Home Artikel “Pemerintah Mestinya Kembangkan Konsep Ilmu Fardhu Ain dan Fardhu Kifayah”

“Pemerintah Mestinya Kembangkan Konsep Ilmu Fardhu Ain dan Fardhu Kifayah”

1093
0

Pernyataan itu disampaikan Dr Adian Husaini dalam pengajian dua mingguan Insists pagi ini (17/11/2012) di Kalibata, Jakarta Selatan. Menurut peneliti Insists ini, saat ini pemerintah cenderung mengikuti Barat dalam pengembangan ilmu, yaitu membagi ilmu dalam ‘Natural Sciences’ dan ‘Social Sciences’  “Dan pendidikan sekarang cenderung materialistik. Menanamkan orang takut. Takut tidak lulus. Setelah lulus takut tidak dapat pekerjaan. Setelah itu takut tidak nikah dan seterusnya,”kata Adian.

Doktor lulusan ISTAC-IIUM Malaysia ini juga menganjurkan pemerintah agar mengadopsi konsep Imam Al Ghazali yang membagi ilmu selain fardhu ain dan fadhu kifayah, juga membagi ilmu aqliyah dan ilmu syar’iyyah. Ia berharap dengan demikian murid-murid (Muslim) nantinya semua wajib mengambil pelajaran ilmu-ilmu syari’yah yang penting. Seperti semua mahasiswa Muslim wajib mengambil bahasa Arab, Ulumul Qur’an, Ulumul Hadits dan seterusnya selain ilmu-ilmu fardhu kifayah yang akan ditekuninya atau menjadi profesinya.

Dalam kajian yang dihadiri sekitar 70 anak-anak muda itu, Adian berharap mahasiswa-mahasiswa muslim mempunyai dignity, kebanggaan menjadi seorang Muslim. “Dignity inilah yang sangat ditekankan Prof Alatas dalam kuliah-kuliahnya,”tutur Adian yang mengaku ketika kuliah tidak sempat diajar Alatas, karena ISTAC keburu ‘ditimpa masalah’. Alatas percaya diri dan kritis dalam menghadapi para orientalis baik di Chicago, Mc Gill, Oxford dan lain-lain. “Istri Alatas tadinya non Islam, kemudian di-Islamkan dan kemudian dinikahinya,”terang Doktor bidang Pemikiran dan Peradaban Islam ini.

Sumbangan Alatas yang penting adalah bagaimana Muslim menghadapi Barat ini. “Alatas menekankan problem yang terpenting bagi umat adalah ilmu, kerusakan ilmu yang diakibatkan oleh peradaban Barat, Memang ada problem politik, ekonomi dan seterusnya tapi yang menjadi akarnya adalah problem ilmu,”tegasnya. Karena itu Alatas mencoba membangun keilmuan yang dilandasi sepenuhnya oleh Islam. “Meski beberapa orientalis dibolehkan mengajar di ISTAC, tapi Alatas selalu ‘mengcounter’ pemikiran-pemikiran orientalis yang salah itu dalam pengajian mingguannya,”terang Ketua Program Pendidikan Islam Pascasarjana UIKA ini.

Selain itu, Adian juga menjelaskan, konsep Adab yang digagas oleh Prof Alatas dalam Seminar Pendidikan Islam di Mekah tahun 70-an, sebenarnya digali dari para ulama. “Konsep adab atau ta’dib ini meliputi tarbiyah dan ta’lim,”terangnya. Adian mencontohkan, misalnya banyak hadits-hadits Rasulullah saw yang menggunakan istilah adab.  “Adab bukanlah sopan santun yang digali dari budaya. Adab adalah sebuah sikap yang bersumber dari wahyu Allah SWT,”jelasnya. Seperti Hadist Rasulullah saw:Muliakanlah anak-anakmu dan  perbaikilah adab mereka” (HR Ibn Majah). “Jika seseorang mendidik anaknya (menjadikan anaknya beradab), maka itu lebih baik baginya daripada bersedekah setiap harinya setengah sha’. (HR Imam Ahmad).

