Home Berita Belajar Ilmu Logika di INSISTS. Upaya Agar tak Mudah tergelincir “logical fallacy”...

Belajar Ilmu Logika di INSISTS. Upaya Agar tak Mudah tergelincir “logical fallacy” di Kehidupan Sehari-Hari

1216
0

Logika adalah ilmu alat yang membekali kita untuk mengenal pasti universalitas kebenaran yang menjadi ciri yang dimiliki manusia sebagai rational being. Mestinya, jika manusia jujur pada diri sendiri, tak ada lagi percanggahan yang bersifat pokok. Kedisiplinan pada cara berpikir dan bagaimana premis-premis dibangun dan disimpulkan adalah satu “modal” terawal untuk mengenal dan mengakui kebenaran ilahiyah yang tertinggi. Kelas Logika yang Prof ampu adalah salah satu langkah terawal ini. Memerlukan renungan dan telaah mendalam tentu karena memang tidaklah mudah, tetapi juga tidak utopis untuk dipahami karena Logika adalah ilmu berpikir tentang pikiran manusia. Ia adalah ilmu tentang kita sebagai manusia.

Saya adalah mahasiswa Filsafat di suatu kampus di Jakarta dan pernah mengambil kelas Logika Klasik dan derivasinya selama dua semester. Jika dikatakan saya memiliki dasar dalam ilmu Logika Klasik, saya akan katakan dengan cukup percaya diri, “Ya!”. Akan tetapi, mempelajari Logika bersama Prof. Syam memiliki dzauq-nya sendiri. Kekhasan beliau menerangkan per-terma dalam definisi-definisi etimologis dan istilahiy sangat terasa sehingga saya bisa meneroka akar disiplin setiap terma dan aksioma-aksiomanya. Saya kira, bagi yang ingin memulai mempelajari ilmu Logika yang lebih serius, hal ini sangat penting mengingat ada beberapa akar tradisi dan apropriasinya dalam disiplin Logika. Prof. Syam dalam selingan syarahannya, kerap menyebutkan perbedaan dan apropriasi yang dilakukan oleh Ibnu Sina, filsuf abad pertengahan, filsuf modern, dan lain-lain. Saya pribadi sangat tertarik menelusuri yang demikian dan saya belum pernah mendapatkan ini di tempat lain.

Hari ini, kita melihat dengan jelas bahwa wacana populer sungguh sangat meresahkan. Kita kerap menarik makna bahwa kematian kepakaran, sofisme, dan sejenisnya hinggap dan menetap di rumah-rumah kaum muslimin. Beragam faham bid’ah seperti feminisme, pluralisme agama, sosialisme Islam, dan sebagainya bukan barang asing lagi. Diperlukan banyak langkah preventif dan kuratif untuk menyelamatkan aqidah kaum muslimin. Isu penting ini juga berada di antara hiruk-pikuk perdebatan panas mengenai sosial-politik Indonesia yang semakin diminati oleh masyarakat, setidaknya di media sosial. Sebagian mengatakan, kepedulian masyarakat terhadap politik semakin bertumbuh. Mobilisasi massa diakui lebih mudah dilakukan melalui aneka platform yang marak diminati hari ini. Namun, kalau kita mau jeli, kita akan menemukan aneka kegagalan berpikir dan barangkali saya juga termasuk berada di dalamnya. Dalam diskusi Filsafat Barat Kontemporer, banalitas ini diakui sebagai kemajemukan berpikir dan pengakuan terhadap yang liyan untuk bersuara dan setara melawan dominasi-dominasi a la Cartesianism. Logika yang menjadi salah satu akar urat Filsafat Klasik tak diindahkan lagi. Bahkan, matematika yang disinyalir sebagai ilmu pasti (meski saya tidak setuju), kini menemukan pluralitasnya dengan meminjam asumsi hermeneutis khas kontinental. Logika menjadi asing dan usang. Wallahu a’lam bishshawwab.

Semoga Allah memberikan hidayah dan taufiq untuk kaum muslimin. Terima kasih, untuk Prof. Syam atas ilmu yang diberikan. Terima kasih juga untuk Ustadz Syam’un, serta segenap pengurus INSISTS yang sudah menyelenggarakan kelas teramat penting ini dan akan selalu relevan sepanjang zaman. Saya berharap INSISTS juga menyelenggarakan kelas serupa pada kesempatan lainnya dan barangkali juga kelas lanjutannya, seperti Logika dan Tradisi Keilmuan Islam sebagaimana disebut oleh Prof pada pertemuan terakhir. Saya juga menantikan seri kelas Logika Ibnu Sina atau siapa saja yang khas pada ulama kita. -Rani | Depok

Dengan mengikuti Seri Kuliah Logika ini, saya menjadi sadar bahwa kita selaku orang beriman perlu memiliki ketrampilan membuat premis dan menyusun argumentasi dalam kalimat sesuai disiplin ilmu logika, meski “kalimat logika” tidak cukup komunikatif dalam pergaulan umum.

Kami juga diajarkan untuk terampilmembuat kalimat logika (matematis) dari kejadian, bacaan, atau pemahaman yang ada sehingga mampu mengenali hikmah kelemahan dan keunggulan atas kejadian, bacaan atau pemahaman. -Djoko Sudiyono | Sidoarjo

Salah satu hal baru yang kentara bagi saya adalah Prof. Syams memberi banyak sekali latihan di tiap sesi kuliahnya. Ditambah lagi, dari segi bahan ajar, Prof. Syams melibatkan banyak sumber dan rujukan primer dalam kuliah beliau. Sesekali saya mencoba membaca secara verbatim slide yang ditampilkan oleh Prof. Syams (apalagi di bagian bahasa
Yunaninya hehe), ditambah kekhasan pembawaan Prof. Syams yang kadang membuat saya tersenyum-senyum sendiri (bukan karena candaan beliau saja, tapi juga karena contoh-contoh yang beliau sajikan kadang tak kita kira sebelumnya). -Azrul Kiromil | Pontianak

Seri kuliah logika ini unik karena kedalaman materinya. Pembelajaran disusun terstruktur,
mengindahkan proses akademik yang baik (terkait referensi yang digunakan, kepakaran narasumber, etc). Selain itu, a very subjective comment, but the use of multi-language gives my brain an extra dopamine and somehow gives me options to remember things more easily (some concepts/ words are easier to be understood in different languanges). -Nadilah Salma | Tangerang Selatan