Home Sosok Prof. Dr. H.M. Rasjidi: Cendekiawan Besar yang Ditenggelamkan

Prof. Dr. H.M. Rasjidi: Cendekiawan Besar yang Ditenggelamkan

3754
0

Dalam perjalanan sejarah pemikiran Islam di Indonesia, nama Prof. Dr. Rasjidi tidak mungkin dibuang begitu saja. Menteri Agama RI yang pertama ini tercatat sebagai salah satu tokoh Islam terkemuka dan perintis tradisi intelektual di Indonesia.  Gelar doktornya diraih di Universitas Sorbonne, Paris, tahun 1956. Disamping berbagai buku penting telah ia lahirkan, Rasjidi juga pernah menjadi pengajar di McGill University, Kanada. Tapi, meskipun akrab dengan pusat studi Islam di Barat, Rasjidi termasuk sedikit cendekiawan yang selamat dari jebakan pemikiran kaum orientalis. Ia bahkan kemudian menjadi salah satu pengkritik yang tajam dari pemikiran-pemikiran kaum orientalis dan pengikutnya di Indonesia.

Siapakah Rasjidi?  Lelaki bertubuh mungil ini memiliki nama kecil Saridi. Ia  lahir di Kotagede Yogyakarta pada Kamis 20 Mei 1915 atau 4 Rajab 1333 H.  Ia anak kedua dari Bapak Atmosugido. Pendidikan dasarnya ditempuh di sekolah  Muhammadiyah Yogyakarta.  Rasjidi kemudian melanjutkan sekolah menengahnya di perguruan Al Irsyad al Islamiyah, Malang, dibawah pimpinan Syekh Ahmad Surkati, pendiri organisasi Al-Irsyad Islamiyah.  Rasjidi termasuk yang sangat tinggi semangat mencari ilmunya, karena ia diajar oleh guru-guru yang bukan hanya dari Indonesia, tapi juga dari Mesir, Sudan dan Mekkah.

Syekh Ahmad Surkati pendiri al Irsyad al Islamiyah, mendidik langsung Rasjidi dengan seksama.  Menurut Surkati, Rasjidi adalah anak yang tekun dan cerdas, sehingga dicintai guru-gurunya. Kepandaian Rasjidi dalam bahasa Arab – mampu menghafal Kitab Alfiyah Ibnu Malik dalam usia 15 tahun — menjadikannya diangkat sebagai asisten pelajaran gramatika bahasa Arab. Dalam usia remaja itu, Rasjidi juga hafal buku Logika Aristoteles yang berjudul “Matan as Sullam.”

Perkenalannya dengan banyak guru-guru Timur Tengah itu, menjadikan Rasjidi bersemangat untuk melanjutkan studinya di Mesir. Di Mesir, selain mempelajari ilmu-ilmu agama, di Sekolah Persiapan Darul Ulum (setingkat Sekolah Menengah) ia juga diajar aljabar, ilmu bumi, sejarah dan lain-lain. Rasjidi menguasai bahasa Perancis, Inggris, Arab dan Belanda tentunya. Ia pun menjadi seorang hafizh, hafal al Qur’an 30 juz.

Soebagijo IN menceritakan: “Dengan diantar oleh Syekh Thantawy Djauhary pengarang Tafsir al Jawahir  yang masyhur serta sahabat karib Syekh Ahmad Surkati, dia mendaftarkan ke Sekolah Persiapan untuk memasuki Sekolah Guru Tinggi bahasa Arab yang bernama Darul Ulum (kelas III)Rasjidi diuji untuk masuk kelas V.  Di kelas itu dia belajar 8 bulan lamanya, dan akhirnya berhasil  meraih diploma Sekolah Menengah Umum dengan agama dan hafal al Qur’an secara lengkap, yakni 30 juz Al Qur’an, di samping mendapatkan sertifikat untuk mata pelajaran bahasa Inggeris dan Prancis. Karena di sana berlaku sistem Prancis, maka di Mesir diploma Sekolah Menengah Lanjutan disebut surat ijazah Baccalaureat. Dengan ijazah Baccalaureat  itu, Rasjidi berhak meneruskan ke perguruan tinggi.”

Pilihannya kemudian diarahkan ke  Universitas al Azhar, Kairo.  Di sana ia mengambil jurusan Filsafat dan Agama.  Setelah empat tahun belajar di situ, ia mendapat gelar Licence.  Di kelas itu mahasiswanya hanya tujuh orang. Ia menempati rangking satu mengalahkan mahasiswa dari Mesir, Albania dan Sudan.

