Home Artikel Menerobos Kebekuan Pengajaran Sejarah Indonesia

Menerobos Kebekuan Pengajaran Sejarah Indonesia

932
0

Sejak tahun 1964, seperti ditulis oleh Darmiasti (Tesis Dept. Sejarah UI, 2002), mulai muncul buku-buku pelajaran sejarah Indonesia dengan pandangan Indonesia-sentris sebagai kritik terhadap buku-buku pelajaran sejarah yang Nederlando-sentris (perspektif Belanda). Pada mulanya, Indonesia-sentris dirumuskan sebagai sejarah kerajaan dan kebudayaan Hindu-Budha di Indonesia. Definisi ini sangat kuat dipengaruhi tulisan-tulisan Muh Yamin seperti 6000 Tahun Sang Saka Merah Putih dan Gadjah Mada: Pahlawan Pemersatu Nusantara yang lebih banyak berisi romantisme dan apologia daripada fakta-fakta sejarah. Definisi itu segera menuai banyak kritik setelah muncul sarjana-sarjana sejarah yang terdidik secara akademik di berbagai perguruan tinggi.

Namun sayang, perubahan yang terjadi pada materi pelajaran sejarah malah bergeser ke arah yang lebih tidak menguntungkan. Di bawah supervisi Nugroho Notosusanto dan sejarawan Orde Baru lainnya, pengajaran sejarah  dibawa ke wilayah yang lebih mengerikan, yaitu melegitimasi Orde Baru dan digunakan untuk  menyingkirkan musuh-musuh mereka yang disebut Eka (ekstrim kanan) dan Eki (ekstrim kiri). “Eka” adalah kelompok Islam yang kritis terhadap Orde Baru yang direpresentasikan oleh eks. Masyumi, sementara “Eki” adalah eks. PKI (Partai Komunis Indonesia) dan PSI (Partai Sosialis Indonesia). Darmiasti menengarai bahwa sampai tahun 1984, buku-buku sejarah yang lahir tidak lepas dari kepentingan politik penguasa saat itu. Sejarah diajarkan di sekolah-sekolah justru untuk melanggengkan kekuasaan (baca: Orde Baru), bukan digunakan secara serius untuk memperkokoh fondasi kebangsaan. Gejala seperti itu terus-menerus ditemukan sampai dirumuskan kurikulum tahun 1994 seperti yang dibuktikan oleh Umasih (Tesis Dept. Sejarah UI, 2000).

Alih-alih pengajaran sejarah diharapkan mampu memperkokoh persatuan bangsa, namun pada kenyataannya justru menciptakan permusuhan terhadap Negara  dari kedua kelompok yang dianggap “musuh” tersebut. Pada saat yang sama, ideologi negara tiba-tiba semakin dalam bergeser ke arah sekularisme. Akibatnya, Islam yang menjadi anutan mayoritas warga negara, dianggap tidak memiliki pengaruh sama sekali dalam sejarah Indonesia. Lebih ekstrim lagi,  Islam secara halus dicitrakan sebagai ideologi yang mengancam persatuan dan kesatuan Republik ini . Kesan seperti itu  tetap bercokol sampai Era Reformasi bergulir

Sudah puluhan tahun lamanya, sejak tahun 1964,  tidak ada wacana alternatif  dalam pengajaran dan penulisan buku-buku sejarah di negeri ini. Semua hanya berani mengulang-ulang lagu lama,  bahwa sejarah Hindu-Budha telah mempersatukan wilayah negeri ini dan  kemerdekaan Indonesia dicapai atas prakarsa kaum nasionalis-sekuler. Tidak ada tempat bagi Islam tapi justru sekularisme menjadi ideologi dominan di dalamnya.
***

Buku yang ditulis oleh Tim Penulis sejarah DDII bekerja sama dengan Program Pascasarjana Pendidikan Islam UIKA Bogor, bertujuan untuk menerobos kebekuan yang selama ini agaknya terus dipelihara oleh pihak-pihak tertentu. Buku ini ingin menyajikan wacana alternatif dalam pengajaran sejarah Indonesia yang menghadapi jalan buntu dalam mendefinisikan makna ke-Indonesia-an bagi warga negaranya, terutama bagi mayoritas umat Muslim di negeri ini.

