Home Artikel Penjajahan Alam Pikiran Kita dan Sebab-Sebabnya (1)

Penjajahan Alam Pikiran Kita dan Sebab-Sebabnya (1)

1213
0

Oleh: Abul A’la Maududi (Tokoh Islam Pakistan)

Kekuasaan dan keunggulan, kemenangan dan penjajahan itu ada dua macam. Yang pertama adalah penjajahan dalam bentuk maknawi dan moral, sedang yang lain dalam fisik dan politik. Yang pertama muncul lantaran adanya suatu bangsa yang maju dan kuat dalam pemikiran dan konsepsi yang membuat bangsa-bangsa lain mempercayai pemikiran-pemikiran mereka, sehingga konsepnya dapat menguasai hati nurani dan akidahnya mengendalikan kesadaran serta membentuk intelektual bangsa itu. Lalu “peradaban” bangsa yang kuat itupun menjadi peradaban mereka, “ilmunya” menjadi ilmu mereka, “kebenarannya” menjadi kebenaran mereka, dan “kebatilan” yang ditetapkannya pun akan diterima oleh mereka sebagai kebatilan pula.

Sedangkan penjajahan dalam bentuk yang kedua muncul akibat dominasi yang amat kuat dalam aspek materi, sehingga bangsa lain tak mampu memperoleh kebebasan mereka. Dan melalui kekuatan itu, berikut sarana-sarananya yang melimpah, bangsa tersebut secara sempurna atau dalam batas-batas tertentu, menguasai dan mengendalikan bangsa lainnya. Persis seperti hal tersebut, maka kekalahan dan ketundukan pun ada dua macam: Kekalahan dalam alam pemikiran, dan satunya kekalahan dalam politik. Dua bentuk keunggulan seperti yang saya kemukakan di atas sama jelasnya dengan bentuk kekalahan yang saya sebutkan kemudian.

Dua bentuk kekalahan dan keterjajahan itu, terpisah satu sama lain. Keterjajahan secara maknawi tidak selamanya seiring dengan keterjajahan dalam bidang politik, sebagaimana pula keterjajahan dalam aspek materi, tidak selamanya disertai dengan keterjajahan dalam bentuk maknawi. Hanya saja hukum alam membuktikan bahwa setiap bangsa yang dianugerahi Allah kekuatan pemikiran dan intelek, serta maju dalam metodologi kajian, pembuktian dan penemuan, niscaya dapat mengenyam keunggulan di bidang materi pula. Sementara itu, suatu bangsa yang tertinggal dalam persaingan di medan pemikiran dan pendalaman ilmu, niscaya mengalami kemerosotan intelektual dan sekaligus tersuruk-suruk di medan materi.  Dan sepanjang keunggulan itu adalah hasil dari suatu kekuatan, dan kekalahan itu akibat kelemahan, maka bangsa –bangsa –dilhat dari dua segi di atas, yakni maknawi dan meteri –manakala terjerumus ke dalam jurang kelemahan dan “kemiskinan” niscaya merupakan bangsa-bangsa yang paling layak untuk dijajah dan memiliki kemungkinan paling besar untuk ditundukkan. Lantas bangsa-bangsa yang kuat dalam kedua segi itu, maknawi dan materi, niscaya menjadi bangsa yang menguasai alam pemikiran dan sekaligus fisik bangsa yang lemah.

Kaum Muslimin dewasa ini mengalami penjajahan yang berlipat ganda. Ada diantara beberapa tanah air mereka yang terjajah dalam dua bentuk penjajahan tersebut sekaligus, ada pula sebagian yang dijajah secara politis namun selamat dari penjajahan bentuk maknawi. Yang amat memilukan bahwa tidak ada satu negara Islam pun di muka bumi ini yang memiliki kemerdekaan penuh dalam kedua bentuk itu, maknawi dan politik. Sementara itu negara-negara yang secara politis telah memperoleh kebebasan dan kemerdekaan, ternyata tidak sepenuhnya bebas dari perbudakan pemikiran.

Lihatlah betapa madrasah-madrasah, perpustakaan-perpustakaan, rumah-rumah, pasar-pasar, pergaulan dan bahkan diri serta pribadi mereka, ‘seluruhnya’ membuktikan bahwa mereka telah dijajah oleh budaya Barat. Lalu ilmu, etika dan konsepsi Barat itupun menguasai diri mereka. Mereka tidak lagi berfikir kecuali dengan pemikiran Barat, tidak melihat kecuali dengan kacamata Barat dan tidak menempuh satu jalan pun kecuali jalan yang telah dibentangkan oleh Barat bagi mereka.