Istilah “adab” dalam kedua hadits Nabi tersebut identik dengan istilah Pendidikan saat ini. Karena itulah, istilah “adab” juga merupakan salah satu istilah kunci dalam Islam. Para ulama telah banyak membahas makna adab dalam pandangan Islam. Di Indonesia, K.H. M. Hasyim Asy’ari, pendiri NU, menulis sebuah buku berjudul  Aadabul ‘Aalim wal-Muta’allim (edisi Indonesia: Etika Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Titian Wacana, 2007). Terjemahan harfiahnya: Adab Guru dan Murid. Buku ini membahas secara panjang lebar tentang masalah adab. Kyai Hasyim Asy’ari membuka kitabnya dengan mengutip hadits Rasulullah saw: “Haqqul waladi ‘alaa waalidihi an-yuhsina ismahu, wa yuhsina murdhi’ahu, wa yuhsina adabahu.”  (Hak seorang anak atas orang tuanya adalah mendapatkan nama yang baik, pengasuhan yang baik, dan adab yang baik). Dikutip juga perkataan sejumlah ulama. Hasan al-Bashry misalnya, yang menyatakan: “In kaana al-rajulu la-yakhruja fii adabi nafsihi al-siniina tsumma siniina.” (Hendaknya seseorang senantiasa mendidik dirinya dari tahun ke tahun).   

Maka, dalam bukunya itu, Kyai Hasyim Asy’ari menuliskan kesimpulan:

”Kaitannya dengan masalah adab ini, sebagian ulama lain menjelaskan, ”Konsekuensi dari pernyataan tauhid yang telah diikrarkan seseorang adalah mengharuskannya beriman kepada Allah (yakni dengan membenarkan dan meyakini Allah tanpa sedikit pun keraguan). Karena, apabila ia tidak memiliki keimanan itu, tauhidnya dianggap tidak sah. Demikian pula keimanan, jika keimanan tidak dibarengi dengan pengamalan syariat (hukum-hukum Islam) dengan baik, maka sesungguhnya ia belum memiliki keimanan dan tauhid yang benar. Begitupun dengan pengamalan syariat, apabila ia mengamalkannya tanpa dilandasi adab, maka pada hakikatnya ia belum mengamalkan syariat, dan belum dianggap beriman serta bertauhid kepada Allah.

Berdasarkan beberapa hadits Rasulullah saw dan keterangan para ulama di atas, kiranya tidak perlu kita ragukan lagi betapa luhurnya kedudukan adab di dalam ajaran agama Islam. Karena, tanpa adab dan perilaku yang terpuji maka apa pun amal ibadah yang dilakukan seseorang tidak akan diterima di sisi Allah SWT (sebagai satu amal kebaikan), baik menyangkut amal qalbiyah (hati), badaniyah (badan), qauliyah (ucapan), maupun fi’liyah (perbuatan). Dengan demikian, dapat kita maklumi bahwa salah satu indikator amal ibadah seseorang diterima atau tidak di sisi Allah SWT adalah melalui sejauh mana aspek adab disertakan dalam setiap amal perbuatan yang dilakukannya.”

Dalam kesempatan itu, intelektual muda ini, juga menyemangati agar para mahasiswa terus bangga dan memegang teguh keyakinan Islam yang mulia itu. Adian mengutip Mohammad Iqbal dan Mohammad Asad, tentang bahaya kaum Muslimin bila telah kehilangan keyakinan dan terpengaruh dengan peradaban Barat yang materialistik itu. “Conviction enabled Abraham to wade into the fire, conviction is an intoxicant which makes men self sacrificing; know you oh victims of modern civilization! Lack of conviction is worse than slavery,” kutip Adian terhadap Iqbal.

Diantara mereka yang terpengaruh Barat adalah Abdullah Chevdet, pendiri CUP, Turki Muda dulu.  Ia menyatakan,“There is only one civilization, and that is European civilization. Therefore, we must borrow western civilization with both its rose and its thorn.”  (nuim).

 

Leave a Reply