Home Serba Serbi Dari Tradisi Ilmu ke Peradaban Islam (Catatan untuk 13 Tahun INSISTS)

Dari Tradisi Ilmu ke Peradaban Islam (Catatan untuk 13 Tahun INSISTS)

53
2

CIMG1338

Mengapa tradisi ilmu? Tidak ada satu peradaban yang bangkit tanpa didahului oleh bangkitnya tradisi ilmu. Tanpa kecuali, peradaban Islam. Rasulullah saw telah memberikan teladan yang luar biasa dalam hal ini. Di tengah masyarakat jahiliah gurun pasir, Rasulullah saw berhasil mewujudkan sebuah masyarakat yang sangat tinggi tradisi ilmunya. Para sahabat Nabi saw dikenal sebagai orang-orang yang “gila ilmu”.

Bukan hanya itu, tradisi ilmu Islam yang dibangun oleh Nabi Muhammad saw telah melahirkan manusia-manusia unggulan dalam satu ”generasi sahaby” yang belum mampu dicapai oleh peradaban manapun, hingga kini. Rasulullah saw berhasil mengubah ”masyarakat ummiy” yang hidup dalam tradisi lisan menjadi masyarakat yang cinta ilmu dan tradisi tulis. Tradisi ilmu Islam saat itu pun mampu mengubah masyarakat yang gila minuman keras menjadi masyarakat yang bersih dari ”tradisi teler” hanya dalam tempo beberapa tahun saja.

Memang, peradaban yang dibangun oleh Islam adalah peradaban tauhid, yang menyatukan unsur dunia dan akhirat, aspek jiwa dan raga. Islam bukan agama yang menganjurkan manusia untuk lari dari dunia demi tujuan mendekat kepada Tuhan. Nabi memerintahkan umatnya bekerja keras untuk menaklukkan dunia dan meletakkan dunia dalam genggamannya, bukan dalam hatinya. Nabi melarang keras sahabatnya yang berniat menjauhi wanita dan tidak menikah selamanya, agar bisa fokus kepada ibadah.

Berbeda dengan jalan pikiran banyak tokoh agama pada zaman itu, Nabi Muhammad saw justru mendeklarasikan: ”Nikah adalah sunnahku, dan siapa yang benci pada sunnahku, maka dia tidak termasuk golonganku.” Meskipun begitu, Rasulullah saw juga memperingatkan dengan keras: ”Jika umatku sudah mengagungkan dunia, maka akan dicabut kehebatan Islam dari mereka.”

Inilah peradaban Islam: bukan peradaban yang memuja materi, tetapi bukan pula peradaban yang meninggalkan materi. Pada titik inilah, tradisi ilmu dalam Islam berbeda dengan tradisi ilmu dalam masyarakat Barat yang berusaha membuang agama dalam kehidupan mereka. Dalam tradisi keilmuan Islam, ilmuwan yang zalim dan jahat harus dikeluarkan dari daftar ulama. Dia masuk kategori fasik dan ucapannya pantas diragukan kebenarannya. Ilmu harus menyatu dengan amal. Inilah yang ditunjukkan oleh Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, (radhiyallahu ’anhum), Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafii, Imam Ahmad, dan sebagainya. Imam Abu Hanifah, misalnya, lebih memilih dicambuk setiap hari, ketimbang menerima jabatan Qadhi negara.

Tradisi ilmu dalam Islam ini berbeda dengan tradisi ilmu dalam masyarakat Yunani, yang merupakan salah satu unsur penting peradaban Barat. Dalam bukunya, Budaya Ilmu (Satu Penjelasan) (2003), Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud, guru besar pendidikan dan pemikiran Islam dari Universitas Islam Internasional Malaysia, mencatat kisah Demonsthenes, seorang filosof Yunani, yang mengungkap pandangan kaum cendekiawan yang pintar menjustifikasi amalan bejat: “Kami mempunyai institusi pelacuran kelas tinggi (courtesans) untuk keseronokan (keindahan. Pen.), gundik untuk kesihatan harian tubuh badan, dan istri untuk melahirkan zuriat halal dan untuk menjadi penjaga rumah yang dipercayai.”

