Neo platonic bahkan hingga filsuf Muslim paripatetik, diyakini bersifat pasti. Artinya, kausalitas terjadi tanpa campur tangan Tuhan. Penelitian Prof. Hamid pada persoalan kausalitas ini dalam rangka mengembalikan konsep Tuhan sebagai basis utama dari konsep-konsep yang lain—dalam hal ini adalah konsep kausalitas untuk melihat realitas dan ilmu secara adil—di mana sebelumnya, Tuhan tidak punya andil di dalamnya. Itulah sebabnya judul dari disertasi beliau tertulis, al-Ghazali’s Concept of Causality: with Reference to His Interpretations of Reality and Knowledge. Sebuah judul yang mengisyaratkan akan kritik terhadap sains modern yang menghilangkan jejak Tuhan dalam melihat realitas dan mekanisme kerja alam.

Pandangan ini, dalam telaah Prof. Hamid, memiliki konsekuensi yang tidak sederhana bila dilihat dari kacamata worldview Islam. Pandangan yang memutlakkan kausalitas tanpa campur tangan Tuhan akan memandang segala hal secara sekuler dan dikhotomis. Akibatnya, alam semesta dilihat secara mandiri dan terbebas dari jejak Tuhan. Persis seperti iklan air minum “atas kebaikan alam, kita bisa menikmati kemurnian air”—lagi-lagi, Prof. Hamid memberikan permisalan yang sederhana namun kontekstual yang kali ini cukup jenaka—maknanya, air yang mestinya tidak lepas dari kehendak Tuhan, tiba-tiba dilepaskan dengan menyebutnya sebagai ‘kebaikan alam’. Slogan yang diucapkan iklan itu seperti terdengar baik-baik saja, namun sebetulnya menyisakan lubang yang menggiring manusia pada (minimal) sekulerisme tahap awal, untuk selanjutnya bertransformasi menjadi pandangan lain yang khas Barat.

Penelitian dalam disertasinya ini, Prof. Hamid menggali khazanah turāts lewat karya-karya Imam al-Ghazali untuk selanjutnya digunakan dalam melihat fenomena kausalitas di alam raya. Hasil dari penelitian ini menyebutkan bahwa Imam al-Ghazali merangkum teori kausalitasnya kepada apa yang disebut sebagai stages of causal creation: tingkatan sebab-akibat dalam penciptaan. Pertama, bahwa Tuhan telah meletakkan sebab-sebab kemudian diarahkan kepada akibat dengan sangat bijaksana. Kedua, Tuhan juga meletakkan sebab-sebab secara absolut, mendasar, fix dan stabil: al-asbābul-kulliyah al-aliyyah al-thābitah al-mushtarakah. Ini bisa dicontohkan dengan api yang membakar tidak mungkin dapat berubah secara ekstrim menjadi mendinginkan. Di sini lain, Tuhan menetapkan ketetapan yang berlaku universal untuk sebab-sebab yang absolut secara terus-menerus: al-wa’u al-kulli li-l asbāb al-kulliyah al-dā’imah. Ketiga, bahwa sebab-sebab melibatkan pengarahan Tuhan, tawjīh, determinasi qadar, melalui proporsinya. Dengan ungkapan lain, sebab-akibat bukanlah sebuah kepastian, tergantung pada proporsinya. Sebagai misal: kertas itu bisa dibakar oleh api, apabila kertasnya kering, bila basah, kertas tidak akan terbakar.

Permisalan di atas diperkuat dengan argumentasi lain dari Imam al-Ghazali. Seorang yang buta kemudian ia dioperasi lalu bisa melihat. “Apa yang membuatnya bisa melihat?”, tanya Imam al-Ghazali. Maka jawaban pertama adalah “matanya”. Tapi bila ditanyakan kembali, “Apakah ia bisa melihat ketika ia diletakkan pada ruangan yang gelap gulita?” Jawabnya, tentu tidak. Artinya, di sini mata bukan satu-satunya penyebab seorang itu dapat melihat. Ada sebab lain, yaitu cahaya. Makna lainnya, ada sekian banyak sebab yang membawa pada akibat. Dan salah satu sebab dari sekian banyak akibat itu adalah Tuhan. Argumen Imam al-Ghazali, sebagaima yang diterangkan Prof. Hamid itu semakin menarik, ketika al-Ghazali kembali memperlihatkan bahwa hubungan kausalitas yang (dianggap) pasti itu tidak dapat dibuktikan secara logis atupun empiris. Buktinya, kita tidak bisa membuktikan secara pasti bahwa api melakukan pembakaran pada kertas. Secara empiris kita tidak bisa memastikan hal itu.

