Home Berita Kitab Pengagungan yang Tak Menjadikan Rasulullah Berhala — Catatan INSISTS Saturday Forum...

Kitab Pengagungan yang Tak Menjadikan Rasulullah Berhala — Catatan INSISTS Saturday Forum (INSAF) 11/08/2018

Kitab Syamail ditulis dengan dan untuk sebuah cinta kepada Rasulullah Muhammad Shalallahu 'Alaihi wa Sallam.

524
0

Ajaran Islam mengharamkan penggambaran sosok Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam secara visual. Selain mengacu pada keharaman umum tentang membawa sesuatu yang mengatasnamakan Rasul padahal itu bukan dari beliau, visualisasi sosok Nabi juga dapat membuka mafsadah lebih jauh berupa pemberhalaan. Begitu keharaman tersebut dilaksanakan dengan sengaja oleh seseorang, kemarahan umat Islam sedunia segera menyala.

Beberapa contoh kontemporer, dari mulai novel The Satanic Verses karya Shalman Rushdie, film Innocence of Muslim karya Nakoula Basseley Nakoula, sampai karikatur terbitan media satir Charlie Hebdo, cukup mewakili nyala kemarahan umat. Kasus Charlie Hebdo bahkan berujung pada penyerangan kantor mereka. Sebagai tambahan, ketiganya bukan cuma menampilkan sosok Nabi lewat kepalsuan dengan sadar, melainkan dengan kesadaran penuh untuk menghinakan Manusia Terbaik di langit dan bumi ini.

Terhindar dari batas-batas keharaman tersebut, ulama hadits besar, Imam at-Tirmidzi (w. 892) menuliskan kitab khusus berjudul Syama’il Muhammadiyah. Kitab tersebut berisi riwayat orang-orang terdekat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang pribadi dan akhlak orang yang paling mereka cintai itu. Dalam INSAF pekan lalu (11/8), Imam Matin, Lc., M.Pd. menjelaskan sisi emosional dan spiritual dari para pembaca kitab tersebut.

“Kitab ini menimbulkan perasan cinta pada Baginda,” ungkap alumnus sebuah perguruan tinggi di Damaskus, Suriah ini. Ia kemudian menguraikan perasaan cinta seseorang pada orang lain menjadi tiga. “Orang dicintai karena (1) keindahan yang menawan hati, (2) kebaikan yang diterima dan merasuk ke dalam hati, dan (3) kehebatan yang menimbulkan rasa kagum,” terang beliau, yang mengutip pembagian tersebut dari ulama besar Suriah, Syaikh Ramadhan al-Buthi, dalam kitab al-Hubbu fil Quran. Ketiganya terdapat pada diri Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam, bahkan diakui oleh orang-orang yang memusuhi beliau.

Ustadz Matin kemudian beberapa hadits dalam kitab tersebut yang menggambarkan perawakan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, dari mulai bentuk rambut, alis, janggut, bahu, dada, cara beliau duduk, dan sebagainya. Kitab ini ditulis setelah Imam at-Tirmidzi melacak riwayat sampai ke nama-nama tak terlalu banyak meriwayatkan hadits, seperti putera tiri Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dari pernikahan beliau dengan Siti Khadijah, Hindun. Dalam catatan Imam at-Tirmidzi, dua cucu Rasulullah Shalallahu “Alaihi wa Sallam, Hasan dan Husain RA, sering bertanya pada Hindun tentang perawakan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, setiap timbul rasa rindu di hati kedua cucu mulia tersebut.

Kekuatan yang menggerakkan Imam at-Tirmidzi untuk melakukan penelitian hadits hingga terbit kitab tersebut tentu saja adalah cinta. Ketulusan dan kebesaran ilmu beliau diakui bahkan oleh gurunya, seorang ulama hadits terbesar, Imam Bukhari. “Manfaat yang saya ambil darimu lebih banyak daripada manfaat yang engkau ambil dari saya,” demikian pengakuan sang imam yang disampaikan Ustadz Matin. Ulama lain mengakui daya ingatnya yang begitu unggul.

Seluruh peserta INSAF, perempuan dan laki-laki, tampak begitu khusyuk menyimak pemaparan Ustadz Matin tentang Kitab Syamail.

Cara Islam dalam memuliakan sosok teragungnya ini berbanding terbalik dengan tradisi agama-agama lain. Materialisasi sosok agung –bahkan yang adikodrati, seperti Tuhan dan Dewa- menjadi sesuatu yang lumrah dalama gama-agama budaya karena tuntutan imanensi, yakni penghadiran rasa dekat manusia pada sosok yang mereka agungkan. Namun hal ini tak dibarengi dengan tradisi periwayatan bertanggungjawab untuk membuktikan otentisitas tersebut. Antropologi agama menyebut hal ini dengan idolatry, atau pemberhalaan. Perkembangan ilmu arkeologi kian membantu pelacakan otentisitas tersebut, namun tetap saja tak pernah sampai pada temuan yang final.

Islam menyebut hal di atas sebagai sikap mengikuti nenek moyang (Q.S. Al-Baqarah: 170) dan keliru. Meski tak memerlukan bahkan mengharamkan pemberhalaan, tradisi penjagaan Qur’an dan periwayatan hadits bisa membuktikan kemurnian dan kebenaran ajaran Islam.

Leave a Reply