Home Berita Insists Gelar Temu Ilmiah Akhir Tahun, Bahas Pendidikan Holistik

Insists Gelar Temu Ilmiah Akhir Tahun, Bahas Pendidikan Holistik

848
0

Alhamdulillah berkat Rahmat dan Karunia Allah, acara Temu Ilmiah dan Pidato Akhir Tahun INSISTS berjalan dengan baik dan semarak sejak jam 9.00-17.30 WIB

Program ini adalah bagian dari muhasabah terhadap peristiwa selama satu tahun belakangan ini, untuk kemudian merumuskan bersama apa yang perlu direncanakan dan dikuatkan pada tahun-tahun yang akan datang.

Bertindak sebagai keynote speaker, Prof. Hamid Fahmy menekankan pentingnya pendekatan pendidikan holistik pesantren untuk masa depan anak-anak muslim. Pendidikan yang tidak saja mementingkan aspek kognitif, namun juga meliputi sisi emosional, fisik dan spiritual (afektif dan psikomotorik).

Maka hakekat pesantren bukanlah sekedar Lembaga Pendidikan, namun juga sebagai peradaban kecil yang membentuk diri manusia pada kempurnaan lahir dan batin: ‘ilman, khuluqan wa adaban. Sebuah capaian Pendidikan holistik yang sesungguhnya.

Pemaknaan Pendidikan secara holistik bukan lagi sebuah pilihan, namun sudah menjadi keharusan. Dr. Henri pada sesi kedua temu ilmiah ini menyampaikan bahwa, terjadi banyak anomali, pada Pendidikan modern. Angka melek huruf yang meningkat tajam diikuti oleh angka melek pasangan yang rendah (menurunnya angka perkawinan).

Misalnya saja, dari tahun ke tahun, penularan HIV/AIDS dan kehamilan di luar nikah yang menyasar kalangan pelajar dan terpelajar justru meningkat tajam. Termasuk dengan praktik korup pejabat yang bergelar doctor dan professor yang semakin memprihatinkan.

Demikianlah pendidikan yang hanya mengejar keterampilan teknis (skill) tanpa penanaman adab. Ia hanya akan melahirkan koruptor-koruptor yang terampil membocorkan uang negara. Mereka cerdas secara angka, tapi bodoh secara makna, ujar Dr. Henri.

Pemaknaan holistik yang tidak saja berarti “whole” Kembali diingatkan oleh Prof. Ugi pada sesi selanjutnya. Di mana holistik haruslah dipahami pada lever tertinggi, yaitu merujuk pada konsep kamil (sempurna) atau kulli (universal). Maka outputnya adalah mencetak al-insan al-kamil (manusia sempurna) dengan Rasulullah Saw. sebagai prototipe utamanya.

Jika model dan paradigma Pendidikan ini diusahakan secara sungguh-sungguh, maka cita-cita melahirkan manusia yang sempurna; berorientasi pada otoritas keilmuan; ulama intelek, dan leader penopang kebaikan, niscaya segera terwujud.