Home Artikel Ketika Dunia Kehilangan Makna, Tasawuf Mengetuk Pintu Zaman

Ketika Dunia Kehilangan Makna, Tasawuf Mengetuk Pintu Zaman

212
0

Oleh: Prof. Dr. Nur Hadi Ihsan

Ada zaman ketika manusia memiliki begitu banyak pengetahuan, tetapi semakin sedikit kebijaksanaan. Ada era ketika teknologi melesat cepat, tetapi jiwa tertinggal jauh di belakang. Di situlah kegelisahan modern berakar: bukan pada kekurangan informasi, melainkan pada kehilangan makna. Dunia hari ini penuh dengan jawaban, tetapi miskin arah dan tujuan.

Buku Sufism Reborn: Revitalizing Traditional Wisdom for Contemporary Challenges, lahir dari kegelisahan itu. Ia tidak hadir sebagai nostalgia romantik terhadap masa lalu, juga bukan sebagai pelarian spiritual dari kenyataan modern. Buku ini adalah sebuah undangan: untuk membaca ulang tasawuf sebagai hikmah hidup yang transformatif, bukan sekadar tradisi mistik yang terkurung di ruang zikir dan sejarah.

Bedah buku yang diselenggarakan oleh INSISTS dengan pemateri penulis buku, pada Jumat, 16 Januari 2026, bukan sekadar forum akademik. Ia adalah ruang perjumpaan antara tradisi dan zaman, antara keheningan batin dan kegaduhan modernitas—tempat tasawuf diajak berbicara kembali dengan dunia yang terluka.

Krisis Zaman: Ketika Rasionalitas Menjadi Berhala

Modernitas membanggakan rasio, tetapi sering lupa pada makna. Manusia diukur dengan produktivitas, bukan kedalaman. Keberhasilan ditakar lewat angka, bukan kebijaksanaan. Dalam lanskap seperti ini, krisis spiritual bukan anomali—ia keniscayaan.

Sufism Reborn memulai argumennya dari sini: bahwa krisis terbesar masyarakat modern bukan krisis kecerdasan, melainkan keterputusan manusia dari dimensi makna. Rasionalitas teknokratis yang dominan telah meminggirkan pertanyaan-pertanyaan eksistensial: untuk apa hidup ini dijalani, dan ke mana ia diarahkan?

Tasawuf sering dituduh tidak relevan—terlalu asketik, terlalu personal, bahkan dianggap menjauh dari realitas sosial. Buku ini justru membalik tuduhan itu. Yang tidak relevan bukan tasawufnya, melainkan cara kita membacanya. Ketika tasawuf direduksi menjadi ritual individual tanpa dimensi etis dan sosial, di situlah ia kehilangan daya transformasinya.

Tasawuf sebagai Jalan Transformasi, Bukan Eskapisme

Tesis sentral buku ini sederhana tetapi radikal: tasawuf bersifat transformatif, lintas zaman dan bahkan lintas budaya. Ia bukan sekadar praktik kesalehan personal, melainkan energi perubahan—dari dalam diri menuju tatanan sosial.

Tasawuf, dalam bingkai Sufism Reborn, tidak mengajarkan lari dari dunia, tetapi menghadirkan kesadaran Ilahi di tengah dunia. Ia tidak mematikan rasio, tetapi menuntunnya agar tidak menjadi tiran. Ia tidak menolak modernitas, tetapi menawarinya kompas moral dan spiritual.

Karena itu, buku ini menolak dikotomi klasik: tradisi versus modernitas. Hal yang ditawarkan adalah integrasi, bukan kompromi murahan. Tradisi dijaga esensinya, modernitas diolah bentuknya. Di sinilah tasawuf menemukan relevansinya kembali—bukan sebagai warisan mati, tetapi sebagai living wisdom.

Epistemologi Adab: Ilmu yang Mendidik Jiwa

Salah satu kekuatan utama Sufism Reborn terletak pada kerangka epistemologisnya. Dengan merujuk pada pemikiran Prof. SMN al-Attas, buku ini menempatkan adab sebagai pusat seluruh bangunan ilmu.

Ilmu, dalam perspektif ini, bukan sekadar akumulasi pengetahuan, tetapi proses ta’dīb—pembentukan manusia beradab. Pengetahuan tanpa adab melahirkan kecerdasan yang dingin; adab tanpa pengetahuan melahirkan kesalehan yang rapuh. Tasawuf hadir sebagai jembatan yang menyatukan keduanya.

Melalui integrasi ‘ilm al-ḥuṣūlī (rasional), ‘ilm al-ḥuḍūrī (pengalaman), dan ma‘rifah (pengetahuan spiritual), buku ini menawarkan sistem pengetahuan yang utuh: rasional tetapi tidak kering, spiritual tetapi tidak kabur. Inilah epistemologi yang tidak memecah manusia menjadi fragmen-fragmen.

Dari Jiwa ke Dunia: Mekanisme Transformasi Tasawuf

Tasawuf dalam buku ini tidak berhenti di langit konsep. Ia diturunkan ke bumi praksis. Dari psikologi hingga ekologi, dari pendidikan hingga kesehatan mental, tasawuf dibaca sebagai energi perubahan konkret.

Konsep tazkiyat al-nafs dihubungkan dengan ketahanan psikologis modern. Muraqabah dibaca berdampingan dengan riset pengurangan stres. Futuwwah diterjemahkan menjadi etika sosial dan resolusi konflik. Bahkan kesadaran tauhid dijadikan fondasi etika lingkungan dan keberlanjutan.

Di sinilah tasawuf membuktikan dirinya bukan sekadar jalan sunyi para sufi, tetapi arsitektur peradaban—yang membentuk individu, komunitas, dan institusi secara bersamaan.

Menjaga Ruh, Mengubah Wajah

Buku ini sadar betul akan bahaya terbesar dalam revitalisasi tradisi: kehilangan esensi demi adaptasi, atau membeku demi menjaga kemurnian. Sufism Reborn memilih jalan tengah yang sulit: menjaga ruh, mengubah wajah.

Karena itu, penulis menekankan pentingnya transmisi otentik, kerangka pengembangan yang terstruktur, serta evaluasi yang sistematis. Tasawuf tidak boleh menjadi slogan spiritual, tetapi harus menjadi proses pembentukan manusia yang nyata dan terukur.

Tasawuf yang hidup adalah tasawuf yang berani berdialog dengan sains, psikologi, pendidikan, dan teknologi—tanpa kehilangan pusat tauhidnya.

Penutup: Ketika Tasawuf Menjadi Harapan

Di dunia yang bergerak cepat tanpa sempat bertanya ke mana, Sufism Reborn mengajukan jeda yang bermakna. Ia tidak menawarkan solusi instan, tetapi arah yang jernih. Tidak menjanjikan ketenangan palsu, tetapi perjalanan penyucian yang jujur.

Mungkin inilah makna “reborn” yang sesungguhnya: bukan tasawuf yang lahir kembali, melainkan kesadaran manusia yang terbangun kembali. Bahwa di balik hiruk-pikuk modernitas, masih ada jalan pulang—jalan yang sunyi, tetapi menerangi.

Ketika tasawuf kembali dipahami sebagai hikmah hidup, bukan sekadar warisan masa lalu, ia tidak hanya menyembuhkan individu—tetapi memberi harapan bagi peradaban.

Jakarta, 17 Januari 2026