Karena itu, tradisi ilmu yang dibangun Islam tidaklah sama dengan tradisi ilmu yang dibangun dalam peradaban sekular. Menurut Prof. Naquib al-Attas, pendiri ISTAC, justru konsep ilmu sekular Barat adalah sumber kerusakan terbesar bagi umat manusia saat ini. Karena itu, dalam Konferensi Pendidikan Islam di Mekkah, 1977, Al-Attas menggulirkan makalah berjudul ”The Dewesternization of Knowledge.” Dan langkah awal diajukannya untuk membangun peradaban Islam adalah “Islamisasi Ilmu.”

Untuk membangun peradaban Islam, menurut al-Attas, mau tidak mau harus dilakukan melalui proses pendidikan, yang disebutnya sebagai “ta’dib”. Tujuan utamanya, membentuk manusia yang beradab, manusia yang mempunyai adab. Adab adalah disiplin rohani, akli, dan jasmani yang memungkinkan seseorang dan masyarakat mengenal dan meletakkan segala sesuatu pada tempatnya dengan benar dan wajar, sehingga menimbulkan keharmonisan dan keadilan dalam diri, masyarakat, dan lingkungannya. Hasil tertinggi dari adab ialah mengenal Allah SWT dan ‘meletakkan’-Nya di tempat-Nya yang wajar dengan melakukan ibadah dan amal shaleh pada tahap ihsan. Jika konsep adab ini diterapkan dalam masyarakat, maka akan terbentuklah satu peradaban yang dalam bahasa Melayu disebut ‘tamadun’, yang berbasiskan pada ‘ad-din’. Madinah adalah kota dimana ”ad-Din” diaplikasikan.

Seorang dapat menjadi manusia beradab jika memiliki ilmu (knowledge) yang benar. Karena itulah, suatu pendidikan Islam pasti akan gagal mewujudkan tujuannya jika dibangun diatas konsep ilmu yang salah: yakni ilmu yang tidak mengantarkan seseorang kepada ketaqwaan dan kebahagiaan. Untuk itulah INSISTS berusaha turut andil dalam sebuah proses pembangunan peradaban Islam, dengan memulai menghidupkan tradisi ilmu Islam dalam masyarakat Islam.

Peradaban Islam memang peradaban terbuka, siap menerima unsur-unsur asing yang tidak bertentangan dengan pandangan hidup Islam (Islamic worldview). Tetapi, INSISTS yakin, peradaban Islam hanya bisa berdiri tegak di atas konsep pemikiran Islam (Islamic thought), dan diwujudkan oleh kaum Muslim sendiri.

Kiprah 13 Tahun

Cerita INSISTS bermula 13 tahun lalu, Muharram 1424 H (tahun 2003), di Desa Segambut, Kuala Lumpur, Malaysia. Berawal dari diskusi-diskusi kecil para mahasiswa ISTAC asal Indonesia dan sejumlah dosen di sana. Ada Hamid Fahmy Zarkasyi, kyai Pesantren Gontor yang lulus doktor dari ISTAC. Ada Adnin Armas, mahasiswa ISTAC yang ketika itu baru saja menamatkan diskusinya dengan para aktivis liberal di Indonesia. Duskusi itu kemudian dibukukan dengan judul ”Pengaruh Kristen-Orientalis terhadap Pemikiran Islam Liberal di Indonesia”. Ada Dr. Ugi Suharto, pakar Ekonomi Islam alumnus ISTAC yang juga mengajar mata kuliah sejarah dan metodologi hadits di ISTAC. Ketika itu, Dr. Ugi juga baru saja merampungkan diskusi via email soal ”Al-Quran Edisi Kritis” dengan aktivis liberal, Taufik Adnan Amal. Dr. Ugi Suharto kini masih menjadi dosen di sebuah Lembaga Pendidikan Tinggi di Bahrain. Ada lagi Syamsuddin Arif, yang juga sudah lulus doktor dari ISTAC dan kini menjadi dosen di Casis-UTM. Ada lagi Dr. Anis Malik Thoha, alumnus Universitas Islam Internasional Islamabad Pakistan yang pakar di bidang Pluralisme Agama dan ketika itu menjabat sebagai Rois Syuriah NU Malaysia. Kini, Dr. Anis dipercaya menjadi Rektor Universitas Islam Sultan Agung, Semarang. Ada juga Dr. Nirwan Syafrin, yang kini menjabat sebagai Wakil Rektor IV di Universitas Ibn Khaldun Bogor. Juga, ada Dr. Arifin Ismail, yang kini memimpin sebuah lembaga penelitian pemikiran Islam di Medan.

