Home Artikel “Ibadah Haji Mematahkan Klaim Yahudi”

“Ibadah Haji Mematahkan Klaim Yahudi”

1436
0

Dalam kajian Islam di Masjid Al Hijri, UIKA Bogor pagi ini, Dr Adian Husaini menekankan pentingnya iman di tengah-tengah berkembangnya ideologi syirik saat ini. “Kini dikembangkan di masyarakat tentang tidak pentingnya iman, yang penting orang baik, tidak menyakiii orang lain dan lain-lain. Nabiyullah Ibrahim meneladankan penegakan tauhid di tengah-tengah kaum dan bapaknya yang menganut syirik.”kata Dosen Pascasarjana UIKA ini.

Menurutnya tidak ada satu agama pun di muka bumi ini yang tiap hari membacakan shalawat kepada Nabi Ibrahim. “Islam mengajarkan tiap kali shalat membaca shalawat kepada Nabi Muhammad saw dan Nabi Ibrahim as,”terangnya.

Juga, menurutnya, ibadah haji saat ini yang sedikitnya diikuti oleh empat juta orang, adalah meneladani jejak perjuangan Nabi Ibrahim dan istrinya Hajar. “Padahal Hajar ini dianggap oleh budak oleh Yahudi. Maka mereka menyatakan bahwa Islam ini adalah Hagarism. Agama yang dikembangkan oleh budak,”tegasnya.

Surah Ali Imran 67, menerangkan bahwa jelas-jelas Ibrahim bukanlah Yahudi dan Nashrani, tapi beliau adalah seorang yang hanif/Muslim dan bukan termasuk orang-orang Musyrik.

Kaum Yahudi memang menganggap bahwa Ibrahim adalah ‘bapak moyang’ mereka. Mereka menyatakan bahwa ‘Kami adalah keturunan yang sah dari anak Ibrahim Ishaq’. Sedangkan Hajar dianggap sebagai I ’istri yang tidak sah’ atau budak. Agama Yahudi menempatkan Hajar dan Ismail pada tempat yang hina, seperti keledai liar.

Jadi Yahudi menganggap posisi Hajar, istri Nabi Ibrahim dengan sangat hina. Kini umat Islam sedunia justru berhaji menapaktilasi perjuangan Hajar untuk mencarikan Ismail air, dari Shafa ke Marwa yang jaraknya 700 meter, tujuh kali. “Islam itu betul-betul mematahkan klaim Yahudi,”tegas Adian Ketua Program Pendidikan Islam Pascasarjana UIKA ini.

 Al Quran juga satu-satunya kitab yang menelanjangi Yahudi. Yahudi disifatkan kaum  yang suka mengubah-ubah kitabnya sendiri, kaum yang rasis, kaum yang membungkus kebenaran dengan kebatilan dan seterusnya.  Sejarah dunia sendiri menyebutkan bahwa bangsa Yahudi ini seperti kuman, selalu mengganggu bangsa lain. Karena itu tokoh Yahudi Theodore Hertzl tahun 1895, menulis buku ‘Negara Yahudi’ agar Yahudi mempunyai Negara sendiri sehingga selamat dari gangguan bangsa lain.

Tentang rasisme Yahudi ini, Dr Israel Sahakseorang cendekiawan Yahudi menulis buku ‘Jewish History, Jewish Religion’. Di buku itu ia cerita, pernah suatu saat jalan-jalan di kota Yerusalem. Kemudian ada orang mengalami kecelakaan lalu lintas dan butuh pertolongan. Dr Sahak kemudian menghubungi seorang Yahudi dan meminjam telponnya untuk minta pertolongan kepada petugas terkait. Tapi orang Yahudi itu menolak meminjami telponnya, karena yang kecelakaan bukan orang Yahudi. Hingga orang yang mengalami kecelakaan itu meninggal dunia. Kemudian Dr Sahak membawa kasus ini ke ‘Dewan Rabbi Yahudi’ mengajukan kasusnya itu. Tapi apa jawaban Dewan Rabbi Yahudi? Justru Dewan itu membenarkan tindakan orang Yahudi itu.

Memang ajaran Talmud Yahudi ini juga sangat rasis. Disebutkan di Talmud misalnya, bahwa lebih baik memberi makan anjing daripada memberi makan kepada orang non Yahudi.

Bila Islam sangat keras kepada sikap Yahudin ini, bagaimana sikap Kristen fundamentalis? Menurut Dr Adian, Kristen fundamentalis mengalami dilema. Mereka mengecam Yahudi, karena yang membunuh Yesus adalah kaum Yahudi. Tapi mereka juga mendukung Israel, karena syaratnya Yesus turun lagi bila orang-orang Palestina terusir semua dari Israel.

Di akhir kajian, Dr Adian menegaskan kembali pentingnya penegakan tauhid di era saat ini. Menghargai orang karena keimanan dan kesholehannya, seperti yang dicontohkan Nabi Ibrahim as. Dan umat Islam tidak perlu takut untuk menegakkan tauhid secara ‘radikal’. Yakni dengan berpegang teguh pada Al Qur’an dan Sunnah. Karena orang-orang Kristen pun kini banyak menulis buku tentang pentingnya sifat radikal atau ekstrim dalam memegang kepercayaan itu. “Jadi di tengah-tengah deradikalisasi, orang-orang Kristen justru banyak menulis buku tentang pentingnya memegang keimanan dengan radikal,”tutur Dr Adian sambil menunjukkan contoh-contoh buku Kristen itu.* (nh).

Leave a Reply