Home Artikel Waktu, Anugerah Yang Tak Ternilai

Waktu, Anugerah Yang Tak Ternilai

1178
0

menit-berharga

Berkali-kali Allah Ta’ala bersumpah atas nama waktu. “Demi Dhuha”, Demi Fajar, Demi Subuh, Demi cahaya merah pada waktu senja, Demi Malam, Demi Siang, dan Demi Masa.” Sumpah Allah yang berulang kali atas nama waktu menunjukkan betapa pentingnya waktu dalam kehidupan manusia.

Ibadah yang menjadi tujuan hidup seorang Muslim juga tidak terlepas dari waktu. Fikih ibadat, muamalat, jinayat dan munakahat terkait erat dengan waktu. Shalat, puasa, zakat fitrah, haji, hari raya Idul Fitri, Idul Adha, talak, ‘iddah, ruju’, akikah, haid, nifas, pegadaian, secara langsung melibatkan waktu. Shalat lima waktu secara jelas menunjukkan waktu sebagai esensi utama dari shalat. Disebut salat Subuh karena dikerjakan pada waktu subuh. Bahkan tepat waktu dalam shalat merupakan perbuatan yang paling disukai Allah Ta’ala. Bukhari, Muslim, Tirmidzi dan Nasa’i meriwayatkan sebuah hadis dari Abdulllah bin Mas’ud RA yang berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah SAW, pekerjaan apa yang paling disukai Allah?” Rasulullah SAW berkata: “Shalat tepat waktu.” (as-shalatu ‘ala waqtiha).

Waktu merupakan karunia Allah kepada manusia. Waktu menjadi pengukur terhadap kesuksesan dan kegagalan, kesenangan dan kesedihan, kesehatan dan penyakit. Orang yang berhasil adalah orang yang memanfaatkan waktunya untuk meraih cita-citanya. Sebaliknya, orang yang gagal adalah orang yang mensia-siakan waktunya. Rasululullah SAW juga pernah bersabda: “Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia merugi, yaitu sehat dan kosong. Waktu yang merupakan karunia, jika tidak dimanfaatkan maksimal, bisa berubah menjadi bencana.

Waktu bukan saja memiliki nilai materi, tetapi juga nilai ukhrawi. Waktu lebih berharga daripada emas, waktu adalah uang, adalah ungkapan nilai material waktu. Namun, waktu juga memiliki nilai ukhrawi. Pengunaan waktu di dunia akan berdampak kepada pertanggung-jawaban di akhirat. Rasulullullah SAW bersabda: “Tidaklah mata kaki seorang hamba di hari kiamat tergelincir sehingga akan ditanya umur yang dihabiskannya, ilmunya yang telah diamalkannya, hartanya darimana ia perolehnya dan kemana diinfakkannya, dan masa mudanya kemana ia pergunakannya.”

Mengingat pentingnya waktu, para ulama kita terdahulu benar-benar menggunakannya semaksimal mungkin dalam hidupnya. Kesadaran yang begitu mendalam tentang waktu mendorong mereka untuk bekerja keras, menjadi penulis yang sungguh produktif, memiliki disiplin yang tinggi. Mereka telah mewarnai peradaban dunia. Mereka mendahului zamannya. Imam al-Tabari, misalnya, menulis kurang lebih sekitar 350 ribu halaman. Tafsir at-Tabari pada awalnya berjumlah 30 ribu halaman. Begitu juga sejarah atau Tarikh at-Tabari, awalnya juga berjumlah 30 ribu halaman. Imam Fakhruddin ar-Razi, sering berpuasa karena waktu untuk makan, dimanfaatkannya untuk belajar. Bayangkan dengan kondisi kita saat ini, justru ketika kita berpuasa, etos belajar semakin melempem. Imam Syafi’i menghabiskan waktu di bulan Ramadhan dengan mengkhatamkan al-Qur’an dua kali dalam shalatnya. Artinya di bulan Ramadhan, Imam Syafi’i membaca al-Qur’an kurang lebih 60 kali khatam di dalam shalatnya.

Ibnu Rusyd selama hidupnya hanya dua malam yang tidak digunakannya untuk belajar, yaitu saat malam pernikahannya dan malam meninggal ayahnya. Imam Bukhari menghabiskan waktunya untuk menghafal sekitar 100 ribu hadis. Para ulama kita terdahulu juga memanfaatkan waktunya dengan menulis ratusan judul buku. Terkadang satu judul buku bisa mencapai berjilid-jilid. Mereka sungguh telah mewarnai peradaban dunia. Mereka telah mewariskan banyak sekali karya yang hingga saat inipun kita masih rasakan manfaatnya. Semua prestasi itu disebabkan kesadaran mereka yang begitu mendalam tentang nilai waktu.

Sayangnya, saat ini, kaum Muslimin banyak yang mengabaikan waktu. Masyarakat menghabiskan waktu dengan hal-hal yang kurang bahkan tidak bermanfaat. Suasana malam minggu menunjukkan anak-anak muda berkumpul, menghabiskan waktunya untuk kegiatan hura-hura. Acara tv sering menyuguhkan beribu-ribu orang menghabiskan malam minggu dengan kegiatan yang tidak bermanfaat. Mungkin hampir setiap anak di Indonesia saat ini pernah bermain game, baik itu via handphone, warnet game online ataupun sarana lainnya. Hampir setiap remaja saat ini menghabiskan waktunya dengan jejaring sosial seperti facebook, twitter, chatting, dan sebagainya. Hampir setiap pemuda menghabiskan waktunya dengan berkumpul-kumpul sambil ngalor-ngidul bersama teman-temannya. Jika kesadaran terhadap waktu, belum apalagi tidak terpatri, tampaknya kebangkitan Islam adalah mustahil untuk diraih.

Leave a Reply