Home Sosok Ir. Muhaimin Iqbal: Terus Belajar dan Berkarya

Ir. Muhaimin Iqbal: Terus Belajar dan Berkarya

3893
0
muhaimin-iqbalDalam pentas perekonomian Islam di Indonesia, nama Muhaimin Iqbal merupakan sosok unik. Selain cukup produktif dalam menghasilkan karya-karya ilmiah, Iqbal juga praktisi bisnis yang dikenal sarat dengan ide-ide baru dalam bidang usaha perekonomian syariah. “Ia seorang yang luar biasa, terus berpikir dan berkarya,” ujar seorang dosen Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro yang sengaja menemui Iqbal di kediamannya di kawasan Depok.
Karya dan prestasi Iqbal tak lepas dari didikan masa kecilnya. Lahir di Nganjuk 17 Maret 1963, di lingkungan pesantren kecil yang dipimpin oleh ayahnya sendiri Imam Hambali, Iqbal — seperti santri pada umumnya —  sejak kecil terbiasa sekolah dari pagi sampai malam. Pagi di sekolah umum, sore atau malam hari di madrasah. Di SMU Muhammadiyah I (MUHI) Jogjakarta, Iqbal berhasil menyelesaikan pelajarannya dengan nilai tertinggi di sekolahnya.
Prestasinya menarik Prof. Andi Hakim Nasution –  Ilmuwan Indonesia yang menjadi idolanya – untuk memberi kesempatan pada Iqbal masuk IPB tanpa tes. Di Jurusan Mekanisasi Pertanian IPB, tahun 1985, Iqbal lulus dengan nilai tertinggi, sejak jurusan itu berdiri 18 tahun sebelumnya.
Prestasi cemerlang semasa sekolah/kuliah juga memudahkannya berprestasi di dunia kerja. Dua puluh satu tahun di dunia kerja, hanya dalam bilangan bulan saja dia lalui sebagai pegawai biasa. Posisi manager dan general manager ditempuhnya sejak pertengahan usia 20-an sebelum akhirnya menduduki jabatan direksi pada usia 27 tahun di perusahaan jasa keuangan yang dikelola bersama mitranya yang rata-rata berkewarganegaraan asing. Di bidang risk management dan asuransi, Iqbal memperoleh pengakuan tertinggi dari lembaga profesi di New Zealand, Inggris, Australia dan Indonesia.
Kecintaannya pada syariat Islam membuat Iqbal melakukan terobosan besar dalam hidupnya. Menyusul keluarnya Fatwa MUI no 1 tahun 2004 tentang riba-nya bunga bank dan produk-produk industri keuangan, Iqbal memutuskan mengakhiri karirnya di industri finasial konvensional. Iqbal kemudian melakukan riset serius tentang sistem keuangan Islam. Ia berkali-kali harus bolak-balik ke Mekah, Medinah, Damaskus, Malaysia untuk mencari referensi yang baku tentang jurisprudensi-jurispudensi transaksi finansial yang sudah dibukukan oleh ulama terdahulu dan ulama sekarang yang memang bener-bener ahli di bidangnya. Di Indonesia-pun dia secara khusus belajar dari ulama yang sangat dia hormati karena pemahamannya yang sangat dalam dibidang muamalah yaitu Ustad Abdurrahman Al Bagdadi.
Kerja kerasnya membuahkan karya tersendiri. Buku pertamanya, berjudul General Takaful Practice. Buku ini kemudian diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dan juga diterjemahkan kedalam bahasa Arab yang terbit di Beirut. Buku kedua masih dia juga tulis dalam bahasa Inggris yaitu Takaful Solution karena buku-buku tersebut juga menjadi bahan ceramah-ceramah Iqbal di Singapore, London dan Munich. Dua buku dalam bahasa Inggris ini pula yang menjadi referensi utama ketika Iqbal ditunjuk menjadi mitra Islamic Development Bank untuk mengadakan workshop international dibidang Takaful  and Islamic Insurance.
