Home Berita Tuduhan dan Pembelaan terhadap Imam Al-Ghazali di Dunia Akademik –Catatan INSISTS Saturday...

Tuduhan dan Pembelaan terhadap Imam Al-Ghazali di Dunia Akademik –Catatan INSISTS Saturday Forum (INSAF) 27/10/2018

291
0

Para orientalis banyak menyampaikan pendapat tendensius terhadap sosok Imam Al-Ghazali. Ignaz Goldziher, misalnya, menyebutkan bahwa “kekuatan keagamaan yang konservatif” telah membawa kemunduran sains di dunia Islam. Kekuatan yang dimaksud adalah pemikiran Imam Al-Ghazali yang mengukuhkan Ahlussunnah wal jama’ah.

Orientalis lain, Giorgio de Santillana, mengatakan Al-Ghazali tidak mencolok secara intelektual, dan telah menutup pintu ijtihad. Dalam INSISTS Saturday Forum Sabtu (27/10) lalu, Dr. Budi Handrianto menyampaikan 3 hal untuk meluruskan hal tersebut.

“Pertama, penulisan sejarah yang tendensius harus digantikan dengan penulisan yang lebih berpihak pada sosok yang sangat dihormati keulamaannya,” terang Dr. Budi. Hal kedua adalah dengan membersihkan citra Imam Al-Ghazali itu sendiri, yang sudah selama dua abad lebih terus dituduh sebagai sumber kemunduran oleh kalangan orientalis. Sebagian muslim ikut terpengaruh oleh pandangan ini, dan sebagian lain menuduh Sang Hujjatul Islam dari sisi lain, yakni menuduhnya penyebar bid’ah karena mengajarkan kalam, filsafat, dan tasawuf.

Yang ketiga, penulisan sejarah ulama Islam dengan benar khususnya di bidang pemikiran, akan menjadi salah satu sumbangan bagi pengembangan Islamisasi sains modern, karena hal tersebut memberikan pemahaman yang berharga terkait pemikiran yang melandasai kegiatan Islamisasi di masa lalu. Sosok Imam Al-Ghazali adalah slah satu di antara pemikir yang penting itu, karena beliau memiliki pemahaman tentang realitas dan kausalitas yang sesuai dengan worldview Islam.

Dr. Budi kemudian menampilkan dua pandangan pakar sejarah sains, Goeorge Saliba dan Cemil Akdogan, yang membela sosok Imam Al-Ghazali. Menurut Saliba, tuduhan seperti yang disampaikan Goldziher bahwa “konservatisme agama” pasti memundurkan sains adalah keliru. Mereka menerapkan pengalaman keagamaannya di Barat, ketika agama dan sains tak dapat didamaikan, dalam membaca sejarah Islam. Padahal dalam Islam tak terdapat pertentangan seperti itu. Saliba menyebutkan bias ini sebagai “classical narative”. Para ulama besar dalam sejarah Islam justru banyak yang memiliki otoritas saintifik pula.

Akdogan melangkah lebih jauh lagi. Menurut mantan Profesor Sains Islam di ISTAC ini, Al-Ghazali justru telah mematahkan beberapa pemikiran fisika Aristoteles yang menjadi penghambat kemajuan fisika modern. Posisi beliau sebagai ulama yang tak memiliki dukungan politik dari rezim yang berkuasa juga teralalu aneh kalau dicurigai sebgai sumber kemunduran dunia Islam secara keseluruhan. Bahkan fakta sejarah juga membantah hal tersebut, sebab hingga abad 17 masih terdapat kegiatan ilmiah besar di dunia Islam, seperti Observatorium Maragha.

“Pelurusan sejarah abad pertengahan wabil khusus peran al-Ghazali dalam sains merupakan landasan bagi kebangkitan sains Islam di abad modern jika umat mengetahui dan memahaminya,” kata dosen Program Pascasarjana Pendidikan Islam Universitas Ibn Khaldun ini. Dengan landasan yang benar, proses Islamisasi sains Barat modern akan
berjalan sesuai jalurnya karena kita pernah melewati tahap yang sama.

Leave a Reply