Home Artikel Makna Kebahagiaan dalam Islam: Kajian Kitab Kimiya’ al-Sa’adah

Makna Kebahagiaan dalam Islam: Kajian Kitab Kimiya’ al-Sa’adah

490
0

Makna Kebahagiaan dalam Islam: Kajian Kitab Kimiya’ al-Sa’adah
Oleh: Henri Shalahuddin

Kitab “Kimiya’ al-Sa’adah merupakan karya Imam al-Ghazali ke 45. Kitab ini beliau tulis dalam bahasa Parsia {كميائي سعادات} dan sudah diterjemahkan kedalam beberapa bahasa, antara lain: Arab, Inggris, Italia, Urdu, dll.

Kimiya’ al-Sa’adah berarti partikel-partikel dalam diri manusia yg di-manage utuk mencapai kebahagian; transmutes base metals into gold. Aspek-aspek kebahagiaan dicapai dengan cara:
i. Mengenal Diri
ii. Mengenal Allah
iii. Mengenal Hakikat Dunia
iv. Mengenal Hakikat Akhirat

Kimia Kebahagiaan tercapai melalui proses takhalli (mengosongkan) dan tahalli (menghiasi), yakni:
a. mendidik jiwa dengan cara menjauhi keburukan dan mensucikannya darinya (mengosongkan diri dari keburukan)
b. menggapai keutamaan dan menghiasi jiwa dgnya (amal kebajikan)

sebagai tips untuk mengenali diri, Imam al-Ghazali mengajak diri kita untuk melakukan monolog sebagai berikut:
i. Anda itu sejenis apa?
ii. Anda ke tempat ini dari mana?
iii. Untuk apa Anda dicipta?
iv. Dengan apa Anda bahagia?
v. Dan karena apa Anda sengsara?
أي شيء أنت؟ ومن أين جئت إلى هذا المكان؟ ولأي شيء خلقت؟ وبأي شيء سعادتك؟ وبأي شيء شقاؤك؟

Partikel-partikel dalam diri manusia dan corak kebahagiaannya:
a- صفات البهائم (Sifat Kebinatangan) berbahagia dengan terpenuhinya kebutuhan makan, minum, tidur dan seks
b- صفات السباع (Sifat binatang buas)  berbahagia karena bisa memukul dan membunuh
c- صفات الشياطين (Sifat iblis)  berbahagia dengan cara melakukan makar, kriminal dan tipu muslihat.
d- صفات الملائكة (Sifat malaikat)  berbahagia karena merasakan indahnya kehadiran Allah dalam hidupnya. Hal ini dicapai dengan mengenali asal usul dan hakekat diri

Mengenali Substansi diri dengan Ilmu
القلب مفتاح لمعرفة الله
Kalbu sanubari itu adalah kunci untuk mengenali Allah.
Barangsiapa yang sudah hilang kemauan untuk mencapai Ilmu, maka orang itu adalah ibarat orang yang habis seleranya untuk memakan makanan yg baik; atau seperti orang yg lebih suka makan tanah daripada makan roti.

Maka inti kebahagiaan hakiki adalah hakekat spiritual yang kekal, keyakinan pada hal-hal mutlak tentang hakikat alam, identitas diri dan tujuan hidup. Kesemuanya itu berawal dari ilmu dan bermuara pd mahabbatullah.

Leave a Reply