Buku ini menyajikan hal-hal yang tidak ditemui dalam buku teks pelajaran sejarah yang digunakan di tingkat SMA. Buku ini mencoba menghilangkan stereo-type dalam pengajaran sejarah Indonesia, seperti misalnya tentang asal-usul nenek moyang bangsa Indonesia. Telah mengakar dibenak kita bahwa  bahwa manusia-manusia purba seperti Pitecantrophus Paleojavanicus adalah nenek moyang bangsa Indonesia,  padahal klaim ini terlampau berlebihan bila merujuk pada fakta-fakta dan argumen sejarah yang ditemukan.

Buku ini juga ingin menunjukkan bahwa kebudayaan yang paling berpengaruh kuat di Indonesia bukanlah  kebudayaan Hindu-Budha seperti diklaim oleh banyak penulis sejarah Belanda dan kemudian diabadikan oleh Muh. Yamin dan penulis pelajaran sejarah pada masa-masa berikutnya. Dalam buku ini dibuktikan bahwa Islam memainkan peranan paling penting dalam pembentukan kebudayaan dan peradaban Indonesia semenjak kedatangannya ke negeri ini. Salah satu bukti yang tidak bisa dibantah adalah kenyataan Islam menjadi agama yang dianut mayoritas bangsa ini; tidak seperti Hindu-Budha yang kemudian menciut menjadi minoritas di negeri ini.

Permusuhan terhadap Belanda yang berlebihan dalam pendekatan Indonesia-sentris akhirnya menjadi buah simalakama, terutama ketika harus menceritakan sejarah Kristen di Indonesia yang memang dibiayai dan dibawa oleh penjajah Barat sejak jaman Portugis dan Belanda. Dengan mengatas-namakan nasionalisme dan pluralisme, sejarah Kristen yang dalam pandangan Indonesia-sentris dianggap bagian dari sejarah kelam, dengan sengaja tidak pernah tercantum dalam berbagai buku pelajaran sejarah. Padahal bila ditilik, agama ini merupakan agama  kedua terbanyak setelah Islam. Mengapa sejarah agama Hindu, Budha dan Islam di negeri ini dikisahkan dalam buku teks pelajaran sejarah tetapi tidak demikian dengan sejarah Kristen?  Tema inilah yang secara meyakinkan dimasukkan sebagai bagian dari  buku ini.

Hal lain yang juga ingin diluruskan dengan penulisan buku ini adalah upaya  pengaburan fakta dalam perlawanan terhadap kolonialisme Belanda yang digerakkan oleh tokoh-tokoh Islam, terutama tokoh-tokoh pesantren yang berdiri di belakang para pemimpin pergerakan anti-kolonial saat itu; dikuburnya peran tokoh-tokoh yang tergabung dalam ormas-ormas dan orpol Islam dalam proses pembentukan dan kemerdekaan Indonesia; serta diabaikannya fakta tentang pertarungan ideologi dalam pembentukan Indonesia, termasuk di dalamnya bagaimana tarik-menarik antara Islam dan sekularisme.
***

Buku dengan judul Sejarah Nasional Indonesia Perspektif Baru,  rencananya akan ditulis  sampai  Era Reformasi.  Saat ini,  telah  diterbitkan dua jilid buku teks pelajaran sejarah yang membahas asal-usul bangsa Indonesia sampai berakhirnya kekuasaan kolonial Belanda di Indonesia. Jilid ketiga  yang memuat persoalan krusial dan kontroversial, seperti diantaranya Piagam Jakarta, Proklamasi, Konstituante, DI/TII, PRRI, Orde Baru dan Islam, ditargetkan selesai dalam satu tahun ke depan, sehingga   perspektif  baru yang disajikan dalam buku tersebut  dapat dipahami secara menyeluruh.

Leave a Reply