Api sendiri tidak bisa dikatakan sebagai pelaku, sebab ia adalah benda mati. Api tidak memiliki ilmu. Buktinya, api tidak memiliki kehendak untuk berbuat. Ia membakar apa saja yang ia lewati. Hal serupa juga bisa kita lihat pada fenomena gempa bumi, tsunami, dan lain sebagainya. Mengapa bencana tersebut seperti memilih daerah tertentu? Dalam hal ini, Aceh, Palu, bukan daerah lain? Bagi Imam al-Ghazali, pertanyaan ini bisa dijawab bahwa segala hal tersebut bisa terjadi “disebabkan oleh kehendak Tuhan”. Ringkasnya, apa yang ingin dijelaskan oleh Prof. Hamid dalam disertasinya itu adalah dengan misi untuk meletakkan Tuhan dalam tata tertib alam semesta. Bahwa prinsip kausalitas yang dirumuskan oleh Imam al-Ghazali dapat menjadi sumbangsih penting dalam khazanah sains Islam. Selama ini sains Islam lebih sering mengikuti sains modern, yang terlihat menghilangkan unsur ketuhanan. Di sini, apa yang selalu ditekankan beliau; bahwa turāts harusnya digunakan untuk menjawab problem keumatan kontemporer bukan suatu penekanan yang kosong dari realisasi. Dan ini tergambar jelas pada uraian disertasi beliau.

Konsepsi yang rumit dan daqīq soal kausalitas tadi diuraikan dalam penjelasan yang lebih mudah lagi oleh Prof. Hamid. Simak salah satu kutipan dalam buku Minhaj berikut:

Tidak perlu heran jika sebab tidak membawa akibat, atau akibat terjadi tanpa sebab. Dalam al-Qur’an dikisahkan bahwa api tidak membakar Nabi Ibrahim As., tanpa oksigen Nabi Yunus As. bisa hidup dalam perut ikan paus, Ashabul Kahfi tidak mati meskipun tidur 300 tahun lamanya, dan seterusnya. Dalam kehidupan sehari-hari ada pedagang barang yang sama, yang satu sukses dan yang lain gagal. Dalam suatu peristiwa gempa bumi, beberapa hancur runtuh rata dengan tanah, sementara bangunan masjid tetap utuh. Apakah gempa bumi bisa memilih-milih? (Minhaj, hal. 10).

Sebuah pertanyaan akhir yang menohok, bagi siapapun yang menuhankan sains.

Uraian demi uraian ini sebetulnya sudah cukup menggambarkan keberhasilan Prof. Hamid dalam usaha Islamisasi Ilmu. Sebab hasil dari penelitian beliau hingga karya-karya yang dihasilkan berhasil memperkaya konsep dari yang semula terbatas dan minim: terlepas dari unsur ketuhanan, menjadi kaya dengan jalinan konsep yang lain, termasuk menegaskan posisi konsep Tuhan atas konsep-konsep yang lain. Selain dari pada itu, kerja-kerja ilmu yang Prof. Hamid kerjakan mencontohkan kepada kita semua bagaimana seharusnya akademisi Muslim memaksimalkan kutub at-turāts, bagaimana cara kita berhadap-hadapan dengan Barat secara benar dengan memaksimalkan kerja intelektualitas dan daya ilmiah secara serius.

Jika tradisi turāts dan ideologi kontemporer ini pemahamannya terpisah oleh jarak dan dianggap tidak memiliki relevansi, maka tugas kita adalah menjembatani keduanya, sehingga kita tidak salah paham dan bertindak sewenang-wenang pada keduanya. Dengan ungkapan lain, apa-apa yang populer dan menjadi pegangan Barat saat ini, bisa dilawan atau sekurang-kurangnya dijawab lewat kekayaan khazanah intelektual Islam yang sebetulnya lebih kaya dan sophisticated (baca: canggih). Kerja-kerja serius dalam ranah ilmu yang beliau contohkan seperti inilah yang membuat saya dengan yakin menyebut Prof. Hamid sebagai akademisi tulen. Akademisi dalam arti yang sebenarnya.

Ilmu Sebagaimana Dirinya

Dari pengalaman dan kemampuan Prof. Hamid ini, sebetulnya akan terbaca dengan mudah bagaimana kami, santri-santrinya, mendapat pengalaman belajar—baik langsung maupun tidak—yang bisa dikatakan tidak mudah. Kami sering sekali mendengar penekanan dari beliau, hampir di setiap perkumpulan bahwa “saya (Prof. Hamid) tidak pernah kompromi soal kualitas”. Dan benar! Pengalaman kami ketika bolak-balik mengajukan paper tugas akhir Program Kaderisasi Ulama (PKU), merevisi tugas-tugas perkuliahan secara ketat dan berlapis-lapis, me-review proposal tesis sampai pada titik jenuh, hingga pemeriksaan dan koreksian bab per bab dalam tesis secara seksama membenarkan hal itu. Ini semua adalah bukti sahih akan kecermatan dan komitmen beliau untuk tidak bermain-main dalam mengajar.