Sebelum berangkat ke Malaysia, Januari 2003, untuk menempuh program PhD di ISTAC, saya sudah mendapat tawaran untuk meneruskan studi ke sebuah universitas di Barat. Tiba-tiba, tentu dengan kehendak Allah, suatu ketika di tahun 2002, Wisnu Pramudya, pemimpin Majalah Hidayatullah, membawa seorang tamu bernama Hamid Fahmy Zarkasyi ke rumah saya. Setelah berbincang tentang berbagai hal, Hamid Fahmy menyarankan agar saya tidak perlu melanjutkan kuliah ke Barat, tetapi harus melanjutkan kuliah ke ISTAC. Beliau sendiri ketika itu sedang menyelesaikan studi doktoralnya di ISTAC, setelah menamatkan pendidikan magisternya di Pakistan dan Birmingham, Inggris. Beliau meminta saya segera ke Malaysia.

Permintaan itu saya penuhi. Gus Hamid – begitu putra pendiri Pesantren Gontor itu biasa dipanggil – menjemput saya langsung di bandara KLIA. Dari sana saya dibawa ke kampus ISTAC, diajak berkeliling melihat arsitektur bangunan kampus yang sangat indah, termasuk melihat-lihat koleksi perpustakaannya yang sangat melimpah. Kmeudian, saya diajak berjumpa dengan Prof. Wan Mohd Nor, wakil Direktur ISTAC. Ketika itu, Prof. Wah Mohd Nor menanyakan maksud saya ke ISTAC. Tanpa berpikir panjang, saya menyatakan keinginan saya untuk melanjutkan kuliah di ISTAC. Alhamdulillah, beliau pun langsung menerima. Saya melihat, sejumlah buku saya, sudah ada di meja beliau. Mungkin teman-teman di ISTAC sudah memberikan buku-buku itu kepada beliau.

Sebelum ke ISTAC itu, saya sudah menulis buku ”Islam Liberal: Sejarah, Konsepsi, Penyimpangan dan Jawabannya” (2002). Ketika menulis buku ini, fokus saya masih sebatas pada kritik terhadap Jaringan Islam Liberal (JIL). Setelah banyak berdiskusi di Kuala Lumpur, saya melihat fenomena yang jauh lebih ”mengerikan”. Dalam peta liberalisasi, JIL ternyata hanyalah sebuah lembaga pengecer ide-ide liberal. Di inilah, saya menemukan banyak gagasan dan suasana baru dalam pengkajian Islam. Banyak gagasan menarik yang belum pernah saya dengar sebelumnya.

Perjalanan saya ke ISTAC itu pun sangat tidak mudah. Sebelum berangkat, saya mendapat kabar dari Gus Hamid, bahwa ISTAC terkena musibah. Kampus itu tidak lagi mandiri, tetapi sudah dilebur ke IIUM. Prof. Al-Attas diberhentikan, dan Prof. Wan Mohd Nor sudah tidak aktif lagi di ISTAC. Karena itu, berbagai janji fasilitas dan beasiswa dari Prof. Wan sudah tidak dapat diharapkan lagi. Meskipun begitu, Gus Hamid tetap menyarankan saya, agar berangkat juga memenuhi offer letter dari ISTAC.

Dan, bismillah, saya pun berangkat ke Kuala Lumpur, meninggalkan satu istri dan lima anak di Jakarta, untuk waktu empat bulan pertama. Alhamdulillah, atas bantuan berbagai pihak, saya bisa menyelesaikan studi dengan baik, dan di tahun 2009 lulus ujian disertasi saya berjudul Exclusivism and Evangelism in the Second Vatican Council: a Critical Reading in the light of ad gentes and nostra aetate. Disertasi itu telah diterbitkan IIUM Press, dengan judul yang sama.