Saat berada di puncak karir finansial-nya,  Iqbal memutuskan untuk meninggalkan sama sekali seluruh track record cemerlang dan juga seluruh gelar profesinya dari berbagai negara – yang oleh sebagian besar professional dibidang ini di-idam-idamkannya.
Baginya, bukan hal baru untuk mulai pencarian lagi dari nol. Pencariannya difokuskan pada empat area yang menurutnya menjadi pilar dari kemakmuran dan ekonomi syariah yang sesungguhnya. Pilar pertama, uang yang adil yang berdaya beli tetap sepanjang jaman. Untuk ini Iqbal mendalami dan  menulis empat buku tentang Dinar Islam:  Mengembalikan Kemakmuran Islam Dengan Dinar dan Dirham (SLC, 2007), Dinar Solution (GIP, 2008), Dinar the Real Money (GIP 2009),  Dinarnomics (GIP, 2010).
Pilar kedua menurut Iqbal adalah Sumber Daya Insani, khususnya dibidang life skills yang harus bisa diakses oleh semua orang. Untuk merealisasikan idenya ini Iqbal mendirikan Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqiin – di Jonggol yang semuanya serba gratis. Saat ini sudah ada 15 angkatan eksekutif yang mengikuti program pesantren ini. Dari pengalamannya membangun pilar kedua ini Iqbal juga sudah menerbitkan buku khusus dengan judul Kambing Putih Bukan Kambing Hitam (Republika Penerbit, 2011).
Pilar ketiga adalah perbaikan akses terhadap modal, menurutnya salah satu sumber kemiskinan umat ini adalah karena akses modal yang terpusat pada golongan yang kaya saja. Untuk konkritnya Iqbal mendirikan Koperasi BMT (Baitul Mal wa Tamwil) dengan nama Daarul Muttaqiin – rumah bagi orang-orang yang bertakwa. BMT ini unik karena produk unggulannya adalah apa yang dia sebut Pinjaman Tanpa Beban – benar-benar tanpa beban tetapi diharuskan adanya penjamin (kafil). Dengan system kafil tersebut, BMT Daarul Muttaqiin menjadi BMT yang memiliki NPL (Non Performing Loan) amat sangat rendah- dibawah 1 %.
Pilar keempat yang berusaha direalisasikannya saat ini adalah apa yang dia sebut sebagai Pasar Madinah. Pasar ini mengacu pada apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw di awal berdirinya Negara Islam Madinah. Pasar inilah yang kemudian menjadi ujung tombak kemakmuran umat Islam dari waktu ke waktu. Untuk memulainya karena perlu modal yang sangat besar, maka Iqbal tidak langsung membuat pasar. Tetapi dia membuat tempat bazaar permanen yang kemudian dia sebut Bazaar Madinah.
Bagi Iqbal, membangun pasar adalah membangun budaya muamalah yang sesungguhnya. Di Bazaar Madinah misalnya, semua pedagang berkesempatan sama untuk bisa berdagang dan tidak dikenakan beban apapun di depan. Di bazaar ini para pedagang cukup diikat dengan komitmen untuk jujur, tidak menipu, tidak mengurangi timbangan, tidak menyembunyikan cacat barang dan seterusnya. yang menjadi syariat dalam jual beli. Sistem, teknologi antrian dan teknologi pengawasan diterapkan di bazaar ini agar kepatuhan terhadap syariat bisa di monitor dan juga bisa dilakukan koreksi/teguran bila ada pelanggaran.
“Hal Jaza ul Ihsan Illa al-Ihsan, tidak ada balasan dari suatu kebaikan kecuali kebaikan pula. Ayat al-Quran ini yang menjadi pegangan saya,” ujarnya.
Muhaimin Iqbal berharap apa yang dilakukannya bisa menginspirasi orang lain untuk menyempurnakan pikiran dan aktivitasnya.

Leave a Reply