Setelah kembali ke tanah air beberapa tahun, Rasjidi melanjutkan kuliahnya di Fakultas Sastra, Universitas Sorbonne, Paris. Pada hari Jumat, 23 Maret 1956, Rasjidi akhirnya meraih gelar doktor di universitas terkemuka itu dengan disertasi berjudul l’Evolution de l’Islam en Indonesie ou Consideration Critique du Livre Centini (Evolusi Islam di Indonesia atau Tinjauan Kritik terhadap Kitab Centini).

HM Rasjidi adalah Menteri Agama RI pertama. Di pemerintahan, ia juga pernah menjabat sebagai Duta Besar RI di Mesir, Arab Saudi dan lain-lain. Sebelumnya di bidang organisasi, ia pernah  terlibat diantaranya dalam organisasi PII dan Masyumi. Ia juga pernah aktif sebagai Dosen di Sekolah Tinggi Islam (UII) Yogyakarta, Guru Besar Fakultas Hukum UI, Guru Besar Filsafat Barat di IAIN Syarif Hidayatullah dan menjadi Dosen tamu di McGill University.

Banyak buku telah ditulisnya, baik karya sendiri maupun terjemahan. Karya-karya asli Rasjidi antara lain : Islam Menentang Komunisme, Islam dan Indonesia di Zaman Modern, Islam dan Kebatinan, Islam dan Sosialisme, Mengapa Aku Tetap Memeluk Agama Islam, Agama dan Etik, Empat Kuliah Agama Islam pada Perguruan Tinggi, Strategi Kebudayaan dan Pembaharuan Pendidikan Nasional, Hendak Dibawa Kemana Umat Ini?  Sedangkan karya terjemahnya antara lain: Filsafat Agama, Bibel Qurán dan Sains Modern, Humanisme dalam Islam, Janji-janji Islam dan Persoalan-persoalan Filsafat.

Dalam khasanah pemikiran Islam di Indonesia, Nama Rasjidi seperti sengaja ditenggelamkan. Saat mengajar di McGill, Rasjidi-lah yang membawa Harun Nasution untuk melanjutkan studi di McGill. Bahkan, selama satu tahun, ia memberikan tumpangan rumah kepada Harun Nasution. Toh, Rasjidi kemudian tidak kehilangan sikap kritis terhadap sahabat dekatnya itu.

Ketika buku Harun Nasution yang berjudul Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya dijadikan sebagai buku pegangan di Perguruan Tinggi Islam, tahun 1973, Rasjidi segera memberikan kritik-kritik tajamnya. Setelah menunggu dua tahun surat pribadinya tidak dijawab oleh Menteri Agama, ia kemudian menerbitkan bukunya yang berjudul: Koreksi terhadap Dr. Harun Nasution tentang Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya.  

Tentang buku Harun Nasution tersebut, Rasjidi menyatakan: “Saya menjelaskan kritik saya fasal demi fasal dan menunjukkan bahwa gambaran Dr. Harun tentang Islam itu sangat berbahaya, dan saya mengharapkan agar Kementrian Agama mengambil tindakan terhadap buku tersebut, yang oleh Kementrian Agama dan Direktorat Perguruan Tinggi dijadikan buku wajib di seluruh IAIN di Indonesia.”

Kritik Rasjidi dianggap angin lalu saja. Buku Harun Nasution dijadikan buku pegangan wajib, tanpa menyertakan kritik dari Rasjidi. Bisa dipahami, jika banyak mahasiswa yang kemudian mengenal dan menjadi pengikut setia pemikiran Harun Nasution. Padahal, Rasjidi sudah mengingatkan, cara pandang buku tersebut terhadap Islam adalah “sangat berbahaya”.

Tahun 1972, ketika ribut-ribut tentang pemikiran Nurcholish Masjid tentang sekularisasi, Rasjidi juga mengangkat pena dan menulis buku berjudul Koreksi terhadap Drs. Nurcholish Madjid tentang Sekulerisme. Buku itu pun ia luncurkan setelah upaya pendekatan secara pribadi gagal dilakukan. Sebagai guru besar di Universitas Indonesia, Rasjidi tak segan-segan menasehati Nurcholish yang ketika itu masih sarjana S-1. Setelah memberikan kritiknya, Rasjidi menulis: “… jika Saudara sudah pernah membaca uraian semacam ini, dan Saudara tetap dalam alam sekularisasi dan desakralisasi Saudara, maka saya hanya dapat berkata: “Saya telah melakukan kewajiban saya, watawasau bil-haqqi watawasau bissabri.”

Penulis: Nuim Hidayat

Leave a Reply