Home Sosok Dr Anis Malik Thoha: Ahli Pluralisme dari Demak

Dr Anis Malik Thoha: Ahli Pluralisme dari Demak

1635
1

Bicaranya tenang, berlogika tinggi dan terkesan hati-hati.  Ia excellent bila berbicara dalam bahasa Inggris dan Arab sekaligus.  Kemahirannya yang tinggi dalam bahasa ini, smenyebabkan ia diangkat International Islamic University Malaysia, menjadi Direktur IIUM Press.  Selain mengajar berbagai bidang pemikiran Islam, kini ia bertanggungjawab terhadap seluruh penerbitan di IIUM. Mulai dari newsletter, buku, jurnal, makalah dan lain-lain.

Bagi banyak cendekiawan Muslim di Indonesia yang peduli dengan khazanah pemikiran Islam, namanya sudah cukup akrab.  Dr Anis Malik Thoha, lahir di Demak, 31 Desember 1964. Masa kecilnya banyak dilalui di pesantren. Orang tuanya mendidik agama dengan ‘ketat’.  “Saya tidak boleh mendengarkan musik saat itu dan kalau keluar rumah tidak boleh gundulan, harus pakai kopiah,”ujarnya kepada Islamia-Republika.

Ayahnya hanyalah seorang Muslim yang taat dan bekerja sebagai petani biasa.  Di pesantren ia sering ‘kurang sangu’. Tapi kondisi itu justru menyebabkan dirinya terpacu untuk belajar lebih tekun. Di masa remajanya, ia telah menamatkan hafalan seribu bait kaidah bahasa Arab, Alfiyyah Ibnu Malik.

Sejak duduk di Perguruan Islam Mathali’ul Falah, Pati Jawa Tengah, ia sudah mempunyai cita-cita untuk melanjutkan di Universitas Madinah. Ia melihat beberapa gurunya telah pergi ke sana dan kebetulan sekolahnya juga sudah mendapat akreditasi (mu’adalah)  Universitas Islam Madinah.

Niatnyapun kesampaian.  Di Madinah, ia ingin memperdalam lebih jauh bahasa Arab. Ia memilih Fakultas Bahasa Arab.  Tapi ketika tes, ia tak lolos. “Saya dianggap ‘cacat aqidah’ oleh komite muqabalah syakhshiyyah (yang terdiri dari empat dosen senior) yang menguji saya selama kurang-lebih tiga jam. Saya lulus semua pertanyaan, tapi mentok pada pertanyaan tentang masalah aqidah,”kenangnya. Komite Dosen itu akhirnya merekomendasikan dirinya agar masuk ke Fakultas Da’wah dan Ushuluddin. Anis merasa shock dengan keputusan itu.  Fakultas itu bukan cita-citanya.  “Setahun lebih saya down tidak semangat belajar,”tuturnya. Tapi dari situlah justru titik baliknya. Minat keilmuannya tumbuh dan dia kini menyadari Allah SWT Yang Maha Tahu mempunyai rencana lain kepada dirinya.

Di Madinah inilah, Anis memahami makna dari perang pemikiran. “Terus terang, apa yang kemudian dikenal dengan war of ideas inilah yang sejatinya telah menyentak kesadaranku untuk melanjutkan belajar ke jenjang yang lebih tinggi lagi guna mempersiapkan dan membekali diri dengan ‘senjata dan amunisi’ yang diperlukan dalam ‘perang’ ini. Seumur-umur, baru mulai waktu itulah aku baru tahu agamaku, aku baru ngerti apa artinya keberpihaanku pada Islam dan apa yang harus saya lakukan untuk Islam,”ungkapnya.

Lulus dari Madinah (1988), Anis melanjutkan Masternya di Universitas Punjab dan Universitas Islam Internasional Islamabad, Pakistan. Ia mengambil bidang yang selama ini menjadi minatnya. Yaitu Islamic Studies (Punjab) dan Comparative Religion (Islamabad). Tesis Masternya berjudul: Al-Islam wa Tayyar al-Taghrib fi Indonesia, 1971-1991 (Islam dan Arus Pembaratan di Indonesia, 1971-1991),

 Tahun 2001 ia menyelesaikan doktornya di International Islamic University Islamabad dengan disertasi berjudul: “Al-TaÑaddudiyyah al-Diniyyah: Ru’yah Islamiyyah (Pluralisme Agama, Pandangan Islam). Disertasi ini mendapat tiga penghargaan sekaligus: Gold Medal dari International Islamic University Islamabad (2005), Isma’il Al-Faruqi Publications Award dari International Islamic University Malaysia (2006) dan Best Non-Fiction Book Award dari Islamic Book Fair 2007, Jakarta.

Karya disertasinya ini memang diselesaikan dengan penuh perjuangan. Selain ia kerjakan jauh dari anak-istri, ia juga hampir putus asa ketika menyelesaikan tulisan ini.  Kisahnya, ketika ia sudah hampir menyelesaikan draft terakhinya, laptop tuanya basah kuyup kehujanan. Ia panik luar biasa. “Sambil menangis, saya berdoa kepada Allah SWT apa yang terbaik bagi saya. Waktu itu, saya sudah menyiapkan diri untuk menerima keadaan yang terburuk sekalipun, yakni gagal dan angkat koper (pulang). Habis, kalau harus mulai dari awal lagi, rasanya sudah tidak mungkin, karena sudah terlalu lama (2 tahunan) jauh dari anak-istri,” kenangnya dengan mata berkaca-kaca. Allah pun mengabulkan doanya. Setelah sekitar sehari semalam ia mengeringkan laptopnya dengan kipas, akhirnya komputer jinjingnya itu bisa dihidupkan. Itu pun dengan tampilan layar yang tidak jelas. Ia harus memati-hidupkan beberapa kali, sehingga akhirnya file draftnya dapat dibuka dengan sempurna.

Selain sehari-hari mengajar dan pernah mengepalai di Department of Usuluddin and Comparative Religion IIUM,  Anis juga sering diundang menjadi pembicara di berbagai seminar internasional, antara lain di Turki, Kanada, Jepang dan lain-lain.

Ketika ditanyakan kepadanya siapakah guru yang paling berpengaruh kepada dirinya? Laki-laki lima anak ini menyatakan bahwa semua guru-gurunya berpengaruh membentuk kepribadiannya. Ia merasa tanpa bimbingan dan didikan mereka, ia bukanlah apa-apa. “Tapi kalau harus menyebut siapa guru yang paling berpengaruh, maka guru itu adalah kedua orangtuaku. Merekalah yang pertama kali mengajar dan mendidik saya tentang agamaku. Allahumma irhamhuma kama rabbayani shaghira.”

1 COMMENT

Leave a Reply