Tolok ukur bagi kebenaran, kejujuran, perilaku, etika, kemanusiaan dan pendidikan, adalah apa yang telah dipasang oleh Barat di semua bidang tersebut. Kemudian mereka pun mengukur semua apa yang ada dalam tangan mereka, termasuk keimanan dan akidah, dengan tolok ukur Barat serta menyelaraskan alam pikiran, konsepsi, kebudayaan, pendidikan, etika dan perilaku mereka dengan tolok ukur itu pula.

Apa yang mereka anggap telah persis tepat dengan corak Barat itu, mereka terima dengan penuh kepuasan, dan mereka pun bangga  dengan berbagai persoalan mereka yang sekiranya telah sama persis dengan tolok ukur Eropa. Sebaliknya apa yang tidak sesuai dengannya, mereka anggap keliru dan batil, sadar atau tidak sadar. Selanjutnya muncullah penyesalan dalam diri mereka, lalu mereka pun mencoba membebaskan diri dari hal tersebut, dan secara terang-terangan menolaknya.

Sementara itu mereka yang “moderat” bersikap malu-malu, atau secara perlahan-lahan menyesuaikan diri, sampai akhirnya mereka dapat menyesuaikan diri dengan tolok ukur Barat dalam segala bentuknya.

Kalau demikian itulah ihwal bangsa-bangsa kita yang telah merdeka, maka pasti terjadi dan tidak bisa dihindarkan lahirnya perbudakan di kalangan bangsa-bangsa Islam di bawah telapak kaki kekuasaan Barat. Akan halnya sebab-sebab yang melahirkan penjajahan ini, semestinya merupakan topic yang membutuhkan uraian panjang lebar dalam buku khusus, namun disini saya akan mencoba mengemukakannya dalam kalimat-kalimat yang ringkas.

Penindasan dan penjajahan secara maknawi pada hakikatnya dibangun atas usaha yang sungguh-sungguh dan penelitian ilmiah. Setiap bangsa yang mampu memimpin dalam persaingan di bidang itu, niscaya dapat memegang kendali kepemimpinan dunia, dan konsep-konsepsinya dapat menguasai alam pemikiran bangsa lain. Sementara itu bangsa yang tercecer dalam persaingan tersebut, niscaya tidak akan mampu memilih alternatif lain kecuali mengikuti dan taklid pada bangsa lainnya, sebab dalam pemikiran mereka tidak terdapat kekuatan pendobrak yang mampu merebut kendali di medan hati nurani, sehingga ia digempur oleh gelombang pemikiran dan akidah yang kuat yang ditampilkan oleh bangsa-bangsa yang melakukan berbagai telaah dan kajian dengan  sungguh-sungguh, sehingga posisi dirinya dihadapan bangsa yang kuat itu tak lebih hanyalah buih di lautan yang ditampar kesana kemari oleh gelombang-gelombangnya tanpa mampu mempertahankan diri dan menentangnya dengan tegar.

Kaum Muslimin sepanjang mereka maju dalam bidang penelitian dan ijtihad, niscaya bangsa-bangsa lain akan menjadi pengikutnya dan berjalan kea rah manapun yang ia tuju, serta dapat dipastikan bahwa konsepsi Islam akan mengungguli semua dalam bentuk konsepsi manusia. Lantas semua tolok ukur yang ditetapkan oleh Islam dalam kebaikan dan keburukan, kebajikan dan ketidakbajikan, salah dan benar, akan dinilai sebagai tolok ukur oleh semua penghuni bumi ini dalam segi-segi tersebut di atas, baik mereka sadari maupun tidak. Dan berbagai bangsa pun –suka atau tidak suka- selamanya akan terus  membentuk konsepsi dan perilakunya sejalan dengan tolok ukur yang Islamis itu. Namun begitu kaum Muslimin terputus tautannya dengan pemikiran dan penelitian, dan begitu mereka meninggalkan medan pemikiran, kajian dan pendalaman ilmu, serta berpangku tangan dalam upaya mengusai medan ijtihad dan pelahiran ilmu, maka saat itu pula mereka akan terdepak dari posisi kepemimpinan dunia.

Dan tampillah bangsa Barat yang maju dalam bidang ini seraya memanfaatkan apa yang dianugerahkan Allah kepada mereka berupa pemikiran dan kemampuan penalaran, serta penyingkapan rahasia alam semesta ini, dan selanjutnya menggali kekayaan fitri yang tersimpan di perut bumi dan di relung kedalaman lautan. Sebagai akibat yang mesti terjadi, kepemimpinan pun terlepaslah dari tangan mereka dan berpindah ke tangan bangsa-bangsa Barat, kaum Muslimin kemudian dipaksa untuk tunduk kepada kekuasaan mereka, sebagaimana dulu bangsa-bangsa lain pernah tunduk kepada keperkasaan dirinya.