Masih terbayang jelas di kepala kami, bagaimana setiap sowan ke Prof. Hamid perasaan mendadak tegang. Lebih-lebih hampir tidak ada kisah paper tanpa koreksi di hadapan beliau. Sudah jadi makanan sehari-hari paper kami disebut khutbah Jum’at: maksudnya, tidak disertai analisa dan argumentasi yang cukup. Pengalaman lainnya, ketika diskusi kami disebut kebatinan: maksudnya apa yang kita sampaikan dan tanyakan tidak berbasis pada bacaan yang cukup, telaah yang dalam dan diskusi yang panjang. Paperpaper yang kami tulis juga seringkali beliau sebut “tidak analitis”,”kurang argumentasi”,”miskin referensi” hingga disebut “tidak layak”. Pada sisi ini, semakin membuktikan lagi sosok Prof. Hamid sebagai akademisi tulen. Sebab kerja-kerja akademisi idealnya memang harus setekun dan sedetil itu. Dengan keterbatasan waktu yang beliau punya, semua hal tadi masih beliau lakukan secara serius.

Iklim akademis yang sedemikian rupa juga dibentuk oleh Prof. Hamid lewat serangkaian fasilitas yang beliau penuhi. Seperti menyediakan asrama yang nyaman untuk kami tinggali, perpustakaan yang cukup lengkap, tenaga pengajar yang pakar di bidangnya, waktu luang beliau untuk diskusi sepanjang waktu, hingga suasana ilmiah yang dibentuk lewat serangkaian kurikulum yang juga beliau susun sendiri. Berkenaan buku rujukan, beliau bermurah hati meminjamkan koleksi pribadinya untuk kami baca ketika kesulitan mencari referensi. Bahkan sudah jadi rahasia umum, beliau juga membelikan buku kepada siapapun yang membutuhkan dengan syarat mengembalikanya ke perpustakaan. Hatta mencarikan beasiswa untuk kami kuliah beliau lakukan dengan senang hati. Dari sini muncullah—saya sebut—trilogi intelektual yang beliau tekankan berkali-kali, yaitu membaca, berdiskusi, dan menulis.

Rumusan Prof. Hamid ini saya rasa tepat sekali untuk dilakukan. Membaca adalah harga mati untuk siapapun yang ingin menghidupkan tradisi ilmu. Tapi membaca saja tidaklah cukup. Ia harus disertai dengan diskusi-diskusi: brain storming. Diskusi berfungsi sebagai pengantar pemahaman, mengklarifikasi dan menguji bacaan, selain tentu juga untuk memperluas dan menajamkan prespektif. Karena dengan diskusi, kita dipertemukan dengan bacaan lain, prespektif dari pemahaman yang berbeda. Tetapi, membaca dan berdiskusi juga masih kurang—tanpa ingin menyebutkan tidak berguna—bila tidak menghasilkan tulisan. Sebab dengan tulisan, pemahaman atas bacaan yang telah didiskusikan akan semakin kuat dan mendalam. Selain fungsi utamanya sebagai pengantar ide dan gagasan agar dikenal lebih luas, tulisan juga bisa menjadi media paling signifikan untuk amal jariyah ilmu: ‘ilmun yuntafa’u bih. Mengutip Imam al-Ghazali: “kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka menulislah”.

Tetapi, trilogi intelektual ini masih perlu penambahan lagi, yaitu mendasari ketiganya dengan keimanan yang kokoh. Bahwa kerja-kerja intelektual bertujuan, selain untuk mempertebal iman dan takwa juga sebagai sarana dakwah, “li hadmi sharīah wa li iqāmati ad-dīn”. Itulah mengapa hampir setiap karya Prof. Hamid—sekurang-kurangnya—memiliki dua bentuk: nafy (negasi) dan ithbāt (afirmasi). Yang pertama berbentuk kritik atas paham-paham asing yang tidak dikenal di dalam tradisi intelektual Islam; yang kedua berbentuk tawaran konsep, yang sebetulnya tidak baru dalam tradisi Islam, namun tidak banyak diketahui. Kesadaran ini penting untuk dibangun, sebab apa guna kepintaran jika tidak untuk memperkokoh aqidah dan menambah hidayah, juga tidak untuk berkomitmen kepada kebenaran? Sebagaimana hadīth Nabi Saw. yang dikutip oleh Imam al-Ghazali dalam Iyā: “man izdāda ‘ilman wa lam yazdad hudan, lam yazdad minallāh illā bu’dan”. Dalam pendahuluan Maqāşid Falāsifah, doa Imam al-Ghazali bisa kita jadikan pegangan: Allāhumma innī akhlatu niyyah fī alabi-l aqq fa dullanī ‘alaih wa khallinī min al-hawā. Imam al-Ghazali mengajarkan kita arti meluruskan niat, kehati-hatian, berusaha menjauhi kezaliman terhadap diri sendiri, orang lain dalam berilmu dan beramal dan yang paling penting, berkomitmen kepada kebenaran.