Yang menarik bagi saya untuk ke ISTAC, bukan sekedar bangunan dan perpustakaan, tetapi karena pemikiran Prof. Naquib al-Attas dan Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud yang sangat gigih dan konseptual dalam mengembangkan gagasan Islamisasi Ilmu untuk kejayaan umat Islam. Meskipun tidak lagi secara formal aktif di ISTAC, Prof. Wan tetap menyediakan diri untuk menjadi nara sumber diskusi dan konsultasi kami di ISTAC ketika itu. Saya sendiri bisa dikatakan sering mendatangi kediaman beliau di Subang Jaya yang berjarak sekitar 20 km dari Segambut. Yang cukup rajin mengantar saya dengan sepeda motor adalah Saudara Haris Susmana, alumnus Gontor yang sedang menyelesaikan studi masternya di Universiti Malaya. Bahkan, Prof. Wan masih mencarikan beasiswa untuk saya secara pribadi dari kolega beliau. Janji beliau, bahwa saya bisa menimba ilmu secara gratis di ISTAC, masih beliau perjuangkan sampai saya dan beberapa pendiri INSISTS dapat mengambil ijazah di IIUM.

Dari Kuala Lumpur itulah, kami mulai mencoba memetakan masalah pemikiran Islam di Indonesia dan berusaha mencarikan solusinya secara mendasar. Maka, kemudian, teman-teman sepakat untuk mulai menyebarkan pemikiran-pemikiran hasil diskusi terbatas di Kuala Lumpur. Berpikir besar, berbuatlah dari yang kecil! Sebagai mahasiswa yang hidupnya serba pas-pasan mulailah meluncurkan buletin INSISTS. Buletin dicetak hanya sekitar 150 eksemplar, dengan tebal 10 halaman. Uangnya urunan. Edisi perdana (Maret 2003/Muharram 1424 H) menurunkan tulisan Hamid Fahmy Zarkasyi berjudul ”Cengkeraman Barat dalam Pemikiran Islam”. Buletin ini kemudian diedarkan ke Indonesia. Infaq: Rp 2000. Edisi kedua (April 2003/Shafar 1424 H) menurunkan tulisan Syamsuddin Arif berjudul ”Jejak Kristen dalam Islamic Studies”. Sementara itu, diskusi dua mingguan untuk para mahasiswa di Kuala Lumpur, jalan terus. Yang presentasi makalah, gantian.

Suatu saat, datanglah Pak Edi Setiawan, pemimpin penerbitan Khairul Bayan ke Kuala Lumpur. Kami ajak dia berkeliling kampus ISTAC, khususnya melihat-melihat perpustakaannya. Ketika itu terucap dari Pak Edi kalimat, ”Pantas kampus ini dibekukan.” Katanya, jika ISTAC dibiarkan berkembang, bukan tidak mungkin akan menjadi tantangan serius bagi hegemoni peradaban Barat dalam bidang keilmuan.

Memang, ISTAC dirancang oleh Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas untuk mencetak sarjana-sarjana Muslim yang tidak silau dengan peradaban Barat dan mampu menjawab tantangan keilmuan yang ditimbulkan oleh peradaban Barat. Untuk itu, al-Attas membangun kampus yang megah, indah, dengan perpustakaan kelas dunia. Bagi al-Attas, tantangan terberat yang dihadapi umat Islam – bahkan umat manusia – saat ini adalah hegemoni peradaban Barat, khususnya dalam bidang keilmuan. Karena itulah, sejak puluhan tahun al-Attas menjelaskan bahaya peradaban sekular Barat dan bagaimana umat Islam harus menghadapinya secara intelektual.