Kaum Muslimin terus menerus mengalami inklinasi dalam posisi-posisi terhormat dan disegani yang telah mereka warisi dari para pendahulu mereka selama empat atau lima abad. Sementara itu bangsa-bangsa Barat di tengah-tengah kemerosotan yang dialami kaum Muslimin itu, dengan gigih dan pantang menyerah terus menggali dan berusaha, sehingga tidak berapa lama, secara mengejutkan telah merampas kendali pimpinan dan dengan cepat menjalar menguasai Timur. Lalu tidak lebih dari seratus tahun mereka telah berhasil menjarah seluruh penjuru dunia. Ketika kaum Muslimin yang lalai dalam kelelapan tidurnya itu membuka mata guna mengetahui apa yang telah terjadi di saat mereka tertidur itu, mereka pun dibuat terperangah dan terkejut luar biasa. Mereka lihat Eropa dan Kristen telah berdiri dengan gagahnya seraya menyandang dua kekuatan sekaligus: kekuatan ilmu pengetahuan dan mesin perang. Dengan dua kekuatan yang dimilikinya, mereka merebut kendali kekuasaan dan kepemimpinan di muka bumi ini. Saat itu muncullah sekelompok kaum Muslimin yang berusaha merebut kembali apa yang telah terlepas dari tangan mereka, serta mencoba menghadang gelombang pasang kemajuan Barat tersebut. Namun mereka tidak memiliki kekuatan apapun, baik ilmu maupun persenjataan, sehingga mereka pun terseok-seok menghadapinya. Sementara itu sebagian besar dari mereka tetap menempuh cara yang sejak awal dijalani oleh orang-orang yang lemah dan hina, yakni manakala ada gelombang pemikiran, prinsip-prinsip dan teori Barat yang dipaksakan melalui kekuatan senjata maupun argumentasi yang dibumbui dengan tipu daya para intelektual bangsa yang memang itu serta merta mereka pun larut dalam paham-paham tersebut  dan meninggalkan kebenaran yang semestinya mereka imani. Akan halnya yang menyangkut medan akidah keagamaan, prinsip-prinsip etika dan peradaban, maka yang tersisa hanyalah berupa keyakinan yang dibangun atas tradisi semata, dan lambat laun tanpa mereka sadari kekayaan terakhir mereka itupun semakin tersapu oleh gelombang dahsyat itu, sehingga setiap yang datang dari Barat itulah yang mereka jadikan tolok ukur bagi kebenaran dan kebaikan.

Bangsa-bangsa yang harus menghadapi serbuan dan paksaan peradaban Barat ini, terbagi dalam tiga kategori: Pertama, adalah bangsa yang sama sekali tidak memiliki peradaban tertentu yang mandiri. Kedua, bangsa yang pada hakikatnya memiliki peradaban mandiri, namun tidak memiliki kekuatan mempertahankan kelestariannya dari serangan peradaban lain yang lebih kuat, dan ketiga adalah bangsa yang memiliki peradaban yang secara prinsipil tidak berbeda jauh dengan peradaban yang sedang berkuasa tersebut. Seluruh bangsa itu, tanpa susah payah dan melalui perlawanan berarti, digilas dan diwarnai oleh peradaban Barat. Kendatipun demikian, ihwal kaum Muslimin tak bisa disamakan dengan ihwal bangsa-bangsa yang disebutkan di atas, sebab mereka itu memiki peradaban yang komplit dan mandiri, dengan dustur yang jelas dan menyeluruh yang mencakup semua aspek kehidupan umat manusia –baik pemikiran maupun praktika kehidupan sehari-hari- yang secara tajam berbeda dari prinsip-prinsip peradaban Barat. Itulah sebabnya, bagaimanapun juga tak dapat dihindari adanya benturan antara kedua bentuk peradaban itu dalam semua aspek dan tingkatnya. Dan pertarungan it uterus berlangsung hingga kini dengan membawa pengaruh buruk dalam semua aspek kehidupan umat Islam, akidah maupun perilaku sehari-hari. *  

(dikutip dari buku Nahnu wa al Hadharah al Gharbiyyah, Penjajahan Peradaban diterjemahkan oleh Afif Mohammad, Pustaka, Bandung 1985).  

Leave a Reply