Oleh sebab itu, belajar adalah by a mission. Serangkaian usaha manusia agar dapat meletakkan sesuatu pada tempatnya, selain tentu bertujuan untuk mengetahui secara tepat arti wujud yang sebenarnya. Persis seperti apa yang dikatakan oleh Habib Muhammad bin Abdullah al-‘Aydrus, bahwa “true knowledge is like fruit tree; it’s not planted except for the purposes of bearing fruits. The fruit of knowledge is correct action.” Ini yang secara terus-menerus ditekankan Prof. Hamid pada kami, santri-santrinya, yang minim ilmu dan terkadang labil secara intelektual. Dari itu juga Prof. Hamid memperkenalkan kekayaan khazanah intelektual Islam dan Barat dengan ‘memaksa’ kami untuk membaca karya-karya mereka sebanyak mungkin, membuat resume, resensi, mini paper yang terstruktur dalam tugas-tugas pekanan dan bulanan. Efeknya, kami jadi merasa semakin bodoh. Dan seiring berjalannya waktu, tugas-tugas dari Prof. Hamid tersebut yang membuat kami semakin sadar akan perbedaan antara ḥaqq dan il yang sudah sedemikian terangnya.

Selain sebagai bukti kerja-kerja ilmu tadi, apa yang dilakukan Prof. Hamid ini—sepanjang pengetahuan saya—juga sebagai realisasi dari şilatul ‘ilm, persaudaraan yang berlandaskan pada ilmu. Sekeras dan seterang apapun perbedaan bila dinaugi oleh semangat mencari ilmu, semuanya akan cair dan berakhir dengan kegembiraan. Di situ tidak ada perebutan kepentingan, tidak terjadi saling caci-maki, tidak terpikir pula untuk berselisih secara ekstrim. Maka bila ditulis dalam bentuk kalimat yang tidak seberapa panjang, apa yang kami rasakan di bawah pengajaran Prof. Hamid adalah rasa sebenarnya dari menuntut ilmu. Ilmu sebagaimana dirinya, bukan sebagaimana yang lain. Bahwa ilmu bukan semata-mata baris-baris atau larik-larik yang ada di buku-buku itu, tapi ia adalah apa yang ada di dalam jiwa dan hati. Orang boleh punya deretan gelar, tapi belum tentu disertai jiwa yang bersih dan adab yang luhur, sebab ilmu yang sebenarnya ada di dalam hati.

Dari Prof. Hamid kami belajar arti “teliti dahulu sebelum membeli”. Maksudnya adalah senantiasa kritis kepada konsep, nilai, manifesto, bahkan jargon-jargon tertentu yang datang dari sumber manapun. Bacaan harus luas, tetapi daya nalar dan kritis jangan sampai kalah luas, apalagi tertinggal di belakang. Dari beliau kami juga belajar bahwa makalah ilmiah, skripsi bahkan tesis sejatinya bukanlah semata-mata mengenai deadline dan janji bimbingan dengan dosen pembimbing. Bukan tentang laporan beratus-ratus halaman dengan kumpulan istilah-istilah yang sulit dipahami. Bukan juga tentang pamer bacaan yang melimpah. Namun mengenai tanggung jawab dan kerja keras. Ilmu pengetahuan yang sejati bukanlah perkara main-main, ia adalah kerja-kerja iman. Persis seperti yang pernah diungkapkan oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas:“Education at (ISTAC) is not only about finishing coursework and writing a dissertation, but more importantly of becoming a proper Muslim intellectual who profoundly knows the various fundamental problems facing our society and can develop the right framework and strategy to solve them. Our goal is to serve Islam sincerely and correctly”.

Kini dari ketekunan, kesabaran, juga komitmen yang sudah lama beliau pupuk, Prof. Hamid berhasil sampai pada garis Guru Besar bidang Filsafat Islam—sesuatu yang, bagi saya pribadi, atas dedikasi, karya juga kecintaannya pada ilmu, sebetulnya garis tersebut sudah beliau raih bahkan satu dekade yang lalu. Semoga Prof. Hamid senantiasa dikaruniai kesehatan hingga dapat menjalankan tugas keulamaannya dengan sebaik-baiknya. Dan semoga kita dapat meneladani kezuhudannya dalam keseharian dan komitmennya terhadap kebenaran. Tahniah Prof. Hamid.

Ciputat, 13 Februari 2022

Leave a Reply