Setelah melihat-lihat ISTAC dan berdiskusi intensif dengan teman-teman INSISTS, Pak Edi mendesak agar teman-teman INSISTS segera melakukan langkah yang nyata. Begitu balik ke Indonesia, Pak Edi kirim SMS, agar segera dibuatkan langkah nyata untuk melanjutkan misi INSISTS di Indonesia. ”Jika nunggu kalian pulang ke Indonesia untuk berbuat, sudah jadi apa Indonesia?” kata Pak Edi ketika itu.

Setelah diskusi berulang kali, diputuskanlah untuk menerbitkan majalah ISLAMIA. Naskah dan keredaksian disuplai oleh INSISTS. Seluruh redaksi bekerja secara sukarela. Urusan penerbitan dan pemasaran diserahkan kepada ahlinya. ISLAMIA sebenarnya sebuah jurnal ilmiah dalam bidang pemikiran Islam, yang diterbitkan dalam format majalah, untuk memudahkan pemasaran. Edisi pertama ISLAMIA langsung menggebrak dunia pemikiran Islam di Indonesia dengan mengangkat tema ”Tafsir versus Hermeneutika”. Melalui majalah ini, INSISTS mengeluarkan sikapnya yang jelas dan tegas: menolak penggunaan metode hermeneutika untuk penafsiran al-Quran.

Kajian tentang hermeneutika di ISTAC sudah dilakukan sangat intensif. Sejumlah profesor didatangkan dari berbagai negara untuk mengajar soal hermeneutika dan tafsir. Prof. Al-Attas adalah ilmuwan Muslim kontemporer yang secara tegas membedakan antara Tafsir dan hermeneutika. Prof. Wan Mohd Nor, wakil al-Attas di ISTAC, dalam salah satu bukunya, menulis bahwa hermeneutika adalah gelombang ganas yang memukul pantai pemikiran keagamaan Islam di seluruh dunia. Hermeneutika adalah cara baru dalam memahami Kitab Suci al-Quran yang diambil dari kaedah dan pemikiran Barat. Dalam masalah hermeneutika ini, Prof. Wan bahkan tidak segan-segan untuk memberikan kritik terhadap gurunya sendiri di Chicago University, yakni Fazlur Rahman, meskipun tanpa mengurangi rasa hormatnya terhadap sumbangan Fazlur Rahman dalam aspek-aspek lain di bidang pemikiran Islam. Prof. Wan menekankan, bahwa Islam sudah mempunyai Ilmu Tafsir yang berbeda dengan hermeneutika. Secara terperinci, dijelaskan, bagaimana perbedaan antara Ilmu Tafsir al-Quran dengan tradisi hermeneutika yang berkembang dalam masyarakat Yunani, India, Yahudi, Kristen dan Barat modern.

Seperti diketahui, hermeneutika kini sudah menjadi mata kuliah wajib di sejumlah perguruan tinggi Islam di Indonesia. Dalam berbagai workshop yang dilakukan, INSISTS kadang kala harus terlibat dalam perdebatan hangat dengan dosen-dosen hermeneutika. Dan hingga kini, INSISTS sering dipetakan sebagai pihak yang aktif menentang penggunaan hermeneutika untuk penafsiran al-Quran.

Sejak didirikan, INSISTS telah melaksanakan ratusan kali seminar, workshop, pelatihan, dalam bidang pemikiran Islam, untuk para dosen, mahasiswa, pimpinan pesantren, kalangan profesional, dan sebagainya. Ribuan orang telah mengikuti waorkshop-workshop INSISTS di berbagai belahan dunia (Indonesia, Malaysia, Mesir, Saudi). Kini, INSISTS masih menjalin kerjasama dengan sejumlah universitas untuk program pelatihan pemikiran Islam bagi para dosen dan mahasiswa. Para peneliti INSISTS juga mengembangkan mata kuliah dan kursus-kursus Islamic Worldview. Mata kuliah ini telah diajarkan di sejumlah program pasca sarjana studi Islam, baik di pasca sarjana Pusat Studi Timur Tengah dan Islam-Universitas Indonesia (PSTTI), Universitas Ibn Khaldun Bogor, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Universitas Islam az-Zahra, Institut Studi Islam Darussalam Gontor, dan sebagainya.

Secara personal, para peneliti INSISTS terus berkiprah dalam dunia pemikiran, baik melalui penulisan buku dan artikel, aktivitas ceramah, mengajar, diskusi, seminar, dan sebagainya. Di bidang penulisan, sejumlah buku karya peneliti INSISTS juga telah meraih prestasi penting. Buku Wajah Peradaban Barat dan Tren Pluralisme Agama mendapat penghargaan sebagai buku terbaik dalam Islamic Book Fair tahun 2006 dan 2007. Adnin Armas telah menulis sebuah buku yang sangat penting dalam studi al-Quran, Metode Bibel dalam Studi al-Quran: Kajian Kritis. Henri Shalahuddin, peneliti INSISTS yang lain, juga secara khusus memberikan kritik terhadap pemikiran Nasr Hamid Abu Zaid, melalui bukunya, ”al-Quran Dihujat”. Kini, sudah puluhan buku yang diterbitkan oleh INSISTS.

Sejak 2011, INSISTS juga telah menjalin kerjasama dengan Harian Republika untuk penerbitan Jurnal Pemikiran Islam, Islamia-Republika. Jurnal 2-4 halaman ini terbit pada Hari Kamis, pekan ketiga, setiap bulan. Melalui jurnal ini, gagasan Islamisasi ilmu bisa lebih kuat bergaung di Indonesia.

Alhamdulillah, di tengah segala kekurangan dan keterbatasan, kami telah menerima begitu banyak sambutan yang sangat patut disyukuri. Banyak mahasiswa yang merasa tercerahkan dan bahkan ada yang mengaku ”kembali ke jalan yang benar” setelah membaca ISLAMIA dan buku-buku para peneliti INSISTS. Meskipun sangat tertatih-tatih terbitnya, ISLAMIA telah menjadi satu bacaan alternatif dalam bidang pemikiran Islam di Indonesia.

Mengapa INSISTS sangat peduli dengan pemikiran-pemikiran sekular-liberal? Sebab, peradaban Islam hanya bisa ditegakkan di atas bangunan pemikiran Islam. Pemikiran-pemikiran sekular-liberal memiliki sifat dan tujuan yang jelas: merusak pemikiran Islam. Tujuan hermeneutika, misalnya, sangatlah jelas, yakni menggusur ilmu tafsir al-Quran, dan digantikan dengan metode penafsiran Barat yang serba relatif. Inilah yang dikatakan oleh al-Attas sebagai proses ”dewesternisasi ilmu”.

Masa depan kita

Dalam penelitian dan pengkajian lebih lanjut, INSISTS melihat tantangan berat yang dihadapi oleh umat Islam, kini dan akan datang. Faktanya, bukan hanya ilmu-ilmu sains dan teknologi yang terhegemoni oleh Barat. Tapi, ilmu-ilmu keislaman pun sudah terhegemoni. Melalui pusat-pusat studi Islam di Barat, para orientalis, dulu dan sekarang, sangat aktif melakukan kajian keislaman dan mendidik sarjana-sarjana Muslim menjadi kader-kader mereka. Banyak yang mampu bersikap kritis terhadap kajian orientalis. Tetatpi, sangat tidak sedikit yang silau dan terpukau dengan institusi studi Islam dan kehebatan para orientalis, sehingga seorang kandidat doktor studi Islam di AS ada yang menyatakan, bahwa studi Islam terbaik di dunia saat ini adalah di Amerika. Kata dia, studi Islam di Barat didasarkan pada ”kajian kritis”, bukan ”berdasar atas keimanan” (based on faith). Karena itulah, katanya, kajian Islam di Barat lebih berkembang ketimbang di dunia Islam. Sebab, kajian mereka bersifat objektif ilmiah.

Maklum, para orientalis yang melakukan studi Islam, sangat jarang yang kemudian beriman dengan yang mereka kaji. Ilmu dipisahkan dari iman dan amal. Inilah yang mereka katakan sebagai model kajian objektif ilmiah. Kaum Muslim yang mengkaji agama-agama lain dalam perspektif al-Quran langsung dimasukkan kotak: subjektif tidak ilmiah. Begitu juga jika seorang mengkaji al-Quran, tetapi sudah mengimani dan mensucikan al-Quran, langsung dimasukkan dalam kategori ”subjektif-ideologis”. Kata mereka, kajian Islam harus netral dari keberpihakan ideologis. Ketika mengkaji al-Quran, mahasiswa diminta ”melepaskan keimanannya” dan mengkaji al-Quran secara objektif. Itu yang dikatakan objektif ilmiah dan kajian kritis. Meskipun, biasanya, sikap kritis itu hanya ditujukan kepada para ulama Islam, bukan kepada ilmuwan-ilmuwan Barat.

Dengan metode seperti ini, maka tidak heran, jika banyak skripsi, tesis, disertasi doktor yang diluluskan, meskipun jelas-jelas salah dan bahkan beberapa diantaranya secara terang-terangan menghujat al-Quran. Inilah proses liberalisasi atau westernisasi ilmu, yang ironisnya, justru terjadi secara massif dalam bidang ilmu-ilmu keagamaan (ulumuddin). Proses ini telah terjadi selama puluhan tahun. Dan kini, semakin berjubel alumni studi Islam dari Barat yang memegang posisi-posisi penting dalam institusi keagamaan, baik di perguruan tinggi Islam maupun di organisasi Islam.

Menghadapi serbuan pemikiran semacam ini, secara umum, tampak kaum Muslim masih belum menyiapkan diri dengan baik. Banyak pakar al-Quran yang berdiam diri dengan masuknya hermeneutika, metode tafsir Bibel Yahudi-Kristen, sebagai mata kuliah wajib di jurusan tafsir-hadits. Padahal, ada diantara mereka yang berteriak lantang menolak kedatangan delegasi parlemen Israel ke Indonesia. Banyak dosen dan pakar yang mendiamkan saja buku-buku studi Islam yang isinya merusak pemikiran mahasiswa, dalam berbagai bidang keilmuan.

Lihatlah, sebuah fenomena yang sudah puluhan tahun dipandang sebagai hal biasa oleh umat Islam. Hampir di semua universitas yang membawa label Islam, fakultas yang paling tidak diminati adalah fakultas agama Islam. Anak-anak pintar jarang yang mau terjun ke bidang studi Islam. Mereka lebih memilih bidang kedokteran, teknik, komputer, ekonomi, hukum, dan sebagainya. Dampak dari proses ini sangat fatal. Banyak yang terjun ke bidang-bidang keagamaan adalah yang kapasitas otaknya pas-pasan. Perasaan minder sering menjangkiti mereka. Bisa dipahami, jika kemudian muncul fenomena ”cultural schock” (gegar budaya) saat berhadapan dengan peradaban Barat. Bisa dipahami jika banyak ilmuwan studi Islam yang kemudian menjadi pemuja Barat. Bahkan, bisa ditemukan sejumlah tulisan mereka yang lebih brutal dalam menyerang Islam dibanding kaum orientalis sendiri.

Melihat fenomena ini, INSISTS mengajak berbagai kalangan untuk mulai berpikir serius tentang masa depan studi dan pemikiran Islam di Indonesia. Inilah jantung persoalan umat Islam di Indonesia, yakni problem keilmuan Islam itu sendiri. Jika ilmu-ilmu agama rusak, maka tidak mungkin melakukan proses Islamisasi terhadap ilmu-ilmu lain. Barat sepertinya tahu benar akan nilai strategis studi Islam, sehingga mereka bersedia mengucurkan dana yang sangat besar untuk memberi beasiswa kepada ribuan sarjana Muslim. Tidak sembarangan orang diberi beasiswa untuk studi Islam ke Barat. Organisasi dan lembaga-lembaga Islam pun terus dibuat tergantung hidupnya terhadap lembaga-lembaga donor Barat.

Menghadapi fenomena dan tantangan semacam ini, untuk mencegah semakin banyaknya ulama, tokoh, dan cendekiawan yang tergelincir pemikirannya, harusnya kaum Muslim mampu membuat rencana penyelamatan pemikiran Islam secara serius. Studi dan pemikiran Islam tidak bisa diserahkan begitu saja ke dalam pelukan Barat dan kroninya. Kaum Muslim, khususnya orang-orang yang pintar dan benar, harus berani terjun ke dalam arena perang pemikiran ini.

Pemikiran Islam bukan monopoli dosen dan mahasiswa IAIN/UIN/STAIN. Ke depan, pemikiran Islam harus dikembangkan di UI, ITB, IPB, UGM, Unair, ITS, Undip, dan sebagainya. Di kampus-kampus tersebut harus ditumbuhkan pusat-pusat studi dan pemikiran Islam yang bertaraf internasional. Dari kampus-kampus itu nantinya harus muncul para cendekiawan Muslim yang menguasai khazanah keilmuan Islam dengan baik. Jika kampus-kampus besar di Barat mengembangkan studi Islam, mengapa di Indonesia tidak?

Problemnya, saat ini, nyaris belum ada dosen-dosen di kampus-kampus umum yang menguasai bidang pemikiran Islam dengan baik. Rata-rata dosen-dosen bidang studi umum yang aktif dalam kegiatan Islam tidak menguasai studi Islam secara akademis. Untuk itulah, INSISTS telah melakukan rintisan pengembangan studi Islam di sejumlah kampus dalam bentuk program Pasca Sarjana bidang Pemikiran Islam. Setiap sarjana muslim yang pintar wajib menguasai ilmu-ilmu yang fardhu ain, disamping ilmu fardhu kifayah sesuai dengan bidang keilmuannya.

Alhamdulillah, bekerjasama dengan berbagai kampus dan lembaga dakwah, sejak tahun 2007, para aktivis INSISTS-network telah melahirkan puluhan doktor dan master yang memiliki kepakaran dalam pemikiran Islam dan Islamisasi Sains. Sejumlah doktor yang berlatar belakang pendidikan sains, telah menjadi pakar dalam Islamisasi Ilmu Kontemporer. Bahkan, di UIKA Bogor, telah dibuka Magister Pendidikan Islam, dengan konsentrasi Pendidikan Sains Islam.

Tetapi, di atas semua itu, tradisi ilmu yang harus dibangun dalam Islam, haruslah yang menghasilkan ilmuwan-ilmuwan yang zuhud, yang tidak ”hubbud-dunya”, dan mencintai jihad fi-sabilillah. Dan itu, kata Imam al-Ghazali, harus dibangun di atas landasan niat yang kokoh dalam menuntut ilu, yakni semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah. Niat mencari ilmu harus benar. Jika sejak awal mencari ilmu diniatkan untuk mencari dunia, maka menurut al-Ghazali, itu adalah awal kehancuran agama.

Untuk itu INSISTS sedang berjuang mewujudkan sebuah kampus Islam bertaraf Internasional di Indonesia yang mengaplikasikan konsep keilmuan Islam secara total. Di kampus inilah, diterapkan keilmuan Islam secara integral. Dan di kampus ini pula, para dosen dan mahasiswa bersama-sama mengaplikasikan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Kampus ini harus menjadi pusat studi dan pemikiran Islam internasional, dengan perpustakaan dan dosen-dosen bertaraf internasional. Insyaallah, di sini akan berdatangan para dosen dan mahasiswa dari berbagai negeri Islam. Ketika itu sudah terwujud, kita akan berteriak lantang: ”Tidak perlu lagi mengirim sarjana Muslim untuk belajar Islam pada kaum Yahudi dan Kristen. Cukup belajar di INSISTS!”

Ini bukan mimpi! Sabda Rasulullah saw: ”Ihrish ’alaa maa yanfauka, wa laa ta’jizan, wasta’in billah.” (Bersemangatlah kamu meraih apa yang bermanfaat bagimu, dan jangan sekali-kali merasa lemah, dan mintalah pertolongan kepada Allah). (HR Muslim). Dan kami yakin, kami tidak sendiri. Banyak umat Islam yang memiliki cita-cita yang sama. (@husainiadian).

Oleh : Dr Adian Husaini (Pendiri Insists)

2 COMMENTS

Leave a Reply